Pengacara Tersangka Lingtar Tak Sepakat Disebut Korupsi

Dapat Titipan Dana atas Desakan

119
0
Loading...

TASIK – Tim pengacara tersangka peng­gelap­an dana pembebasan jalur Lingkar Utara (Lingtar) menilai kasus yang dihadapi klien­nya, bukanlah tergolong kasus tindak pidana korupsi (Tipikor).

Pasalnya, D menerima titipan dana konsinyasi tersebut secara personal oleh pegawai Pemerintah Kota Tasikmalaya dan bukan atas nama lembaga.

Kuasa Hukum D, Agus Rajasa SH MH mempertanyakan uang negara yang disebutkan pada kasus Lingtar tersebut. Karena kliennya mendapat titipan tersebut dari personal pegawai Pemkot, bukan secara kelembagaan. “Yang mengirim juga bukan negara kok, itu pribadi,” ujarnya kepada Radar, Jumat (23/11).

Selain itu, kata Agus, D juga mendapat titipan uang tersebut atas desakan pegawai Pemkot dengan cara non prosedural. Pa­sal­nya secara adminis­tras­i penitipan dana kon­sinyasi harus ter­lebih dahulu dilakukan pengajuan. “Makanya uangnya disimpan di rekening pribadi,” katanya.

Awalnya, kata dia, hal tersebut (penitipan dana konsiyansi, Red) dianggap solusi supaya anggaran untuk pembebasan lahan bisa terserap. Akan tetapi, faktanya memunculkan perkara yang menjerat D ke dalam proses hukum. “Orang (Pemkot, Red) itu mengeluh, kalau tidak diserap harus dikembalikan ke kas daerah,” terangnya.

Loading...

Agus menekankan dalam proses hukum yang dijalani, kliennya sudah berupaya melakukan pengembalian. Caranya dengan menggadaikan aset ke bank, namun demikian sertifikat aset tersebut disita oleh Kejaksaan Negeri Tasikmalaya.

Pihaknya membantah jika kliennya tidak memiliki itikad baik untuk mengembalikan dana konsinyasi itu. Justru menurutnya ada pihak yang sengaja menggagalkan itikad baik kliennya. “Sudah tiga kali mau cair di bank (untuk pengembalian dana, Red), tapi digagalkan,” terangnya.

Ditanya soal uang tersebut bukan hanya digunakan oleh D, dia membenarkannya. Akan tetapi Agus enggan menyebutkan siapa dan pihak mana saja yang menggunakan uang tersebut.

“Pokoknya yang jelas uang itu bukan hanya digunakan oleh klien saya (D),” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, tersangka kasus penggelapan dana pembebasan jalur Lingkar Utara (Lingtar), D tidak mengiyakan atau membantah atas kasus yang disangkakan kepadanya.

Hal itu diakui D saat Radar membesuknya di Lapas Klas II B Tasikmalaya. Terlihat dia keluar dari blok tahanan perempuan yang terpisah dari narapidana laki-laki.

Ketika bertemu Radar, D langsung mengulurkan tangan, mengajak bersalaman. Kemudian duduk di sebuah bangku layaknya pengunjung dengan tahanan atau warga binaan.

Menanggapi kasus yang menjeratnya hingga mendekam di balik jeruji besi, D enggan berkomentar. Meskipun kasus ini membangun opini yang menyudutkannya sebagai koruptor. “Saya tidak mau ngasih komentar apa-apa,” katanya di sela perbincangan dengan Radar, Kamis (22/11).

Pensiunan Pegawai Pengadilan Negeri Tasikmalaya itu merekomendasikan agar wawancara kepada kuasa hukum terkait permasalahannya. Karena, kata D, sebanyak 16 pengacara yang akan mendampinginya menjalani proses hukum. “Langsung saja ke pengacara, Ecep dan kawan-kawan,” ungkapnya.

Ditanya soal kondisinya saat ini, secara fisik D mengaku sehat. Tentang proses hukum yang sedang diikuti dan dijalaninya pun, dia menyikapi dengan pikiran yang jernih dan kepala dingin. “Insya Allah saya tegar menghadapi ini,” katanya. (rga)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.