Sejak Sabtu, Guru Sukwan Sudah Mogok Mengajar

Demo Honorer Diundur

11
TUNTUTAN HONORER. Honorer menunjukkan tulisan tuntutan di Gedung PGRI Kabupaten Garut Sabtu (15/9). Rencananya Selasa (18/9), guru-guru honorer akan aksi besar-besaran. Mereka akan membawa lima tuntutan. (Fagar Sukwan/radartasikmalaya.com)

GARUT KOTA – Forum Aliansi Guru dan Karyawan Sukarelawan (Fagar Sukwan) Kabupaten Garut memundurkan rencana demonstrasi.

Semula aksi bertema Jihad Guru itu akan dilaksanakan Senin (17/9) lalu digeser ke Selasa (18/9). Ketua Fagar Sukwan Kabupaten Garut Cecep Kurniadi menjelaskan pemunduran waktu demonstrasi –dari Senin ke Selasa— karena di hari yang sama juga ada rencana aksi di luar forum yang dipimpinnya.

”Kami sepakat dengan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Garut, aksi unjuk rasa kami diundur besok, hari Selasa (18/9), guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya kepada Rakyat Garut Minggu (16/9).

Bagaimana dengan tuntutannya, apakah ada perubahan? Menurut Cecep, pihaknya masih tetap membawa lima aspirasi. Beberapa diantaranya, mendesak Pemerintah Kabupaten Garut menerbitkan

SK penugasan untuk para honorer dan mendesak kepada Pemkab Garut untuk mengajukam kepada pemerintah pusat terkait revisi Undang-Undang Aparatur Sipil Negara (ASN).

“Aspirasi itu akan kita sampaikan nanti ke Dinas Pendidikan dan Pemerintah Daerah (Garut, Red),” ujar Cecep.

Hasil estimasinya, aksi Jihad Guru besok akan diikuti sekitar 15 ribu. Bahkan, kata dia, dimungkinkan akan lebih banyak.

“Kami akan membawa masa sebanyak-banyaknya. Termasuk bila tidak ada realisasi dari pemerintah Kabupaten mengenai tuntutan akan menginap hingga tuntutan direalisasikan,” tuturnya.

Cecep pun menjelaskan sejak Sabtu (15/9), mereka sudah mogok mengajar. Batas waktu akhir pemogokan sampai semua sukwan mendapatkan legalitas dari Pemkab Garut.

Guru honorer akan mengajar lagi jika semua guru honorer di 42 kecamatan di Kabupaten Garut mendapatkan legalitas dari Pemkab Garut.

“Sebetulnya hingga hari Sabtu (15/9) sudah tidak mengajar dan semuanya berkumpul di Gedung PGRI Kabupaten Garut,” kata dia.

Selama guru honorer mogok, murid di beberapa sekolah, kata dia, tidak mendapatkan pengajaran.

“Semua siswa sudah liar tanpa ada pengajaran,” ungkapnya.

Ketua PGRI Kabupaten Garut Mahdar Suhendar mengatakan efek guru honorer mogok mengajar sangat dirasakan sekolah, murid dan orang tua. Siswa tidak belajar.

“Karena memang di Kabupaten Garut masih banyak sekolah yang kekurangan guru. Otomatis bila guru honorernya mogok, tidak ada guru,” jelasnya.

Bahkan, ujarnya, di beberapa sekolah hanya ada satu guru PNS. Sisanya, tujuh guru honorer. Dengan begitu guru honorer itu sangat dibutuhkan khususnya sebagai tenaga pendidik.

“Makanya kami memohon kepada pemerintah daerah segera merealisasikan permintaan guru honorer ini supaya proses pembelajaran kembali normal,” harapnya.

Untuk itu, Mahdar akan tetap mendukung aksi unjuk rasa Fagar Sukwan supaya semua sukwan di Kabupaten Garut mendapatkan surat tugas dari Bupati Garut dan belajar mengajar menjadi normal lagi.

“Dengan itu harapan besar kami pemerintah segera memberikan surat tugas bagi mereka supaya proses belajar mengajar tidak terganggu seperti saat ini,” tandasnya. (ujg)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.