Demi Mengajar Siswa Miskin di Tengah Wabah Covid, 4 Guru Ini Rela Jalan 3 Km Lewat Bukit Hingga Lepas Sandal

334
0
MENGAJAR. Guru SDN 1 Giriharja Kecamatan Rancah, Ciamis tak menyerah meski harus berjalan kaki sejauh 3 kilometer ke perbukitan untuk mengajar anak didiknya. foto-foto: IMAN S RAHMAN/ Radar Tasikmalaya

Empat guru SD di Kecamatan Rancah Kabupaten Ciamis berjuang mengajar anak didiknya. Mereka tak menyerah meski harus berjalan kaki sejauh 3 kilometer ke perbukitan. Karena sang murid dan keluarganya tidak memiliki handphone.

Iman S Rahman, Rancah

Sejak pandemi Covid-19, siswa belajar di rumah. Mereka menggunakan sistem pembelajaran online. Bagaimana jika ada siswa yang tidak memiliki handphone atau alat untuk pembelajaran daring? Jawabannya, guru yang berkorban mendatangi para anak didiknya.

Baca juga : Awal Puasa, KRYD Ciamis Temukan Belasan Botol Miras

Itu yang dilakukan tiga guru SDN 1 Giriharja Kecamatan Rancah. Yayah Hidayah (50), Iis Ratnengsih (51), Eem Maesaroh (53) dan Etin Rohaetin (52) mengajar delapan murid yang orang tuanya tidak memiliki handphone. Empat orang guru yang tinggal di Dusun Haruanjaya Desa Giriharja Kecamatan Rancah itu mengajar delapan muridnya di Dusun Citapen Landeuh Desa Sukajaya Kecamatan Rajadesa.

Yayah Hidayah menceritakan sejak sekolah diliburkan karena corona, semua murid harus belajar di rumah. Mereka menggunakan teknologi handphone. Namun memang tidak semuanya siswa mempunyai HP. Seperti delapan orang muridnya di perbatasan Rancah dan Kecamatan Rajadesa. Mereka tinggal di atas perbukitan atau tiga kilometer dari rumah para guru.

Lokasi rumah delapan muridnya itu tidak bisa ditempuh menggunakan kendaraan, karena lokasinya terjal di atas bukit. Maka, untuk menempuh perjalanan ke rumah delapan muridnya itu, Yayah dan tiga rekannya berjalan kaki. Jalannya tanah dan pasir. Licin. Terpaksa mereka harus membuka sandal.

“Meski kami lelah, namun karena buat pendidikan delapan murid, kami tempuh bersama teman-teman yang lain,” ujar Yayah saat dihubungi Radar, Minggu (26/4).

Yayah dan tiga rekannya itu berbagi tugas. Mereka serempak mengajar delapan muridnya itu. Itu agar anak didiknya tetap mendapatkan pembelajaran. Kadang mereka memberikan pekerjaan rumah. Kadang setiap mereka mengajar, orang tua siswa hadir mendampingi anak-anaknya.

“Saya meski melelahkan, namun ini perjuangan untuk pendidikan dan anak-anak bisa terus belajar selama corona ini,” ucapnya.

Eem Maesaroh mengaku sangat kasihan kepada delapan muridnya, karena mereka kurang mampu. Untuk itu mereka harus dibantu menuntut ilmu. Dia berharap murid-muridnya itu bisa pintar dan cerdas, sehingga ilmu yang mereka berikan bermanfaat.

Dia mendoakan kelak, delapan anak didiknya itu bisa menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan agama. “Harapan kami semoga wabah Covid-19 segera berakhir dan pembelajaran efektif seperti biasa. Bisa bersama-sama belajar lagi di sekolah,” harapnya.

Tatang (45), orang tua murid dari Kania Anggraeni berterima kasih kepada para guru yang datang ke rumahnya untuk menjajar putrinya. “Jujur saja saya tidak punya HP bahkan terkendala juga kalau punya HP tidak ada sinyal, makanya dengan guru datang saya merasa terbantu,” papar Tatang yang sehari-hari bertani ini.

Baca juga : Bertaruh Nyawa Cari Madu Odeng di Sodong Tasik, Bagus untuk Jaga Stamina saat Wabah Corona

Sejak wabah corona, anaknya, kata Tatang, belajar di rumah. Dia saat itu bingung, karena kata anaknya pembelajaran di masa pandemi Covid-19, harus menggunakan handphone. Sementara Tatang tidak mempunyai telepon seluler tersebut. Untungnya, guru-guru anaknya rela datang ke rumahnya.

“Saya sangat berterimakasih kepada perjuangan guru-guru dengan jalan yang terjal mampu mendatangi rumahnya tanpa lelah,” ujarnya haru. (*)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.