Di Kota Tasik, Kegiatan Belajar Belum di Sekolah, Kecuali Praktik SMK

168
0

TASIK – Hari ini, 13 Juli 2020 tahun ajaran baru kalender pendidikan dimulai. Namun Kota Tasikmalaya masih berstatus zona biru sehingga belum diperbolehkan melakukan Kegiatan belajar Mengajar (KBM) di sekolah.

Proses belajar dengan sistem daring mengalami berbagai kekurangan. Selain kurang efektif, tidak semua siswa dan orang tuanya mampu menggunakan smartphone untuk proses belajar.

Baca juga : 10 Anggota Keluarga Pasien Positif Corona Warga Leuwisari Tasik Ikut Rapid Test

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Tasikmalaya, Bangbang Hermana mengatakan di tahun ajaran baru ini proses KBM masih menggunakan sistem daring. Hal ini sesuai dengan edaran dari pemerintah Kota Tasikmalaya.

“Masih daring, belum belajar di sekolah,” ungkapnya kepada Radar, Minggu (12/7).

Namun dia akui, sebagian siswa masih belum bisa melakukan KBM melalui daring. Karena terkendala sarana dan prasarana yang belum dimiliki orang tuanya. “Ya kan tidak semua orang tua mampu beli HP android,” terangnya.

Maka dari itu, mau tidak mau guru dituntut melakukan kunjungan ke rumah siswa. Supaya hak anak mendapatkan pembelajaran bisa tetap diberikan. “Mau tidak mau guru yang harus datang,” katanya.

Hal serupa juga diungkapkan ketua Kelompok Kerja Guru (KKG) MI yang mengutarakan hal yang sama. Masih ada siswa-siswa yang belum mampu melaksanakan KBM secara daring.

“Karena selain harus ada smartphone, harus ada kuota datanya juga dan itu perlu biaya,” ujarnya.

Rekan-rekannya pun mau tidak mau harus mendatangi siswa-siswa khusus itu. Hal ini tentunya membuat guru bekerja ekstra karena di satu sisi harus tetap memberikan pembelajaran via daring dengan siswa lainnya. “Pasti butuh tenaga ekstra,” katanya.

Arif menyebutkan proses pembelajaran daring mungkin bisa berjalan untuk siswa SMP atau SMA sederajat. Tapi untuk siswa SD dan MI, hal itu bukan perkara yang mudah.

“Bayangkan saja, anak kelas satu SD itu baru saja sekolah sudah langsung proses daring,” tuturnya.

Beda halnya dengan SMK, untuk pembelajaran materi mereka memang melakukan secara daring. Akan tetapi untuk pelajaran praktisi, mereka tetap melakukannya di sekolah.

Baca juga : VIDEO Anggota DPR RI Jadi Calon Bupati Tasik, Klaim Jalankan Amanah Para Kyai

“Karena tidak memungkinkan pelajaran praktisi secara daring,” ungkap Ketua MKKS SMK Kota Tasikmalaya Dr H Wawan SPd MM.

Pada pelaksanaannya, protokol kesehatan tetap dilaksanakan. Karena pihak sekolah pun tidak mau terjadi penularan. “Misalkan untuk otomotif, yang biasanya satu motor oleh dua orang jadi satu orang saja,” imbuhnya. (rga)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.