Dari Dulu PD Pasar Resik Di Kota Tasik Tak Perlu

69
NORMAL. Kondisi Pasar Induk Cikurubuk berjalan normal walaupun PD Pasar Resik akan dibubarkan Pemkot Tasikmalaya, Rabu (28/11).

TAWANG – Sesepuh Kota Tasikmalaya RH Djadja Winatakusumah menyepakati rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya membubarkan Perusahaan Daerah (PD) Pasar Resik. Apalagi bila pemkot menganggap PD Pasar Resik sebagai beban yang memberatkan.

“Saya setuju saja, daripada memberatkan pemkot,” ujar Djadja saat ditemui di Jalan RAA Wiratanuningrat kepada wartawan, Rabu (28/11).

Dia bercerita PD Pasar Resik sebetulnya tidak perlu didirikan. Pasalnya, Pasar Induk Cikurubuk saat ini masih dalam transisi penyerahan dari pihak pengembang. Makanya, dia menyarankan PD mengelola Pasar Padayungan dan Indihiang. Dengan objek pendapatan dari penjualan jenis grosir.

Kemudian, saat DPRD studi banding ke PD Pasar Jaya Kota Jakarta, hanya meninjau kesuksesannya saja. Dianggap berhasil mengelola pasar tradisional. “Tanpa mempertimbangkan kondisi atau kehidupan pasar tradisional di Kota Tasikmalaya. Hanya melihat sisi keuntungan saja akan menjadi potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dengan asumsi, masyarakat kita memiliki sifat konsumtif,” jelasnya.

Djadja menjelaskan inisiator pendirian perusahan yang fokus mengelola pasar tradisional itu pun, muncul dari DPRD Kota Tasikmalaya. Meski, dia menilai para wakil rakyat sendiri tidak memahami secara utuh kondisi warga pasar dan apa yang dibutuhkan badan usaha tersebut. “Pengembang dan pemkot itu baru selesai tukar guling kaitan Pasar Cikurubuk, lalu PD Pasar Resik didirikan untuk mengelola pasar tradisional. Itu yang saya sayangkan, seharusnya menciptakan pasar kembali di luar pasar Pancasila dan Cikurubuk untuk dikelola,” papar Djadja.

Di sisi lain, salah seorang Staf Pelaksana Unit Pasar Induk Cikurubuk Ajang Nursodiq ingin segera mendapat kepastian kapan waktu pembubaran dengan jelas. Sehingga bisa menyiapkan diri untuk memberitahukan terhadap keluarga. “Kalau jelas bubar, dipastikan kapan? Sebab, kita juga perlu menyiapkan mental untuk memberitahu keluarga kita akan berhenti bekerja,” ungkapnya.

Kemudian, kata dia, nasib kelanjutan karyawan akan seperti apa. Serta hak-hak karyawan bagaimana perhitungannya. “Supaya kita bisa mem-planning, apa yang harus dilakukan setelah berhenti bekerja di PD Pasar Resik. Kemudian, cicilan kami terhadap perbankan itu mau dibagaimanakan, apakah ditanggung pemkot atau pribadi,” jelasnya yang sudah bertugas sejak 28 Mei 2011.

Terpisah, salah seorang pedagang sayuran di Kios Pasar Induk Cikurubuk Wawan (42) mengatakan tidak mempermasalahkan siapa pun yang mengelola pasar tradisional. Terpenting bisa memberi kenyamanan dan pelayanan prima terhadap para pedagang. “Siapa pun yang mau mengelola, kami harap bisa memberi pelayanan dan kenyamanan. Sebab, pasar tradisional dari dulu begini-begini saja,” tandasnya. (igi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.