Covid-19 di Kabupaten Tasik, 7 Meninggal 5 Positif

14763
13

TASIK – Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Tasikmalaya akhirnya membuka data perkembangan kasus Covid-19. Hingga Senin (20/4), mereka mencatat ada tujuh pasien dalam pengawasan (PDP) yang meninggal dunia dan lima pasien positif hasil rapid test.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Tasikmalaya dr Heru Suharto menerangkan lima pasien positif itu merupakan hasil rapid test tetapi belum mendiagnosis bahwa yang bersangkutan positif Covid-19. “Rapid test ini hanya mendiagnosa sebagai screening awal, untuk lebih pastinya kita menunggu hasil lab swab dan itu sudah kita laksanakan,” katanya kepada Radar, Senin (20/4).

Baca juga :Arena Adu Muncang di Mangunreja Tasik Digerebek Polisi, 10 Pejudi Diamankan

Menurut dia, hasil positif rapid test tidak bisa memastikan hasil swab-nya bakal positif. “Rapid test positif dalam arti ada peningkatan reaksi antigen, tidak mendiagnosa Covid-19 sendiri. Untuk diagnosa sendiri yakni hasil lab swab,” ujar Kepala Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk Kabupaten Tasikmalaya ini.

Adapun lima pasien yang positif rapid test tidak semuanya PDP tetapi ada orang dalam pemantauan (ODP). Kelima pasien itu antara lain dua orang asal Kecamatan Padakembang berstatus ODP, seorang asal Bojonggambir, seorang asal Sariwangi dan seorang asal Mangunreja. “Satu orang sudah dilaksanakan swab hasilnya negatif,” katanya.

Selain itu, Heru mengakui bahwa jumlah PDP yang meninggal sebenarnya tujuh orang. Mereka adalah seorang asal Kecamatan Cigalontang, dua orang asal Karangnunggal, seorang dari Jatiwaras, seorang dari Gunungtanjung, seorang asal Sukaratu dan seorang asal Kecamatan Sukahening. “Itu lima orang meninggal tidak disertai penyakit penyerta, sedangkan untuk dua orang lagi dengan penyakit penyerta,” tutur dia.

Loading...

Heru menjelaskan ketujuh PDP itu sudah dites swab. Sebanyak empat orang di antaranya dinyatakan negatif, sedangkan ketiga orang lagi masih menunggu hasil swab. “Mudah-mudahan hasil swab-nya lebih cepat karena harus menunggu 2-10 hari,” kata dia.

Meskipun sudah ada tujuh PDP meninggal dan lima positif rapid test, Heru mengklaim Kabupaten Tasikmalaya masih berada di zona hijau. Namun, pihaknya tidak akan terlena dengan status tersebut, melainkan tetap waspada. Salah satu upaya yang sedang dilakukan adalah memperketat pemantauan para pemudik yang datang dari daerah zona merah ke Kabupaten Tasikmalaya. “Bahkan kami menganjurkan (para pemudik, Red.) untuk tetap melakukan isolasi diri di rumahnya masing-masing selam 14 hari,” ucap dia.

Gugus Tugas akan terus melakukan pencegahan lebih intens. Apalagi akan menghadapi bulan puasa sehingga akan banyak orang yang melaksanakan mudik. “Pemantauan akan kami tingkatkan,” katanya.

Sementara itu, Bupati Tasikmalaya Ade Sugianto menyatakan meskipun sudah ada lima positif rapid test tetapi belum terkonfirmasi positif Covid-19. Kelima pasien itu hanya menunjukkan kenaikan antibodi. “Itu belum berarti positif Covid-19 tetapi baru positif rapid test,” katanya saat menerima bantuan penanggulangan virus corona di Gedung Bupati, kemarin.

Baca juga : 2,5 M untuk Pengadaan Alat Studio di Bagian Umum Pemkab Tasik Dinilak tak Rasional

Dia berharap kelima pasien positif rapid test itu tidak betul-betul positif Covid-19. Mereka semua akan dites lagi dengan swab test. “Mudah-mudahan saja hasilnya negatif,” kata Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Tasikmalaya ini.

Bupati mengimbau masyarakat untuk tetap mewaspadai penyebaran virus corona walaupun Kabupaten Tasikmalaya masih berstatus zona hijau. “Ke depannya pun akan terus kami lakukan pencegahan dan penanganan. Terutama dalam penanganan dampak dari virus corona ini,” ujar dia. (ujg)

Loading...
loading...

13 KOMENTAR

  1. Semoga tim tanggap darurat benar bear tanggap dalam menangani pandemi ini terutana perangkat desa dan tenaga puskesmas rt/rw untuk tindak nyata’y. Kab. Tasik merupakan daerah yang hampir kebanyakan penduduknya merantau ke zona merah. Saya berharap sosialisasi ke daerah daerah terpencil lebih ditingkatkan karena kebanyakan yg merantau ke zona merah itu dari daerah kampung. Kini mereka sudah mulai pulang tapi, belum ada tanggapan dari desa setempat atau dari puskesmas setempat saya harap kedua perangkat ini ataw rt/rw keliling mndatangi rumah” warga. Karena, banyak warga yang kurang faham dan sadar dengan bahaya akan pandemi ini contohnya seperti dikampung saya. Saya mohon pak bupati untuk keselamatan kita semua

  2. Nu palaur mah pemudik ti zona merah, ngarasa jag2 jum’atan teh teu di masker & teu ngajaga jarak. eta kaalaman ku kuring di kp. Cilenga Ds. Selawangi Kec. Sariwangi Kab. Tasikmalaya

  3. Saya merasa risi
    Pasar singaparna semakin ramai orang2..
    Dan banyak pula kendaraan yang berplat luar tasik..
    😢😢😢

  4. sangat di harapkan sekali ada kerja sama antara perangkat desa, puskesmas tokoh2 masyarakat untuk sosialisasi lebih gencar karena masyarakat di wilayah2 kampung/pedesaan di kab.Tasik masih minim akan kesadaran bahaya pandemi ini. dan sangat disayangkan hal ini sepertinya masih sangat kurang di KABUPATEN TASIKMALAYA, KHUSUS NYA DI DESA SAYA.

  5. kita harus saling menjaga dan harus sadar diri iluti anjuran pemerintah,jangan menganggap Enteng persoalan covid 19.kita sebagai masyarakat ikuti aturan biar di kabupaten tasik ini bisa aman berada dizona merah.

  6. Muhun pak Bupati kumaha ieu teh asa hare hare wae di Kab. Tasik teh, aya pengarahan ku Kepala Desa bari kirang sugema da sanes ahlina, teu tiasa ngajelaskeun sapuratina tentang Covid 19. Saena mah ku ahlina atuh kepala desa teh didampingi minimal ku ti puskesmas sugan tiasaeun ngawaler pertanyaan masuarakat. Pak Bupati geura Gugah….enging bobo wae…..seueur nu mudik yeuh…geura kasih penjelasan ka rakyat desa desa, bilih kabujeng meraja lela ….

  7. Betul d kampung kami juga banyak sekali yg mudik dan nyolong2 waktu,mereka pemudik nyampe ke kampung kami larut malam biar masyarakt gk liat,tp ke esokan sorenya mereka bebas tanpa batas keliaran kasana kemari,lebih mirisnya travel pun seolah bebas angkut orang dari jona merah ke kampung kami,padahal di kampung sebagian besar penghuninya para lansia yg rentan dgn penyakit…
    Untuk itu kami mohon kpd pemerintah pengemban tugas rakyat,tolong jgn santuy2 aja ayo bergegas kerahkan kemampuan kalian untuk melindungi rakyatmu,tolong bersinergilh dgn para ahli d bidangnya,kasih wawasan tentang pencegahan penularan wabah ini,krna gk semua masyarakt yg melek internt,byk sekali d kampung kami khussnya yg menganggap wabah ini biasa2 saja,makanya mereka asih byk yg kumpul2 dgn pemudik yg baru dateng dan ngobrol2 d pos ronda atau d warung2 seolah gkda masalah…
    Sekali lagi saya mohon kpd pengemban tugas rakyat utk lebih tegas lagi dlm menjaga dn melindungi rakyatnya
    Thnk’s

  8. Saya orang ciawi, udah jadi warga DKI. Demi jaga orang tasik biar ga tertular, tidak akan mudik lebaran. Bapak sakit juga ga berani pulkam. Untuk dulur dulur di lembur yg jadi perangkat desa terutama, jangan kecolongan sama pemudik. Langsung data nu aruwih nyaba, sina diisolasi. Yg bahaya adalah orang tanpa gejala. Siga sehat padahal nularin. Kasian orang desa mah, susah berobat. Jauh ke klinik. Buat orang tasik yg ngumbara ke zona merah, tahan dulu lah acara mudiknya. Sing penting sehat selamat keluarga yg dilembur

  9. Sok atuh ulah santuy teuing menghadapinya , perketat arus mudik dari zona merah ,dengan memperketat tiap desa..Mun Aya nu mudik kudu karantina mandiri selama 14hari.. syukur syukur desa bisa nyadiaan tempat untuk karantina ..sok atuh anu tegas..menghadapinya ,mumpung kab Tasikmalaya masih zona hijau..da kaduhung mah Tara ti heula

  10. Semoga CUITAN INI DI DENGAR SAMA BAPAK BUPATI DAN PEJABAT2 LAINYA supaya kita semua dapat tanggapan yang NYATA. Itu saja dari sya mah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.