Data Berantakan Berakibat Fatal, Dewan Minta Wali Kota Evaluasi Bansos Kota Tasik

1085
6

TASIK – Amburadulnya da­ta penerima bantuan sosial (ban­sos) dari Pemerintah Kota Tasik­malaya, yang terganjal Nomor Induk Kependudukan (NIK) disinyalir akibat tidak sinkronnya validasi data oleh dinas terkait.

Ketua Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya Dede Muharam mengatakan amburadulnya data bansos dari Pemkot menunjukkan ketidaksinkronan antara dinas terkait dalam hal ini Dinas Sosial (Dinsos) dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil).

Baca juga : 5 Bulan Gaji Kades Mangkonjaya Tasik Disumbangkan untuk Warga Terdampak Covid-19

“Seharusnya mereka (dua dinas tersebut, Red) berkoordinasi, dengan menghilangkan ego masing-masing. Jangan sampai setelah didistribusikan menyusahkan masyarakat,” ujarnya ke­pada Radar, Selasa (12/5).

Me­nurut­nya, apabila peren­cana­­an distribusi bantuan d­ilaku­kan secara matang dan te­rencana. Dirinya yakin tidak akan ada kegaduhan dalam pe­nyalurannya.

”Sebab niat Pemkot baik menyalurkan ban­tuan bagi warga terdampak Covid-19. Tapi kenapa justru adanya bantuan ini malah menjadi masalah,” tanyanya.

Loading...

Dia pun berharap Wali Kota Tasikmalaya segera melakukan evaluasi terhadap bansos uang tunai tersebut. Apabila dirasa menjadi masalah, lebih baik ditunda hingga data benar-benar valid.

”Data itu penting, sebab akan menjadi acuan dalam memilah bantuan siapa yang layak dan tidak,” terangnya.

Selain itu, kata Dede, dia pun menemukan laporan adanya warga menolak distribusi bansos yang bersumber dari APBD Kota Tasikmalaya “Kita temukan hari ini (kemarin, Red) pun masih ada distribusi yang tidak tepat sasaran. Adanya riak dan resistensi dari masyarakat di proses distribusi hari kedua,” keluhnya.

Politisi PKS itu menceritakan ada salah satu kelurahan di Kecamatan Kawalu, menolak pendistribusian bantuan.

Jumlah alokasi yang akan diterima masyarakat tidak sebanding dengan jumlah warga yang diusulkan saat pendataan.

“Akhirnya para RW sepakat, khawatir di-bully warganya. Semua bantuan ditolak,” kata Dede.

Komisi IV, lanjut Dede, meminta Pemkot lebih kompak dalam mengurusi program kemanusiaan ini. Sebab, data yang berantakan sangat berakibat fatal di lapangan.

“Ya kita tahu, namanya bantuan itu sensitif. Apalagi akibat pandemi ini semua kena imbasnya.

Pemkot harus mereduksi potensi persoalan, bukan seolah menambah persoalan dengan ketidakvalidan data, distribusi tak merata dan lain sebagainya,” harap Dede.

Sementara itu, salah satu penerima bantuan, Juju Juwitasari (40), warga Sukamaju Kelurahan Panglayungan Kecamatan Kahuripan yang kesehariannya bekerja sebagai asisten rumah tangga mengaku baru pertama kali dapat bantuan pemerintah.

“Sebelumnya enggak pernah, baru kali ini dapat bantuan,” ujarnya.

Untuk itu, kata Juju, uang tunai Rp 500 ribu bantuan dari Pemerintah Kota Tasikmalaya itu akan dipergunakan bagi kebutuhan sehari-hari.

Namun menurutnya, tuntutan hidup saat ini bukan hanya sembako, tetapi juga biaya komunikasi. “Kan sekarang kuota juga penting,” katanya.

Juju merupakan janda yang tinggal sendiri, sehingga beban sehari-harinya tidak terlalu berat.

Jumlah Rp 500 ribu, kata dia, bisa bertahan sampai satu bulan dengan catatan harus berhemat. “Bisa lah di awet-awet agar cukup satu bulan,” katanya.

Baca juga : Pasien Positif Covid-19 di Kota Tasik Nambah 2, Total Jadi 33 Orang

Sementara tetangganya, Yuyuk Rukmini (54) punya beban yang berbeda. Di rumahnya, dia tinggal bersama suami dan satu anaknya.

Sehingga uang Rp 500 ribu itu, menurutnya tidak akan cukup sampai sebulan. “Paling 10 hari, itu pun makan seadanya,” pungkasnya. (igi/rga)

Loading...
loading...

6 KOMENTAR

  1. masih mending kebagian Bansos segitu juga alhamdulilah…nah kita yg gak kebagian,gimana hidup anak dan istri ,mau makan apa?????semua kegiatan d batasi,bahkan sampai kehilangan mata pencaharian,,,mau sampai kapan seperti ini???apa sampai anak istri kita mati kelaparan?????tolong di perbaiki secepatnya…

  2. Syukur yang udah dapat saya ga kebagean gmn data ga benar saya harus menghidupi anak dan istri saya karena usaha lagi sepi gini.

  3. Kapan ath aku kebagian bansos,gad sejarahnya mungkin keburu mati,ke turunan aku yg bantuan” begitu pada gak mau nyangkut,apalagi listrik gratis bansos kelaut aja,jangan ada bansos kalau tak bisa merata,pasti eraeun tah nu ngabagina dan koreksilah biar gak pi omongeun,

  4. Aku hidup ngontrak gak ada penghasilan gak pernah sekalipun dapat bantuan tlong pak dpr aku juga warga tasik

  5. Tos puguh d tsk mah ancur data..tolong pihak berwenang di cek lagi datanya..apalagi d kel nagarasari..malam ini lgi turun beras pkh..yg semestinya rakyat yg bener bener dpat bantuan malah tidak dapet.ehh malah yg dapet yg punya dikategori mampu..terutama yg orngnya deket sama kader abal abal😈 miriis banget

  6. Berita Ini tentang ibu juju juwitasari(40 ) yg pasti di mana? warga sukamaju yg mana? Klau sukamaju itu indihiang. Sedangkan kelurahan penglayungan itu kecamatan cipedes.g ada kecamatan kahuripan. Adanya juga kelurahan kahuripan kecamatan tawang. Data brita kurang jelas juga.🙏🙏 ibu juju (40) emang ada di 3 kecamatan skaligus ya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.