Audiensi Soal Kejelasan Kasus Lingkar Utara

Dewan Nyaris Terkena Air Mineral

130
LEMPAR. Direktur Lakma Development melempar gelas air mineral ke arah Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya Jeni Jayusman saat audiensi di ruang Badan Anggaran (Banggar), Jumat (30/11).

INDIHIANG – Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya Jeni Jayusman nyaris terkena gelas air mineral yang dilempar salah seorang peserta audiensi di Ruang Rapat Badan Anggaran (Banggar), Jumat (30/11).

Insiden itu bermula ketika sejumlah massa yang tergabung dalam Lembaga Kajian Masyarakat dan Pemuda (Lakma) Development beraudiensi di DPRD. Massa sudah bersiap audiensi sejak pukul 09.00 sesuai jadwal. Namun, audiensi baru bisa dimulai pukul 10.30. Itu pun hanya dihadiri oleh tiga wakil rakyat. Yakni Wakil Ketua DPRD Jeni Jayusman, Ketua Komisi III H Heri Ahmadi dan Sekretaris Komisi I Anang Safaat.

Saat audiensi dimulai, sempat terjadi adu argumen soal keterlambatan waktu. Para legislator pun membeberkan alasannya terlambat lantaran menghadiri beberapa agenda. Direktur Lakma Development Habibudin beserta pengurus lainnya Dadi Abidarda dan Iwan Restiawan pun melancarkan protes keras. Bahkan ada aksi gebrak meja. “Gimana ini, kita sudah tunggu dari jam 9 sudah mepet,” ungkap Habib seraya beranjak dari tempat duduknya di tengah rapat akan dimulai.

Jeni sempat meminta Habib kembali duduk dan mendengarkan alasan keterlambatan DPRD. Namun, beberapa pentolan Lakma terus melancarkan protes. Tak lama berselang, Habibudin melempar gelas air mineral ke arah Jeni. Untungnya hanya mengenai meja rapat. “Moal bener, engges hayu bubar,” ujar Habib seraya meninggalkan audiensi.

Jeni pun menutup pertemuan tersebut. Kemudian menjanjikan pertemuan ulang pada Senin mendatang. Iwan Restiawan langsung menghampiri dan meminta pertemuan tersebut diakhiri sambil menyalami satu persatu perwakilan DPRD. “Minggu depan pertemuan lagi aja, moal bener kang,” ucap Iwan.

Saat diwawancarai, Habibudin menjelaskan audiensi itu awalnya untuk meminta penjelasan legislatif atas perkembangan kasus Lingkar Utara (Lingtar). Namun, DPRD terkesan tidak serius. Selain datangnya lambat, ketua DPRD serta pihak lain yang diminta hadir tidak terlihat. “Kan begini, minggu lalu kami kirim surat permintaan audiensi.

Mereka memberi jawaban secara resmi hari ini jam sembilan. Tapi kita tunggu setengah sebelas belum juga datang. Malah hanya satu unsur pimpinan yang hadir,” ungkapnya.
Maka dari itu, dia kesal. Padahal audiensi itu sangat penting. Mengingat saat ini kasus proyek lingkar hanya menyeret satu orang saja sebagai tersangka.

“Pasalnya ini jadi kasus penggelapan. Seolah mempertontonkan permainan hukum terhadap publik. Ya sudah kita minta ini untuk ditegakkan, dengan membawa salah satu pemilik lahan H Yudi Misbahul Munir. Sebab, dulu DPRD sempat akan mengusulkan angket dan sampai sekarang tidak ada kelanjutannya,” beber dia.

Mandeknya pengusulan hak angket, kata Habib, seolah masyarakat diajak berapologi ada sesuatu antara pemkot dengan DPRD. “Dari 45 anggota DPRD, cuma satu yang masih menyuarakan hak angket yakni H Rachmat Sugandar. Nah, kita audiensi, seolah tidak serius. Jangan-jangan ada perselingkuhan antara pemkot dengan DPRD,” tudingnya.

Pihaknya akan kembali beraudiensi sesuai penjadwalan ulang yang disepakati. Mengingat, saat ini posisi tersangka kasus penggelapan dana konsinyasi dipandang sebagai bagian dari korban skenario. “Masa iya uang sebesar Rp 3,2 miliar ditransfer pemerintah ke rekening pribadi. Kita menilai tersangka saat ini hanya korban dari skenario elite pemkot dan DPRD,” tandasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya Jeni Jayusman saat diwawancarai terkait keterlambatan rekan-rekannya hadiri audiensi, enggan memberikan komentar apa pun. “No comment dulu,” singkatnya seraya tergesa-gesa meninggalkan area audiensi. (igi)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.