Dewan Miris, Pelajar Tewas karena Miras

10

CIAMIS – Semua stake holders di Ciamis harus bersatu. Bahu membahu. Kini miras telah memakan korban lagi. Di Kecamatan Panumbangan, tiga hari lalu, dua pemuda, salah satunya pelajar telah meregang nyawa akibat minuman memabukkan itu.

Ketua Komisi IV DPRD Ciamis Hendra Marcusi mengaku miris atas kasus tewasnya pelajar dan pemuda di Kecamatan Panumbangan itu.

“Tentunya ini menjadi presiden buruk juga bagi dunia pendidikan,” ujarnya kepada Radar, Selasa siang (18/9).

Hendra mengajak semua pihak menyelamatkan generasi muda, karena miras telah memakan korban. Di sekolah, pendidikan karakter harus diperkuat. Ilmu agama juga harus dipupuk kepada generasi muda.

“Makanya upaya penyelamatan generasi muda harus terus dila­kukan dengan penguatan karakter di semua sekolah serta ada peng­arahan dari BNN (Badan Narkotika Nasional, Red) terus menerus juga mengenai bahaya narkoba dan miras,“ papar Hendra.

Catatannya, kasus penyalah­gunaan miras oplosan di kalangan anak muda Ciamis dan pelajar bukan kali ini saja. Tapi sudah beberapa kali.

“Tentunya ini harus menjadi catatan bagi (dunia) pendidikan agar meningkatkan pemahaman karakter, sopan santun serta terus diberikan pemahaman kepada semua pelajar di sekolah-sekolahnya mengenai dampak bahaya dari narkoba dan miras bahwa bisa menyebabkan kematian,” ujarnya.

Dunia pendidikan di Ciamis, saran Hendra, harus intensif bekerja sama dengan kepolisian dan BNN. Mereka harus diundang datang ke sekolah-sekolah.

“Saya kira upaya tersebut juga bisa efektif dalam pencegahan pelajar terjun kepada kejahatan atau konsumsi barang haram narkoba atau miras,“ yakinnya.

Sekretaris Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Ciamis Vera Fillinda mengaku miras atas kasus tewasnya dua pemuda karena miras.

Perlu keterlibatan semua pihak untuk menangani kasus penyalahgunaan miras di kalangan anak muda. Termasuk pendampingan.

Karena, bisa jadi penyebab terjerumusnya anak muda ke dalam penyalahgunaan miras dan narkoba, karena latar belakang keluarga. Mereka kurang mendapatkan perhatian orang tua atau orang tuanya cerai.

“Hal itu jelas bisa berdampak pengaruh kepada anak dan ingin mencoba hal yang baru untuk menghilangkan stres tersebut. Makanya upaya ini juga harus ada pendampingan kepada mereka. Diberikan motivasi dan perhatian lebih. Sehingga dia akan kembali sadar dan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi,“ paparnya.

Vera mendukung kepolisian menindak tegas para penjual minuman keras dan memperketat pembelian alkohol 70 persen. Karena, barang tersebut saat ini justru disalahgunakan menjadi bahan miras oplosan.

”Saya kira hal itu juga salah satu upaya meminimalisir penyalahgunaan alkohol,“ ungkapnya.

Korban tewas akibat minuman keras (miras) di Kabupaten Ciamis belum berhenti. Di Kecamatan Panumbangan, dua pemuda meregang nyawa usai pesta miras oplosan bersama sembilan temannya.

Kapolsek Panumbangan AKP Tata Ruhiadi Widodo menerangkan pada Minggu (16/9), pihaknya mendapat informasi ada warga yang keracunan akibat minum miras oplosan di puskesmas.

Setelah dicek, ada empat pemuda yang sedang dirawat. Yakni seorang pelajar IS (15), Rud (21), Riz (19), dan TP (14).

Semuanya berasal dari Dusun Cibonteng Desa Tanjungmulya.
Pada Minggu sekitar pukul 18.00, terang Tata, IS dinyatakan meninggal dunia setelah dirujuk ke RSUD Ciamis.

Lalu, pada Senin (17/9) sekitar pukul 01.00, nyawa Riz juga tidak bisa diselamatkan. Mereka berdua sudah dimakamkan.

“Sementara yang dua orang (Rud dan TP, Red) sudah pulang. Yang tidak ke puskesmas tidak sampai apa-apa,” jelas kapolsek kepada wartawan.

Berdasarkan hasil pengumpulan keterangan, kata dia, pesta miras 11 pemuda itu dilakukan pada Sabtu (15/9) di gubuk milik Jam di Blok Balong Gede Dusun Cibonteng.

Dalam pesta itu, mereka meracik dua saset minuman berenergi dengan dua botol alkohol 70 persen lalu dicampur air mineral. (isr)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.