Dampak Infrastruktur Belum Optimal

26
0
Ilustrasi

JAKARTA – Pelaku usaha cukup mengapresiasi peningkatan infrastruktur di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Sebab, infrastruktur ter­sebut terbukti mem­bantu menopang per­tumbuhan eko­nomi berkat pe­ningkatan konektivitas.

Namun, peng­usaha masih meng­garis­bawahi mahalnya biaya logistik di tanah air. Sebab, dengan biaya logistik yang kompetitif, pesatnya infrastruktur akan memberikan manfaat optimal.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Roeslani menyatakan upaya pemerintah dalam membangun konektivitas nasional seperti tol, pelabuhan serta tol laut, dan bandara baru harus berbanding lurus dengan penurunan biaya logistik.

Rosan mengakui salah satu penyebab tingginya biaya logistik di Indonesia hingga saat ini adalah kurang optimalnya sistem logistik. “Misalnya, load factor kapal dari Jakarta ke Papua itu 97 persen. Tapi, balik dari Papua ke Jakarta, load factor-nya itu hanya 10 persen,” ujarnya di Jakarta kemarin (12/6).

Rosan menilai kurang adanya pemerataan itulah yang membuat harga logistik belum dapat ditekan. Hal tersebut juga bisa dilihat dari kontribusi setiap daerah. Porsi Jawa terhadap GDP mencapai 58 persen, Sumatera 20 persen, Kalimantan 8 persen, Sulawesi 5 persen, dan Papua 2 persen. “Nah, itu harus diperbaiki,” tambahnya.

Bukan hanya Indonesia yang menggenjot pembangunan infrastruktur, negara lain pun sama. Karena itu, Indonesia harus bersaing dengan negara lain dalam peningkatan daya saing lewat pembangunan infrastruktur. “Pembangunan infrastruktur sangat membantu daya saing kita. Kita ini bangun infrastruktur, tapi negara lain lakukan hal yang sama. Jadi kita kejar-kejaran,” urainya.

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengungkapkan infrastruktur yang baik di suatu negara adalah yang mampu menurunkan logistic performance index (LPI) di negara tersebut. Meski naik ke peringkat 46 dunia, LPI Indonesia masih berada di level 3,15 dari skala 15. Semakin mendekati 5, artinya daya saing logistik suatu negara semakin baik. Sebaliknya, kian mendekati 1, artinya daya saing logistik semakin buruk. LPI Indonesia masih kalah jika dibandingkan dengan Singapura, Thailand, Vietnam, dan Malaysia.

Jika infrastruktur mampu berdampak signifikan terhadap penurunan biaya logistik, pengusaha akan bisa melakukan efisiensi. “Ada peningkatan produktivitas dan daya saing sehingga memacu daya beli masyarakat. Karena harga-harga barang akan turun,” ujarnya.

Menurut Enny, saat ini infrastruktur lebih banyak berfungsi memudahkan perpindahan arus manusia, belum sampai pada melancarkan arus barang. Dia pun berharap pemerintah mampu menyediakan infrastruktur yang mampu mendorong performa logistik Indonesia. (agf/ful)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.