Sistem Sewa Modus Baru Peredaran Narkotika

Di Tasik, 4 Kali Hisap Sabu Rp 100 Ribu

10
Deputi Pemberantasan BNN Irjen Pol Arman Depari (kiri) menunjukkan barang bukti narkotika saat rilis kasus narkotika di kantor BNN, Jakarta, Selasa (22/5). BNN mengungkap dua jaringan sindikat narkotika di Aceh dengan barang bukti sebanyak 30 kg sabu dan di Pekanbaru dengan barang bukti 7,93 kg sabu dan 9.900 butir pil ekstasi dari enam orang tersangka yang satu di antaranya tewas ditembak petugas.. FOTO:MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

JAKARTA – Peredaran narkotika dengan pengendali dari balik jeruji besi tidak ada habisnya. Meski berulang kali Badan Narkotika Nasional (BNN) menindak tegas para pelaku, tidak lantas membuat pengedar lain yang belum ditindak jera. Terbaru, BNN mengungkap modus anyar peredaran narkotika di Tasikmalaya, Jawa Barat (Jabar). Tidak lagi menjual, kali ini pengedar menyewakan narkotika kepada pengguna.

Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari menyampai­kan baru kali pertama instansinya mengungkap peredaran sabu dengan modus sewa. ”Iya benar modus baru,” ungkap dia ketika dikonfirmasi Jawa Pos Rabu (12/9). Menurut pria yang lebih akrab dipanggil Arman itu, instansinya bersama BNN Kota Tasik sudah lama bergerak untuk menyelidiki kasus tersebut.

Namun, penggerebekan baru dilaksanakan akhir bulan lalu. Arman menjelaskan bahwa pelaku atas nama YA merupakan mantan pegawai negeri sipil (PNS). ”Dipecat karena tindakan kriminal,” imbuh perwira tinggi Polri dengan dua bintang di pundak itu. Yang bersangkutan, sambung dia, tinggal di sebuah rumah dua lantai di Jalan Tentara Pelajar, Kelurahan Nagarawangi, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya.

Salah satu kamar di rumah tersebut diubah menjadi tempat penyewaan narkotika. Adalah narkotika jenis sabu yang disewakan oleh YA kepada para pelanggannya. ”Harga yang dibayar pelanggan Rp 100 ribu per empat kali hisap, dibayar di muka,” jelas Arman. Dari lokasi penggerebekan, petugas mengamankan sejumlah barang bukti. Di antaranya sisa sabu sebanyak 3,89 gram, uang tunai Rp 35 juta, bong atau alat hisap sabu, dan timbangan digital.

Modus yang dilakukan oleh Yoga dalam mengedarkan sabu memang beda dari kebanyakan pengedar. Dia tidak menjual dan bertransaksi dengan pengguna secara langsung. ”Sabu dan bong sebagai alat hisap dan peralatan lainnya digunakan di tempat,” terang Arman. Saat penggerebekan, sambung dia, petugas juga mendapati tiga orang pengguna. Mereka turut diamankan dan sudah dimintai keterangan.

Berdasar keterangan yang dikantongi oleh petugas dari pelaku, tempat penyewaan sabu itu sudah cukup lama beroperasi. ”Sudah berlangsung lebih dari satu tahun,” ucap Arman. Tidak hanya itu, tempat penyewaan sabu tersebut juga selalu buka setiap hari. ”Buka 24 jam non stop,” tambah dia. Lantaran menganggu dan meresahkan masyarakat, petugas mengambil langkah tegas.

Lebih lanjut Arman menyampaikan bahwa peredaran sabu yang dimotori oleh YA di Kota Tasikmalaya turut melibatkan pelaku lain yang masih mendekam di lembaga pemasyarakat (lapas). ”Menurut keterangan tersangka (YA) bahwa sabu didapat dari seorang narapidana di Lapas Jelekong, (Kabupaten) Bandung,” ucap dia. Narapidana tersebut bernama AS.

Diberitakan sebelumnya, penyalahgunaan dan peredaran narkoba masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Hal ini setelah diungkapnya dua jaringan narkoba oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Tasikmalaya pada Senin (10/9).

Jaringan pertama, lembaga non kementerian tersebut mengamankan seorang Satpam berinisial ES (34) dan juru parkir liar, HH (40) yang ditangkap pada 22 Agustus 2018. Keduanya merupakan pengedar, petugas BNN mendapatkan barang bukti 1 paket sabu seberat 0.85 gram, 1 unit HP, uang tunai Rp 150 ribu dan 1 lembar bukti transfer. Mereka mengaku mendapatkan barang dari peredaran yang diduga dikendalikan oleh napi di Lapas.

Sedangkan jaringan kedua, BNN mengamankan YT, EAH, YA dan RZ di Jalan Tentara Pelajar Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya. Mereka digerebek melakukan pesta sabu-sabu di rumah YT. “Empat orang itu diamankan pada 26 Agustus 2018,” ungkap Kepala BNN Kota Tasikmalaya H Tuteng Budiman saat ekspos kasus, Senin (10/9).

Menurut Tuteng, sabu-sabu yang mereka gunakan didapat dari seorang kurir dengan menggunakan sistem tempel. Transaksinya dikendalikan oleh narapidana yang sedang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). “Tapi yang jelas bukan di Lapas Tasikmalaya,” tuturnya.

Selain menjual, kata Tuteng, salah satu pengedar juga menyediakan bong untuk pembelinya. ”Penggerebekan ini berawal dari laporan masyarakat,” paparnya.

Saat penggerebekan, kata dia, rumah YT terlihat tidak ada yang mencurigakan. Namun ketika masuk, ada tangga khusus ke lantai dua yang menjadi tempat pesta sabu-sabu. “Dari depan rumahnya seperti satu lantai, tapi pas masuk ada tangga yang sekilas tidak kelihatan,” bebernya.

Ketika petugas datang, mereka sedang melakukan pesta sabu-sabu. Keempatnya pun tidak bisa mengelak saat ditangkap oleh petugas BNN dan mengamankan 2,9 gram sabu-sabu dan 2,25 gram ganja kering beserta beberapa bong dan Hp yang mereka gunakan sebagai barang bukti. Dalam penggeledahan pun BNN mengamankan uang sebanyak Rp 23 juta, diduga kuat hasil penjualan barang terlarang itu.

Tuteng menambahkan informasi yang didapat BNN, modus penjualan yang dilakukan YT dengan menyiapkan sabu-sabu dan bong. Konsumen kemudian harus membayar Rp 100 ribu untuk satu shoot penggunaan sabu-sabu. “Jadi seperti rental, dia tidak menjualnya seperti kebanyakan pengedar,” tuturnya.

BNN terus melakukan penyelidikan dan pengembangan terkait kasus peredaran narkoba tersebut. Namun demikian para tersangka belum kooperatif dan lebih banyak berkelit. “Ngakunya masih baru-baru ini, tapi informasi yang masuk mereka sudah lama,” katanya.

Dijelaskan Tuteng, YT merupakan pegawai negeri sipil (PNS) yang dipecat sekitar tahun 90-an akibat kasus pencurian. Sehingga dia menilai pelaku bukan orang baru di dunia kriminal. “Saya tahu, dia dulunya PNS tapi dipecat karena kasus pencurian,” imbuhnya.

Wali Kota Tasikmalaya Drs H Budi Budiman yang hadir dalam ekspos tersebut mengapresiasi kinerja BNN Kota Tasikmalaya atas terungkapnya dua kasus penyalahgunaan dan peredaran narkoba tersebut. Guna menekan peredarannya, dia meminta BNN serta aparat kepolisian bekerja lebih ekstra melakukan penyelidikan dan mengungkap kasus lainnya. “Alhamdulillah dengan terungkapnya kasus ini, BNN juga harus melakukan pengembangan kasusnya,” ungkap dia.

Budi mengimbau masyarakat khususnya generasi muda supaya terhindar dari narkoba. Pasalnya penyalahgunaan narkoba berpengaruh merusak masa depan bangsa serta pembangunan mental masyarakat. “Kalau generasi mudanya menjadi pecandu narkoba, tidak terbayang bagaimana nasib Kota Tasikmalaya ke depan,” pungkasnya. (syn/jpg/rga)

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.