Cari Solusi Tangani Keluarga yang Tinggal di Kandang Sapi

Dewan Soroti Database Warga Miskin

109
1
Herdiana Pamungkas

BANJAR – Wakil Ketua DPRD Kota Banjar Herdiana Pamungkas mengaku prihatin dengan kondisi warga desa Langensari yang tinggal di bekas kandang sapi.

Dia menilai Pemerintah Kota (Pemkot) Banjar kurang kontrol dalam menangani kondisi warganya, terlebih masyarakat miskin.

“Menurut saya ini diakibatkan karena kurangnya kontrol dari pemerintah terhadap masyarakat. Soal pendataan warga miskin, harusnya keluarga masuk database dan segera ditangani dengan berbagai bantuan yang layak,” ujarnya.

Menurut dia, jika Dinas Sosial tidak mengetahui ada warga yang tinggal di tempat tidak layak, harus didalami problem atau kendalanya di tingkat mana.

“Apakah pendataannya di RT, RW atau desa yang kurang maksimal,” kata Ketua DPC Partai Gerinda Kota Banjar ini Rabu (26/5).

Ia juga menyoroti database warga miskin atau penerima PKH. Dia menganggap tidak maksimal dalam proses pembaharuannya. Buktinya, selama satu tahun keluarga yang tinggal di bekas kandang sapi tidak masuk database.

“Kami dari pihak legislatif meminta dinas terkait melakukan survei kembali ke lapangan secara riil, tidak tergantung pada data Badan Pusat Statistik (BPS). Dinas harus memastikan kembali dari data yang ada, apakah masih ada warga miskin yang belum terdata atau sebaliknya warga yang tadinya miskin kini sudah sejahtera,” tuturnya.

Herdiana juga menyoroti soal bantuan pendidikan. Katanya, tidak terdaftarnya dua anak pasangan Cecep Gunawan dan Yeni Suryani ini menjadi bukti bahwa pendataan warga miskin masih kacau.

Harusnya, dua anak yang kini mengeyam pendidikan di tingkat SMP itu mempunyai hak untuk menerima bantuan pendidikan.

“Kan sudah jelas tidak mampu orang tuanya, tinggalnya saja di bekas kandang sapi milik orang lain. Kenapa masih tidak terdata? Sekarang mau masuk ke kelas dua SMP kan sekolahnya. Tuh sudah satu tahun,” tanya dia.

Kordinator Forum Keluarga Mahasiswa Kota Banjar Awwal Muzakki menilai Pemerintah Kota Banjar kurang perhatian terhadap warga kurang mampu.

“Padahal tempat tinggal yang layak dan sehat merupakan satu kebutuhan dasar manusia dan merupakan faktor penting dalam peningkatan harkat dan martabat manusia, mutu kehidupan serta kesejahteraan rakyat,” kata dia.

Awwal berharap pemerintah kota segera menangani dengan cepat soal kemiskinan dan memberikan rumah atau bentuk bantuan yang layak dan sehat terhadap warganya yang tak mempunyai tempat tinggal ini.

Senada dengan itu, Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kota Banjar Ramdhani Rasikun mengaku prihatin.

“Berharap persoalan ini segera menemukan titik solusi. Minimal (pemerintah, masyarakat setempat, tokoh masyarakat, ormas LSM) ikut urun rembug bergotong-royong mencari solusi terbaik untuk keluarga malang secara ekonomi tersebut. Supaya keluarga tersebut bisa mendapatkan pola hidup layak serta berkecukupan dalam segi kebutuhan sandang, pangan, papan pendidikan dan kesehatan,” kata dia.

Sebelumnya, Pjs Kepala Desa Langensari Kecamatan Langensari Kota Banjar Angga Tripermana mengklaim bahwa warganya sudah didata dan diajukan mendapat bantuan dalam program-program pengentasan kemiskinan. Namun, kata dia, dalam proses pengajuannya terkendala domisili dan kepemilikan tanah.

“Keluarga ini (Yeni dan Cecep) baru tercatat menjadi warga Langensari pada Januari 2019, karena sebelumnya tinggal di Sulawesi sebagai transmigran. Bantuan bukan diupayakan lagi, tapi sudah mendapat bantuan, baik raskin setiap bulannya bahkan dapat bantuan juga sembako saat Idul Fitri dari Baznas,” kata Angga. (cep)

loading...

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.