Beranda Rakyat Garut Desa Panembong Jadi Sentra Bawang Merah

Desa Panembong Jadi Sentra Bawang Merah

135
BERBAGI
PANEN. Petani Desa Panembong Kecamatan Bayongbong Kabupaten Garut mengangkut bawang merah untuk dijual Senin (26/3).

BAYONGBONG – Desa Panembong Kecamatan Bayongbong Kabupaten Garut merupakan sentra bawang merah. Sebanyak 90 persen petani di desa tersebut mayoritas menanam komoditas itu.

“Para petani di sini fokus usaha bawang merah. Sampai sekarang desa ini pun jadi sentra bawang merah,” ujar Sekretaris Desa Panembong Iyus kepada Rakyat Garut, Senin (26/3).

Selain soal ketersediaan lahan, kata dia, warga Panembong memilih menanam bawang merah karena pasokan air di sana cukup melimpah. Kondisi tanah juga bagus untuk menanam komoditas tersebut. Bawang merah yang dihasilkan daerah itu memiliki kulitas cukup baik.

Bawang merah hasil panen biasanya dijual ke wilayah Jakarta dan daerah sekitar. Sayangnya, penjualan bawang merah ini masih melalui tengkulak, tidak melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

“Ke depannya kami ingin ini semua dikelola oleh desa. Lewat BUMDes dapat mendorong sarana prasarana bawang merah,” ungkapnya.

Kepala Dusun Urug Desa Panembong Teten menuturkan dalam setahun biasanya ada tiga kali masa tanam. Sekali panen, ribuan ton bawang merah bisa dijual. “Jika musim hujan para petani menanam di gunung. Sebaliknya jika musim kemarau maka bercocok tanam di sawah,” ungkapnya.

Dia memaparkan menanam bawang merah risiko gagal panennya lebih rendah. Sebab itu warga memilih komoditas tersebut untuk ditanam. Selain itu, hasil panen bawang merah juga lumayan. Satu kilogram bibit bawang merah dapat menghasilkan 10 hingga 12 kilogram bawang ketika panen. Jika bibit yang ditanam satu kuintal, maka saat panen bisa mencapai satu ton.

Penanaman di gunung tidak perlu mengeluarkan biaya poduksi terlalu besar. Sebaliknya, ketika menanam bawang di sawah, maka butuh biaya tiga kali lipat. “Satu hektare sawah bisa membutuhkan 360 hingga 400 orang kalau di sawah. Sedangkan jika digunung hanya 160 orang. Sehingga biaya produksi penanaman di gunung lebih sedikit,” pungkasnya. (obi)

Facebook Comments

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.