Di Pangandaran Masuk Sekolah Tanggal 15 Juni

2596
0
RAPAT VIRTUAL. Bupati Pangandaran H Jeje Wiradinata (kanan) koordinasi dengan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengenai penanganan Covid-19 di Jawa Barat Jumat (29/5). Hasilnya Kabupaten Pangandaran ditetapkan zona biru dan boleh menerapkan adaptasi kebiasaan baru.
RAPAT VIRTUAL. Bupati Pangandaran H Jeje Wiradinata (kanan) koordinasi dengan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengenai penanganan Covid-19 di Jawa Barat Jumat (29/5). Hasilnya Kabupaten Pangandaran ditetapkan zona biru dan boleh menerapkan adaptasi kebiasaan baru.

PANGANDARAN – Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Pangandaran rencananya segera memberlakukan kembali belajar di sekolah pada 15 Juni 2020. Sebelum ada keputusan resmi, kegiatan belajar-mengajar masih menerapkan sistem belajar daring di rumah.

Bupati Pangandaran H Jeje Wiradinata mengatakan, Pemda Kabupaten Pangandaran sedang merumuskan kebijakan pemberlakuan adaptasi kebiasaan baru untuk lembaga pendidikan.

Karena dalam memberikan pelayanan pendidikan di tengah pandemi Covid-19 ini harus diutamakan keamanan dan keselamatan civitas akademika sekolah.

“Semoga pada Senin 15 Juni sudah mulai aktif kembali kegiatan belajar mengajar di sekolah. Kita sedang mempersiapkan dengan matang,” katanya kepada Radar, Senin (1/6).

Sambung H Jeje, pihaknya terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Pangandaran untuk menangani sekitar 96 SD dan SMP yang sudah digunakan untuk isolasi khusus agar dapat disterilkan. Hal tersebut bentuk antisipasi perpindahan Covid-19 ke siswa atau guru.

“Akan ada pengecekan untuk tempat yang pernah dibuat ruang isolasi khusus dan dilakukan penyemprotan sebelum digunakan untuk kegiatan belajar mengajar,” ujarnya.

Loading...

Selanjutnya, pihaknya sudah menginstruksikan kepada Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Pangandaran untuk mengaplikasikan dan menyosialisasikan panduan cara belajar di masa adaptasi kebiasaan baru kepada kepala sekolah, guru dan orang tua siswa.

Disdikpora sudah mempersiapkan panduan kegiatan belajar-mengajar di sekolah dalam penerapan adaptasi kebiasaan baru.
Di antaranya, lembaga pendidikan dari SD sampai SMP membuat jadwal shift dalam metode pembelajaran. Sehingga ketika di ruangan kelas, siswa terisi maksimal 10 orang.

“Jadi setiap guru ketika ada 34 siswa harus membuat 3 shift kelompok belajar. Bisa dengan metode bergantian, ada yang di kelas ada juga yang belajar di rumah,” katanya.

Selanjutnya seusai dengan standar operasional prosedur (SOP) protokol kesehatan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dibatasi dan harus menggunakan alat pelindung diri (APD).

Adapun lama belajar di PAUD ataupun TK hanya 1 jam, SD 3 jam dan SMP 4 jam. Kemudian, tidak ada jam istirahat dan kantin selama pandemi Covid-19 tidak boleh dibuka.

“Belajar harus lebih cepat, tidak ada jam istirahat, dan kantin harus ditutup. Serta wajib pakai masker dan membawa bekal dari rumah,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya melarang warga sekolah yang sakit untuk berangkat ke sekolah. Selain itu pihak sekolah harus menyediakan fasilitas umum tempat cuci tangan. Hal tersebut untuk menjaga kesehatan bersama.

”Saya sudah meminta Dinas Pendidikan untuk menyosialisasikan ini kepada kepala sekolah, guru, dan orang tua siswa. Sehingga rencana new normal di sekolah pada Senin (15/6) sudah diberlakukan,”  katanya.

Terpisah, Kepala Seksi Pendidikan Kantor Kemenag Kabupaten Pangandaran H Nana Supriatna mengatakan, untuk proses KBM di tengah pandemi Covid-19, Kemenag langsung melaksanakan acuan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Nomor 2791 tahun 2020 tentang Panduan Kurikulum Darurat Pada Madrasah.
Oleh karena itu, pihaknya sudah memberikan rambu-rambu untuk peningkatan pendidikan karakter siswa.

“Jadi kita konsepnya kurikulum darurat dengan menggunakan merdeka belajar di tengah pandemi. Seperti siswa diberikan peningkatan amal ibadah, kemandirian dan keterampilan, peningkatan ibadah amaliyah, serta kesalehan sosial,” katanya kepada Radar, Kamis (28/5).

Konsep merdeka belajar, kata Nana, semua itu rujukannya dari undang-undang sistem pendidikan nasional (Sisdiknas).

Penerjemahannya yakni pendidikan karakter, karena di saat pandemi Covid-19 belum mampu untuk menerapkan capaian kurikulum yang sudah ditetapkan kalender akademik.

Akhirnya, kata ia, target sisi lain yang perlu ke siswa. Misalnya pendidikan karakter saat di rumah dengan cuci piring, membantu pekerjaan orang tua dan olahraga di rumah.

“Siapa pun bisa jadi guru, apa pun bisa menjadi ruang kelas,” katanya. (riz)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.