Siapa calon Bupati Tasikmalaya pilihan anda?

0.2%

2.4%

54.3%

6.9%

0.7%

13%

0%

22.4%

0%

Daerah Kekurangan Air di Ciamis Bersih Bertambah

45
0
SALURKAN AIR BERSIH. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis menyalurkan air bersih kepada warga Dusun Majaprana Desa Pamalayan Kecamatan Cijeungjing Rabu (14/8). Sampai kemarin, sebanyak 17.000 jiwa di tujuh kecamatan masih kekurangan air bersih. IMAN S RAHMAN/RADAR TASIKMALAYA

CIAMIS – Kecamatan yang mengalami kekurangan air bersih di Kabupaten Ciamis bertambah. Satu minggu lalu, lima kecamatan yang mengalami kekeringan, Rabu (14/8), wilayah yang kekurangan air bersih menjadi tujuh atau sudah bertambah dua.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ciamis minggu lalu, lima kecamatan yang mengalami kekurangan air bersih yaitu Kecamatan Ciamis, Pamarican, Cijeungjing, Cikoneng dan Cidolog. Sementara dua kecamatan yang baru kekeringan yaitu Banjarsari dan Cimaragas.

Kemarin, BPBD menyalurkan air bersih ke Dusun Majaprana Desa Pamalayan Kecamatan Cijeungjing Kabupaten Ciamis.

Kepala Bidang Kedaru­ratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis Ani Supiani menjelaskan sampai kemarin, pihaknya menerima laporan bahwa 6.000 kepala keluarga atau 17.000 jiwa di tujuh kecamatan kesulitan air bersih.

Menangani kekurangan air bersih tersebut, warga di tujuh kecamatan dikirim air bersih menggunakan mobil tangki. Sampai kemarin, BPBD menyalurkan sekitar 250.000 liter, sementara dari pihak swasta dan TNI dan Polri 70.000 liter. Jadi totalnya 320.000 liter.

“Namun memang kita dalam penyaluran itu ada kendalanya, terutama dalam pendistribusian air yakni kurangnya armada. Selain itu lokasi warga yang terdampak kekeringan di pelosok dengan akses jalan yang sulit, terutama di daerah Kecamatan Cidolog,” kata Ani ke wartawan.

Dengan kendala tersebut, kata Ani, pihaknya dalam sehari hanya bisa menyalurkan air bersih 15.000 liter. Pengiriman air 15.000 liter itu menggunakan tiga tangki.

Penyaluran air bersih ke lokasi kekeringan, kata Ani, merupakan upaya jangka pendek. Sedangkan untuk upaya jangka panjang, pemerintah melakukan pengeboran titik air atau pipanisasi. Termasuk, bekerja sama dengan Kehutanan untuk segera melakukan penghijauan.

Puncak musim kemarau, kata Ani, berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yaitu Agustus. Adapun awal musim hujan diperkirakan bulan November.

“Mudah -mudahan, berdoa saja di bulan September atau Oktober juga sudah turun hujan juga,” ujar Ani.

Momoh (58), warga Dusun Majaprana Desa Pamalayan Kecamatan Cijeungjing mengaku sudah kesulitan air bersih. Sumur di kampungnya sudah kering. Untuk keperluan mencuci dan sebagainya, dia dan tetangganya memanfaatkan air Sungai Cileuer. Mereka sampai mandi beramai-ramai di sungai.

“Beruntung kalau minum ada sumur dekat sungai, antre ambil dari sana. Sekarang dapat bantuan BPBD,” ujar Momoh. (isr)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.