Dampak Wabah Corona, 1.569 Pekerja Kota Tasik kena PHK

960
0
H Rahmat Mahmuda Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Tasikmalaya

TASIK – Wabah Covid-19 yang semakin meluas di Indonesia maupun di Kota Tasikmalaya berdampak terhadap Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) bagi karyawan perusahan. Lesunya dunia industri menyebabkan perusahaan melakukan efisiensi.

Sampai saat ini, di Kota Resik tercatat sebanyak 1.569 karyawan di-PHK oleh perusahaannya akibat terdampak virus Wuhan, Cina tersebut.

Baca juga : Kota Tasik 7 Positif Covid-19

Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Tasikmalaya H Rahmat Mahmuda menyebutkan berdasarkan hasil pendataan dari kelurahan. Tercatat ada 645 pekerja formal serta 924 pekerja informal yang terkena PHK karena kondisi perusahaan goyah. “Ini hasil pendataan selama dua hari, kemungkinan masih banyak yang belum terdata,” ujarnya kepada Radar, Minggu (5/4).

Data tersebut, kata Rahmat, merupakan bahan pelaporan kepada Kementerian Ketenagakerjaan agar pekerja yang di-PHK bisa mendapatkan Kartu Prakerja. Selain pekerja yang kena PHK, pihaknya mencantumkan usulan buruh harian yang dirumahkan, driver ojek online dan pelaku UMKM untuk diberikan bantuan. “Jadi total yang kita ajukan supaya mendapatkan Kartu Prakerja itu 3.048 orang,” tuturnya.

Dia menjelaskan pendataan pekerja yang di-PHK ini, sambung Rahmat, menyikapi arahan Presiden Joko Widodo yang merevisi peruntukan Kartu Prakerja di masa pandemi Covid-19 ini. Maka dari itu, yang diajukan bukan hanya pencari kerja dan korban PHK saja. “Ada perubahan sasaran karena kondisi sulit saat ini,” tuturnya.

Diakui Rahmat, sampai kemarin (5/4) pun pihaknya masih menerima laporan dari kantor kelurahan. Namun batas pelaporan kepada kementerian hanya sampai Sabtu (4/4). “Waktunya memang sedikit, jadi tidak bisa maksimal,” tuturnya.

Namun demikian, data-data yang baru masuk itu tetap akan ditampungnya, untuk kembali diajukan ketika ada peluang baru. Karena, pada prinsipnya data yang sudah diajukan pun belum terjamin 100 persen bisa mendapat Kartu Prakerja. “Sebab ada kuota alokasi, kalau memang belum dapat kita akan ajukan periode berikutnya,” terang dia.

Salah seorang warga Bungursari, Kota Tasikmalaya, Bayu (22) mengaku dirumahkan oleh perusahaan swasta tempatnya bekerja. Meskipun statusnya bukan PHK, tapi sebagai pegawai magang, dia tak menerima gaji selama tidak bekerja. “Dirumahkan, tapi kalau tidak ada perbaikan tidak akan dipanggil lagi,” terangnya.

Dia pun masih kebingungan untuk mencari penghasilan pasca dirumahkan. Karena saat ini hampir semua perusahaan sedang menahan diri untuk penambahan karyawan. “Paling saya dagang kecil-kecilan, karena tidak memungkinkan cari pekerjaan baru,” terangnya.

USAHA BORDIR TUTUP

Mewabahnya Covid-19 berdampak pada menurunnya omset pengusaha bordir di Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya. Pengusaha tak bisa memasok barang karena banyak toko pakaian yang tutup.

Salah satu pengusaha bordir dan butik di Kampung Pangkalan Kelurahan Kersamenak Kecamatan Kawalu Eden Wahyudin (33) mengatakan keuntungan para pengusaha bordir menurun. “Harga kain naik, sementara permintaan barang menuru, banyak toko-toko pakaian yang tutup. Hasil bordir yang diproduksi terpaksa disimpan di gudang, konsumen tidak ada dan tidak bisa dijual,” tutur Eden kepada Radar, Sabtu (4/4).

Mewabahnya Covid-19 juga, kata dia, membuat akses transportasi terbatas. Apalagi kebanyakan hasil bordir dipasarkan ke Tanah Abang, Jakarta.

Eden mengaku sejak Januari-Februari dampak mewabahnya Corona sudah mulai dirasakan. Kain sulit didapat dan kalaupun ada harganya mahal. Dia terpaksa menutup usaha bordirnya karena bingung menjualnya. Pemesan dari berbagai kota seperti Jakarta, Surabaya, Sidoarjo pun menutup usaha tokonya.

“Terpaksa usaha bordirnya ditutup, walaupun masih sebagian menyelesaikan pekerjaan pesanan bulan sebelumnya. Kalau pesanan sekarang yang baru belum ada lagi, sepi,” tutur dia.

Baca juga : Penyebar Video Porno Siswi MTs Masih Diburu Polisi Tasik

Pengusaha bordir lainnya, Asep (40) merasakan hal yang sama. Konveksi miliknya tutup dan pekerjanya dipulangkan. Karena pesanan baju seperti gamis, koko dan mukena minim pembeli atau pesanan.

“Biasanya setiap selesai pengerjaan pesanan dari Jakarta, kita bisa menghasilkan keuntungan hingga jutaan rupiah. Ya bisa sampai puluhan juta, kalau sekarang menurun bahkan tidak ada pemesan. Mudah-mudahan wabah Corona segera berakhir,” ujar dia. (rga/dik)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.