Beranda Umum Di Tangan Jokpin Puisi Membiak

Di Tangan Jokpin Puisi Membiak

29
0
BERBAGI
Buku : Telepon Genggam Penulis : Joko Pinurbo Penerbit : Bababasi

Jokpin sering mengolah perkara menjadi beberapa sajak. Dengan narasi dan angle yang berbeda-beda. Bahkan, dia tidak menabukan terjadinya pengulangan.

PERTENGAHAN 2017 saya mendapat kejutan. Yang tidak bisa saya lupakan. Sampai sekarang. Yakni, sebuah paket berisi tiga buku sekaligus.

Tiga buku puisi itu dikirim langsung oleh penulisnya. Salah satu penyair top Indonesia. Peraih pelbagai penghargaan sastra. Di halaman pertama ada pesan lengkap dengan nama dan tanda tangan sang penyair: Untuk Samsudin Adlawi, Selamat Beribadah Puisi, Joko Pinurbo. Tulisan tangan itu diakhiri dengan tanggal pengiriman bukunya: jokpin, 7/6/2017.

Terus terang, saya sangat terkejut. Tidak menyangka bakal dikirimi buku puisi oleh Jokpin. Tiga buku lagi. Siapa yang tidak tersanjung mendapat hadiah buku puisi dari penyair yang dikaguminya.
Apalagi, secara face-to-face, saya belum pernah berkenalan dengan penyair yang bahasa dan logika puisinya sangat sederhana itu. Tapi, secara karya, sudah lama saya mengakrabinya.

Saya benar-benar kesengsem sama puisi-puisi Jokpin. Dia lihai membalut pengindraan terhadap fenomena di sekitarnya dengan keluguan bahasa puisi. Makanya, secara khusus, saya membahas salah satu puisi Jokpin, Pemeluk Agama, di kolom Bahasa! Majalah Tempo (2 Mei 2016) dengan judul Pinurbo Memeluk Agama.

Inilah tiga buku yang dikirim Jokpin kepada saya: Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu (MIAATDM), Telepon Genggam (TG), dan Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (SMIP). Buku pertama dan ketiga sudah cetak ulang. Buku MIAATDM dicetak pertama pada Agustus 2016 dan dicetak lagi pada April 2017. Adapun buku SMIP kali pertama dicetak pada Juni 2016, lalu dicetak lagi April 2017. Sedangkan TG baru dicetak pada Juni 2017.

Puisi-puisi dalam tiga buku itu merupakan karya lawas Jokpin. MIAATDM menjadi wadah sehimpunan karya puisi yang digubah Jokpin mulai 1980-an hingga 2012. Sebagian besar malah pernah dimuat dalam sejumlah buku Jokpin, mulai Celana (1999) sampai Tahilalat (2012). Buku SMIP juga sama. Memuat 121 puisi Jokpin dari kurun 1989 hingga 2012.

”Sebagaimana biasa, saya melakukan perbaikan di sana-sini,” tulis Jokpin dalam pengantar bukunya itu. Meski demikian, tidak akan pernah bosan membaca puisi-puisi Jokpin. Sekalipun dimuat ulang di sejumlah buku.

Namun, dalam tulisan ini saya memilih hanya berfokus pada kreativitas Jokpin. Bukan pada teori dan gaya penulisan puisi peraih penghargaan South East Asian (SEA) Write Award pada 2014 itu. Teori dan gaya penulisan puisi Jokpin sudah “selesai”. Sering dibahas para kritikus dan sesama penyair.

Kreativitas yang saya maksud di sini adalah keusilan Jokpin dalam mengutak-atik sebuah objek. Dia sering mengolah perkara menjadi beberapa sajak. Dengan narasi dan angle yang berbeda-beda. Bahkan, dia tidak menabukan terjadinya pengulangan.

“Pengulangan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti dan disingkiri,” tulis Jokpin di catatan penutup (halaman 80) buku puisinya, Telepon Genggam.

Atas kreativitasnya mengutak-atik subjek itu, di tangan Jokpin sebuah puisi bisa berkembang biak. Beranak pinak. Puisi Telepon Genggam (2002–2003), misalnya, telah melahirkan (puisi) telepon lainnya. Yakni Telepon Tengah Malam yang dia tulis pada 2004. Atau selisih setahun setelah lahirnya Telepon Genggam.

Setahun kemudian, tepatnya pada 2005, Telepon Genggam Jokpin membiak lagi, menghasilkan puisi Pesan dari Ayah.

Ayah memenuhi janjinya. Pada suatu tengah-malam telepon genggamku terkejut mendapat kiriman pesan dari Ayah, bunyinya: ”Sepi makin modern.” Demikian bait keempat puisi Pesan dari Ayah.
Bukan hanya Telepon Genggam, sejumlah puisi Jokpin lainnya juga sudah beranak pinak. Salah satu puisi hasil kembang biak dari puisi Jokpin sebelumnya adalah puisi Mandi dan Mandi Malam.

Dua puisi itu ditulis Jokpin pada tahun yang sama: 2003. Lalu, ada puisi Laki-Laki tanpa Celana yang ditulis lumayan lama. Yakni 2002 hingga 2003. Jokpin tak sungkan mengakui bahwa puisi Laki-Laki tanpa Celana dipicu puisi Celana 1 sampai 3 yang dia gubah pada 1996. Juga puisi Tanpa Celana Aku Datang Menjemputmu (2002).

Setelah membaca selama beberapa bulan, saya tak lagi dihantui teka-teki: Apa maksud Jokpin mengirimi saya tiga buku puisinya sekaligus. Saya sudah berhasil memecahkan teka-teki. Yakni, di tangan Jokpin puisi bisa berkembang biak. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here