Mirip Makam Humayun di Delhi, India

Desain Ornamen Harus Sesuai Kultur

137
0
ORNAMEN. Heksagram pada ornamen dinding di wahana bermain Gangga Trans Studio Mini, Transmart mirip lambang zionis, Rabu (3/7). Sekarang lambang itu (lihat lingkaran warna merah) sudah ditutup. Firgiawan / Radar Tasikmalaya

TAWANG – Adanya protes sejumlah warga atas pemasangan lambang diduga simbol zionis pada salah satu ornamen yang terpampang di Transmart dinilai wajar. Sebab, heksagram tersebut merupakan ikon yang tertera pada bendera Israel yang kurang berkenan di hati umat muslim Tasikmalaya.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya (DKK) Bode Riswandi. Namun demikian, masyarakat jangan dulu tersulut dengan adanya lambang tersebut. Bisa saja, penyertaan lambang itu dilatarbelakangi ketidaktahuan atau diketahui tapi tak ada yang mengoreksi. “Hanya yang terpenting bagi saya, di kebudayaan itu ada falsafah di mana tanah dipijak di situ langit dijunjung. Artinya, kultur kemasyarakatan harus menjadi acuan utama ketika kita akan berbuat sesuatu di suatu tempat,” tuturnya kepada Radar, Rabu (3/7).

Dia mencontohkan, Kota Tasikmalaya memiliki ikon sebagai Kota Santri, basis muslim dan gudangnya pesantren. Otomatis, pemasangan ornamen itu akan sangat menyakiti masyarakat Tasikmalaya khususnya. Karena, bentuk heksagram itu menempel pada bendera Israel yang membantai umat muslim. “Pada ilmu kebudayaan, terdapat semiotika. Di mana tanda adalah sebagai suatu sarana mengikonkan satu negara, satu kekuatan besar yang notabene semua masyarakat Indonesia sudah mengetahui bahwa itu tertera pada bendera Israel. Kemudian sebagai masyarakat mengetahui itu sebagai lambang zionis dan lain sebagainya. Kalau ada masyarakat marah saya kira cukup beralasan,” tutur dia.

Bode menyarankan, heksagram itu segera diganti atau dihapus sama sekali. Jangan hanya sekadar ditutup. “Apabila ditutup saja, tidak menghilangkan gambarnya. Hanya sekadar mengakomodir usulan masyarakat yang kemarin menggeruduk ke DPRD. Hapus saja, ditutup tidak menyelesaikan persoalan,” kata dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Siliwangi itu.

Menurut Bode, apabila heksagram itu sekadar ditutup hanya akan membuka celah penasaran pihak lain, pun memancing gelombang kemarahan selain kelompok masyarakat yang saat ini santer menyuarakan hal tersebut. “Kalau pengelola jeli membaca kultur, seharusnya bisa memilih lambang atau hiasan lain dalam ornamen. Tanpa mengurangi nilai dekorasi ornamen itu sendiri,” tutur Bode.

Bode menambahkan, sejatinya di Kota Tasikmalaya tidak pernah terjadi persoalan kaitan dekorasi di pusat perbelanjaan atau ruang publik lainnya. Seperti saat perayaan natal, dekorasi di sejumlah tempat terdapat pohon cemara dan ikon khas peringatan natal lain. Namun, tidak pernah ada gejolak atau gerakan dari suatu kalangan masyarakat. “Sebab, itu sebagai satu wujud toleransi. Sementara hari ini, orang akan merasa sakit hatinya saat heksagram dipajang. Di mana lambang itu terkonotasi pembantaian warga muslim,” ujar dia.

Wawancara terpisah, Ketua DPRD Kota Tasikmalaya H Agus Wahyudin SH MH menyatakan, dalam pelambangan atau penyertaan suatu ikon di suatu bangunan memang tidak diatur. Apalagi, lambang yang diduga berbau zionis itu sama dengan ornamen pada bangunan di suatu tempat. “Sebetulnya tidak ada larangan aturan yang menghalangi hal tersebut,” kata dia.

Pihaknya justru meminta pengelola lahan pusat perbelanjaan segera menuntaskan rekomendasi yang tertuang dalam kajian analisis dampak lalu lintas. Seperti membuat akses keluar alternatif supaya tidak bertumpuk di Jalan Ir H Juanda. “Kepadatan lalu lintas di Transmart memang harus segera dituntaskan. Seperti segera dibuatkan jalan terusan dari lokasi tempat parkir agar kemacetan bisa berkurang. Termasuk akses keluar melalui jalan lain,” katanya.

Sementara itu, Vice President Corporate Communication Transmart, Satria Hamid mengakui, penuntasan masalah kemacetan di lokasi Transmart sedang ditempuh. “Kami memang akan membuat jalan terusan dari keluar parkir. Saat ini pengerjaannya sedang tahap pemantapan dan pembebasan lahannya,” kata Satria.

Dalam pernyataan sebelumnya, Vice President Corporate Communication Transmart Satria Hamid menjelaskan, kaitan ornamen yang disampaikan Komunitas Pemerhati Kebijakan (Kompak), pihaknya akan mengevaluasinya. Saat ini pun, lambang ornamen tersebut sudah ditutup oleh pihak pengelola. “Kita akan evaluasi dan mengubah ornamen itu dan terima kasih hal ini jadi masukan positif bagi kami,” tuturnya saat menghadiri audiensi di Gedung DPRD Kota Tasikmalaya pada Selasa (2/7).

Pada prinsipnya, kata dia, tidak ada niat buruk dalam mendesain ornamen tersebut. Sebab, pihaknya hanya mencontoh dari ornamen pada salah satu masjid di luar negeri. “Jika tidak salah, namanya Masjid Yumtom. Apabila dipersonifikasikan menyerupai lambang zionis atau Yahudi, kita tidak ada niatan untuk seperti yang dituduhkan itu. Justru kita ingin menunjukkan kearifan lokal di salah satu bagian toko kami. Kami hanya menyadur atau mencontoh dari bangunan yang sudah ada. Silakan browsing seperti apa gambar aslinya,” kata dia.

Mirip Makam Humayun

Berdasarkan penelusuran Radar, ornamen pada dinding di wahana permainan anak di Trans Studio Mini itu mirip dengan bangunan Humayun’s Tomb atau Makam Humayun di Delhi, India.

Menurut Wikipedia, Humayun’s Tomb adalah makam Kaisar Mughal Humayun di Delhi, India. Makam tersebut dipersembahkan oleh istri pertama dan permaisuri Humayun, Permaisuri Bega Begum pada tahun 1569-70 dan dirancang oleh Mirak Mirza Ghiya dan putranya, Sayyid Muhammad, arsitek Persia yang dipilih olehnya.

Makam Humayun juga merupakan bangunan pertama yang menggunakan batu pasir merah. Makam tersebut dinyatakan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1993 dan sejak saat itu telah beberapa kali direstorasi sehingga lebih lengkap. (igi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.