Di Ciamis, Tersisa 160 Peternak Ayam Telur, Ratusan Lainnya Bangkrut

907
0
KUMPULKAN BARANG-BARANG. Peternak ayam rakyat di Ciamis mengumpulkan barang-barang di kandang ayam miliknya kemarin. Sampai saat ini ratusan peternak bangkrut. iman s rahman / radar tasikmalaya

CIAMIS – Peternak yang mengalami kebangkrutan di Ciamis tidak hanya peternakan rakyat ayam pedaging, namun petelur.

Salah satu penyebabnya, mereka ”kalah bersaing” dengan peternakan besar dan modern. Dari 360 peternak petelur, kini tinggal 160. Pemerintah harus turun tangan atas kondisi tersebut.

Baca juga : BKSDA Ciamis : Awas! Jangan Pelihara & Makan Kelelawar, Corona Mengancam Anda

Ketua Paguyuban Peternak Ayam Petelur Ciamis (P2APC) Ade Kusnadi alias Akaw menjelaskan peternakan ayam rakyat saat ini mengalami banyak masalah.

Mulai keadaan ekonomi yang masih belum membaik, daya beli masyarakat turun dan masih belum ada keberpihakan dari pemerintah kepada para pelaku usaha melalui kebijakan penyetabilan harga-harga. “Jadi kebijakan itu tidak jelas,” ujarnya kepada Radar, Rabu (5/2).

Saat ini, kata dia, harga daging ayam sekarang terus merosot. Itu berefek kepada hasil produksi dengan kebutuhan (biaya) produksi yang tidak seimbang. Biaya produksi lebih besar ketimbang hasil produksi. “Pada akhirnya suplai tidak stabil,” bebernya.

Permasalahan lainnya, kata dia, yaitu pengefisiensian tenaga kerja melalui peternakan besar dan modern. Karena sistem peternakan modern, membutuhkan tenaga yang lebih sedikit ketimbang peternakan rakyat.

Peternakan modern yang menggunakan sistem close house, satu kandang bisa sampai menampung 50.000 ekor. Pengelolaannya bisa dilaksanakan oleh 5 sampai 6 orang.

Kalau usaha peternak ayam rakyat, kata dia, satu kandang berisi 10.000 ekor ayam biasa dikerjakan 20, 25 sampai 30 orang.

“Artinya kalau kandang modern, tenaga kerja berkurang, pengangguran di Ciamis tambah banyak,” ujarnya. Di Ciamis, kata dia, saat ini sudah ada sekitar 30 peternakan modern dan besar.

Untuk itu, kata dia, harus ada peran pemerintah agar para peternak ayam rakyat masih tetap bisa eksis. Pemerintah harus merangkul mereka.

Baca juga : Kalah Bersaing & Modal Besar, Puluhan Peternak Ayam Rakyat di Ciamis Bangkrut

“Supaya para pelaku usaha tetap berdiri dan eksis, untuk melakukan kegiatan kerjanya, otomatis harus ada turut serta pemerintah dan kita harus bergandeng tangan,” ujarnya.
“Tentunya bagaimana kita sekarang sedang berpikir membikin konsep pakan mandiri,” ajak pengusaha yang tetap memilih menjadi peternak ayam rakyat.

Ditemui terpisah, Ketua Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) Nur Muttaqin SHI prihatin dengan kondisi peternak rakyat hari ini yang banyak gulung tikar. Mereka kalah bersaing dengan peternak modern dan besar.

Dia berharap Pemerintah Kabupaten Ciamis, dalam hal ini Dinas Peternakan dan Perikanan, harus bergerak cepat menyikapi banyaknya peternak ayam rakyat yang bangkrut.

Hitungannya, di Cihaurbeuti ada 40 peternak yang sudah terdata gulung tikar. “Kita kali jumlah keluarganya rata-rata 4 (orang), maka ada 160 orang yang terdampak ekonomi.

Belum lagi peternak yang ada di kecamatan lain,” ujar pria yang juga Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kabupaten Ciamis ini.

Nur Muttaqin, yang juga anggota Komisi A DPRD Kabupaten Ciamis, akan memperjuangkan nasib para peternak rakyat. “Kalau perlu di Ciamis dilakukan pembatasan kandang modern melalui perda atau perbup, sehingga peternak rakyat merasa dilindungi oleh pemilik modal besar,” ujarnya.

Anggota Komisi B DPRD Ciamis Imam Dana Kurnia mengaku akan berkonsultasi dengan pemerintah pusat melalui Dirjen Peternakan terkait keberlangsungan nasib peternakan rakyat kecil. “Jadi kehadiran negara dalam rangka melindungi keberlangsungan ekonomi peternak rakyat seperti apa?” ujarnya.

“Sebagai peternak rakyat harus dilindungi dan harus tetap berlangsung, makanya kita sekarang lagi perjuangkan. Nanti hasilnya kita akan bagikan bagaimana dari Kementerian itu besok (hari ini, Red),” ujarnya.

Peternak ayam rakyat di Desa Sukasetia Kecamatan Cihaurbeuti, sebelumnya, mengalami masalah. Sebagian dari mereka bangkrut, karena kalah bersaing dengan peternakan modern dan canggih.

Pantauan Radar, Selasa (4/1) sekitar pukul 09.00, Rusaf Diana Sufyan (30) tidak lagi beternak ayam. Padahal, warga Dusun Cinangka RT 04/07 Desa Sukasetia sudah beternak ayam sejak 2007. Sebagai peternakan ayam rakyat, dia kala itu memiliki 1500 ayam. Modal yang dia keluarkan Rp 60 juta.

Rusaf mengalami masa-masa menyenangkan saat beternak ayam pedaging kala itu. Harga jual stabil. Namun mulai 2017, dia merasakan masalah. Pakan ayam mulai dilarang menggunakan antibiotik. Mulai saat itu memang ada larangan pakan ayam mengandung antibiotik.

Namun, para peternak ayam menemukan solusi dari permasalahan tersebut. Meski demikian, dia tidak menjelaskan solusinya itu. Bisnis peternakan ayam daging pun bisa normal lagi.

Memasuki 2018, para peternak ayam rakyat mengalami masalah. Harga jual ayam murah. Saat itu dari harga per kilogramnya Rp 20.000 di kandang menjadi Rp 7.000 per kg.

“Karena harga yang memang rusak di tatanan peternak dan tidak stabil, serta harga pakan tetap Rp 8.000 per kg, sementara harga ayam murah saya pada bulan Agustus 2018 berhenti jadi peternak ayam,” ucap bapak anak satu itu.

Saat ini, dia bertekad mau beternak ayam lagi. Dia tadinya mau bergabung dengan mitra atau perusahaan besar penyedia ayam dan pakan. Namun persyaratan mitra itu kandangnya harus modern.

Dulu, kata dia, saat bermitra dengan perusahaan besar, masih bisa menggunakan kandang bambu. Namun sejak 2019 sampai 2020, hal itu sudah tidak bisa lagi. Peternak, seperti dia harus memiliki kandang ayam modern: menggunakan kipas dan pakai sistem komputerisasi. Kandang tersebut bisa menampung ayam sampai 6.000 ekor.

Kotoran ayam juga di dalamnya langsung kering dan tidak berbau. Untuk membuat kandang seperti itu, dia harus menganggarkan sekitar Rp 500 juta untuk satu kandang.

“Makanya saya sebagai peternak bukan modern jadi bangkrut, karena tidak mampu harus modal sampai ratusan juga, saya mampu juga modal Rp 60 juta itu juga spekulasi minjam ke bank,” tuturnya.

Setelah tidak lagi beternak ayam, dia kini menjadi tukang roti, karena modal membuat kandang ayam modern jelas tidak mampu. (isr)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.