Dampak Penutupan Objek Wisata di Ciamis Mulai Terasa

348
0
ISTIMEWA DIPAKAI BERSIH-BERSIH. Kondisi objek wisata Sayang Kaak kemarin. Manajemen Sayang Kaak menggunakan waktu penutupan untuk bersih-bersih di lokasi wisata alam tersebut.

CAMIS – Pelaku bisnis wisata dan angkutan umum di Ciamis berharap pemerintah bisa segera menangani penyebaran virus corona atau Covid 19.

Karena mereka mengalami penurunan pendapatan saat pemerintah memberlakukan kebijakan menutup tempat wisata, membatasi warga untuk bepergian dan meliburkan siswa belajar di sekolah selama 14 hari, mulai 16-29 Maret 2020.

Baca juga : Semua Sekolah Libur 2 Minggu, Tempat Wisata di Ciamis Ditutup

“Secara bisnis jelas sekali sangat merugikan,” Ketua Pengelola Objek Wisata Sayang Kaak Taufan Nugraha SE Selasa (17/3) siang.

Kata Taufan, salah satu penyebab keru­gian karena ada penundaan dan memundurkan jadwal kegiatan-ke­­giatan di objek wisata alam tersebut.

“Jadi ditutupnya dua minggu, kalau secara itung-itungan bisnis tentunya sangat berpengaruh besar,” jelasnya. “Saya yakinkan penurunannya kita drop sampai 75 persen di bulan ini. Dua minggu ke depannya juga jelas drop,” paparnya.

Namun demikian, pihaknya mendukung dan mengikuti instruksi Bupati Ciamis soal penutupan tempat wisata selama 14 hari tersebut. Karena tujuannya untuk mengantisipasi penyebaran Covid 19.

Selama masa penutupan, manajemen Sayang Kaak menggunakan waktu tersebut untuk membersihkan lingkungan wisata. Manajemen juga menyediakan alat-alat cuci tangan.
“Dua minggu ini kita berbenah, sampai melihat situasi dan kondisi dan perkembangan,” ujarnya.

Taufan berharap virus corona bisa segera diatasi oleh pemerintah, sehingga masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti biasa. “Harapan destinasi wisata bisa normal kembali, sehingga bisa normal dan lancar lagi,” ujarnya.

Dihubungi terpisah Sekretaris Dewan Pengurus Cabang (DPC) Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kabupaten Ciamis Ekky Brata Kusuma juga berharap pemerintah bisa secepatnya menangani Covid 19. Karena angkutan umum merasakan dampak dari kasus tersebut akibat pembatasan masyarakat bepergian.

“Terutama untuk menutupi biaya operasional. Jangankan untung untuk menutupi biaya operasional saja sudah tak tertutup,” ujarnya.

Rata-rata, kata Ekky, satu bus itu menghabiskan biaya operasional Rp 2 juta.

Baca juga : TWC Bagikan Jamu Herbal untuk Cegah Corona di Ciamis

Bus pariwisata juga bernasib sama. Saat ini bus pariwisata tidak beroperasi. Misalnya bus pariwisata Gapuraning Rahayu (GR). Dari 30 bus pariwisata milik GR, tidak ada satu pun yang beroperasi. Karena tempat wisata ditutup.

Menyikapi hal itu, Organda akan segera menggelar rapat di Dinas Perhubungan (Dishub) Ciamis. Pertemuan tersebut untuk mencari jalan keluar bagi awak angkutan yang tidak narik.

“Dengan harapan personil kita masih bisa mendapatkan uang untuk biaya rumah tangganya…karena bila tidak dioperasikan mereka tidak dapat uang,” jelas Ekky yang juga Manager Operasional di Perusahan Bus GR Ciamis ini.

Dia berharap pemerintah bisa segera mengatasi kasus corona dan mudah-mudahan masyarakat Ciamis tidak ada yang positif.
“Kami juga tolong berikan insentif terhadap angkutan kota yang ada di Ciamis. Bentuk insentifnya apa yang penting bisa meringankan biaya operasional,” harapnya. (isr)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.