Dewan: Sistem Belajar Daring di Ciamis tak Efektif

133
0
KUT MENGAJAR. Ketua Komisi D DPRD Ciamis Syarif Sutiarsa ikut mengajar siswa di salah satu rumah guru di SDN 6 Situmandala Kecamatan Rancah Rabu (22/7). FOTO-FOTO: ISTIMEWA I

CIAMIS – Pandemi telah mengubah banyak hal. Di dunia pendidikan, anak-anak harus mengikuti konsep-konsep pembelajaran: daring (dalam jaringan) atau luar jaringan (luring).

Di dalam kota Ciamis, pembelajaran daring (online) tak mendapatkan masalah. Jaringan internet lancar. Siswa dan orang tuanya murid banyak yang memiliki handphone (HP).

Baca juga : Nenek Warga Cisaga Tenggelam di Curug Panganten Ciamis

Itu berbeda dengan pelosok Ciamis: sinyal suah. HP juga tidak sebanyak di kota.

Komisi D DPRD Kabupaten Ciamis memantau pengajaran di pelosok. Rabu (22/7) legislator terjun ke pinggiran. Apakah pembelajaran daring berjalan di pelosok? Ternyata sulit. Bahkan tak berlaku.

Guru memilih tatap muka dengan siswa. Walaupun terbatas. Siswa dikelompokkan berdasarkan tempat tinggal. Satu kelompok pembelajaran antara lima sampai delapan orang.

Ketua Komisi D DPRD Ciamis Syarif Sutiarsa memimpin monitoring ke pelosok. Dia mendapati pembelajaran di pelosok memang guru dan murid belajar luring.

Tatap muka. Terbatas. Gara-garanya ya karena susah sinyal. Siswa juga banyak yang tak memiliki HP, karena miskin.

Syarif memantau pembelajaran di SDN 1 Kawali dan SDN Rancah. Di sana, guru mendatangi perkampungan. Lalu mengelompokkan murid.

Mereka belajar di salah satu rumah orang tua murid. Jumlahnya terbatas. Paling banyak delapan orang.

Ada juga kelompok murid mendatangi rumah guru. Di sana mereka belajar. Tentunya tetap menggunakan protokol kesehatan.

“Memang upaya penerapan daring kurang efektif. Lebih baik memang metode guru datang ke kampung-kampung dikelompokkan ataupun murid yang datang ke rumah gurunya,” papar Syarif kepada Radar, Rabu (22/7).

Dalam kesempatan itu, Komisi D juga memantau penggunaan dana bantuan operasional sekolah (BOS). Di masa pandemi ini, dana BOS bisa digunakan operasional guru selama pengajaran luring.

“Kami Komisi D akan terus memonitor persoalan ini dengan harapan tidak ada persoalan-persoalan mencuat dalam penggunaan dana BOS,” tuturnya.

Hasil monitoring Komisi D, kata Syarif, di Ciamis ada tiga konsep pembelajaran. Pertama, pembelajaran daring. Kedua, pembelajaran semi daring.

Konsep ini, guru memberikan tugas kepada murid melalui WA dan ketiga, konsep pembelajaran kelompok. Ini untuk murid yang memiliki keterbatasan sarana.

“Saya apresiasi semua kinerja guru yang mengajar guna mencetak generasi bangsa yang baik,” paparnya.

Syarif dan anggota Komisi D lainnya tak memonitor pembelajaran, namun juga ikut mengajar.

“Jadi kita ikut memberikan materi pembelajaran terhadap anak-anak sekolah,” ujarnya.

Soal kendala pembelajaran daring, tidak hanya “memberatkan” sekolah dasar. Sekolah tingkat atas juga ada yang merasakan hal yang sama. Misalnya pelajar SMK Tarunajaya Kecamatan Banjarayar, Lina (17). Dia merasakan sulitnya jaringan internet di Desa Kalijaya. Jadi pembelajaran online kurang efektif.

“Makanya, harapannya buat pemerintah semoga pemerintah bisa lebih memperhatikan pengadaan jaringan terutama di daerah pelosok, seperti Desa Kalijaya ini agar kegiatan KBM tidak terkendala lagi,” ungkap Lina saat dihubungi Radar.

Baca juga : Dewan Minta Kasus Desa Baregbeg Lakbok Ciamis Diselesaikan dengan Musyawarah

Reni (17), pelajar SMK Tarunajaya juga menyebutkan kendala lainnya. Yaitu masalah pulsa atau kuota internet. Kadang ada siswa yang punya kuota, ada juga yang tidak.

“Harapan ke depan semoga corona segera hilang agar bisa sekolah seperti biasa lagi. Sekolah dibuka kembali dan bisa bertatap muka dengan guru-guru dan teman-teman bisa ngerjain tugas berang-bareng,” harapnya. (isr)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.