DBD di Kota Tasik Makin Menggila, Renggut 16 Nyawa

379
0

KOTA TASIK – Di tengah pandemi Covid-19 (Corona), Kota Tasik juga dilanda tingginya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Hingga Senin (22/06) siang, DBD telah merenggut 16 nyawa.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Tasik, Uus Supangat membenarkan tingginya kasus DBD hari ini.

Hal itu berdasarkan informasi dan data yang dihimpun pihaknya dari Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P).

“Kasus DBD memang saat ini terus meningkat. Jumlah warga yang meninggal mencapai 16 orang karena DBD dari awal tahun 2020 hingga hari ini,” ujar Uus kepada radartasikmalaya.com.

Terang dia, jumlah pasien DBD dari awal tahun hingga Juni ini sebanyak 598 orang.

Dengan jumlah kasus paling banyak terjadi di Kecamatan Kawalu sebanya 113 orang. Lalu Tamansari sebanyak 70 orang.

“Kasus DBD ini tersebar merata di seluruh kecamatan se-Kota Tasik. Jadi diharapkan kita, masyarakat selain menjaga protokol kesehatan juga meningkatkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat),” terangnya.

“Di saat ini disamping menghadapi pandemi Covid-19, kita berhadapan dengan naiknya kasus DBD. Ini harus disikapi secara serius. Yang meninggal juga mengalami kenaikan. Ini adalah satu angka yang cukup tinggi,” sambungnya.

Disinggung apakah sudah masuk Kejadian Luar Biasa (KLB), tambah dia, menentukan hal itu harus mulai melakukan kajian.

Namun dengan jumlah signifikan dalam kasus itu saat ini prediksi dia Kota Tasik sudah masuk pra KLB.

“Apakah ini sudah KLB atau tidak, yang pasti masuk pra KLB. Karena untuk menetapkan KLB itu kita butuh perhitungan yang konkret. Kita harus betul-betul melihat kasus demam disertai penurunan trombosit,” tambahnya.

Jelas dia, pihaknya terus melakukan penyuluhan ke beberapa kecamatan untuk mengingatkan warga soal DBD selain Covid-19.

“Kita juga akan melakukan pertemuan dengan seluruh kecamatan mengenai DBD. Kita cegah agar kasusnya tidak meningkat terus,” jelasnya.

Dia berharap saat masyarakat mengurangi aktivitas dengan masa pandemi corona ini untuk benar-benar menerapkan PHBS.

Bukan hanya terhadap diri pribadi, tapi juga lingkungan.

“Kalau masyarakat sadar menyadari kesadaran lingkungan, kasus bisa diantisipasi. Kita sedang berat menghadapi pandemi, sekarang ditambah DBD,” harapnya.

(rezza rizaldi)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.