Siapa Calon bupati Tasikmalaya pilihan anda?
18%

82%

Dampak Resesi, Perbankan RI Berpotensi PHK Massal

45
0

JAKARTA – Resesi atau kemerosotan ekonomi telah meluluhlantakkan perekonomian sebuah negara. Setidaknya, ada 13 perbankan besar di Eropa dan negara barat lainnya, telah melakukan pemangkasan karyawan atau pemutusan hubungan kerja (PHK). Kondisi tersebut berpotensi kepada perbankan Indonesia.

Menanggapi masifnya perbankan besar melakukan PHK, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda mengatakan, gelombang PHK di dunia terjadi lantaran dampak resesi yang terjadi saat ini sampai dengan 2021 mendatang.

“Ini merupakan rangkaian peristiwa resesi yang terjadi saat ini hingga tahun 2021,” ujar Huda, Rabu (9/10).

Lanjut Huda, perlambatan ekonomi global, perang dagang antara Cina dan Amerika Serikat (AS) yang tidak kunjung reda, bahkan perang melebar antara AS dengan Eropa. Tentu, kondisi demikian akan mengancam perekonomian Indonesia.

“Ada tingkat kelesuan ekonomi yang cukup tinggi. Resesi ini bukan hanya terjadi di Eropa ataupun negara barat lainnya. Bisa jadi Indonesia terdampak resesi ini,” kata dia.

Saat ini, menurut Huda, Indonesia telah merasakan dampak resesi pada sektor perbankan. Salah satunya, perlambatan penyaluran kredit pada beberapa bulan terakhir. “Tentu ini sinyal yang berbahaya bagi perekonomian nasional,” tutur Huda.

Sebagaimana diketahui, sepanjang tahun 2019 setidaknya ada 13 bank besar yang mengumumkan akan melakukan efisiensi karyawannya. Dari 13 bank tersebut diantaranya merupakan bank dari Eropa.

PHK karyawan terbanyak dilakukan di Eropa. Kemudian disusul Amerika Utara, Timur Tengah dan Afrika. Sisanya di Asia Pasifik. Pemangkasan karyawan dilakukan karena ekonomi Eropa tumbuh melambat dari tahun 2017-2018. Pada rentang tahun itu, ekonomi dunia tumbuh melambat sebesar 0,126 persentase poin, sementara ekonomi Eropa tumbuh melambat lebih dalam lagi sebesar 0,49 persentase poin

Bank-bank Eropa memang sedang mengalami masalah penurunan pendapatan dan tingginya biaya yang menekan laba bank. Padahal, berbagai cara ditempuh seperti konsolidasi melalui merger, namun tidak semuda yang dibayangkan, ada biaya dan risiko yang tidak kecil di sana. Akhirnya satu-satunya cara PHK.

Melansir laporan Bloomberg, industri keuangan Eropa, persaingan dengan pasar perbankan yang terpecah-pecah, pertumbuhan ekonomi yang melambat merupakan salah satu faktor yang menyebabkan maraknya PHK pegawai bank di Eropa.

Belum lagi ada perang perdagangan antara Cina dan AS yang berdampak pada ekspor kawasan dan memaksa Bank Sentral Eropa untuk mendorong suku bunga lebih jauh di bawah nol.

Di tahun 2019 sendiri sudah terdapat 58.200 pegawai bank terkena PHK. Dari 58.200 pegawai, 52.424 (90 persen jumlah pegawai bank terkena PHK) diantaranya terjadi di Eropa. Sisanya, 2.769 pegawai berasal dari Amerika Selatan, 2,487 pegawai dari Timur Tengah dan Afrika, dan sejumlah 513 pegawai berasal dari Asia Pasifik. (din/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.