Dianiaya Ibu Tiri, ABG Asal Subang Kabur ke Jalanan, 5 Tahun Kisahnya Ditulis & Kini Dirawat KPAID Kabupaten Tasik

125
0
radartasikmalaya.com
Komisioner KPAID Jabar, Asep Nurjaeni bersama Mochamad Riansyah (12) di Sekretariat HMI Tasik Jalan Sutsen, Kota Tasik, Kamis (19/11) siang. rezza rizaldi / radartasikmalaya.com

KOTA TASIK – Mengaku kerap dianiaya ibu tirinya, Anak Baru Gede (ABG) asal Subang ini nekat kabur dari rumahnya.

Selama 5 tahun, bocah bernama Mochamad Riansyah (12) yang akrab disapa Rian ini, berkelan ke beberapa kota termasuk Jakarta hingga akhirmya tiba di Tasikmalaya.

Dia berpindah-pindah tempat. Mulai dari Jakarta, Bandung, Garut, hingga kini mendarat di Kota Tasik, Rabu (18/11) pagi .

Tiba di Kota Tasik, dia menuju di Pasar Cikurubuk, lalu berjalan kaki hingga akhirnya istirahat di Sekretariat HMI di Jalan Sutsen.

Kamis (19/11) pagi, usai mendapat informasi, Komisioner Komisi Penanggulangan Anak Indonesia (KPAID) Provinsi Jawa Barat, Asep Nurjaeni, turun tangan melakukan penanggulangan.

Asep pun langsung melakukan komunikasi dengan Rian. Selang beberapa jam, dia pun bisa menarik kesimpulan. Secara kondisi Rian sehat dan terbilang termasuk anak yang cerdas.

“Dia secara umum kondisinya sehat, otaknya cerdas. Perjalanan dari rumah kemana saja selama 5 tahun dia tulis di sebuah buku yang dibawa kemana-mana,” ujar Asep kepada radartasikmalaya.com.

Terang dia, Rian hidup 5 tahun di jalanan. Selama itu dia tidur di pinggiran toko.

Rian pun sempat mendapat kekerasan fisik. Jidat sebelah kirinya tepat di atas alis terdapat luka belas pukulan.

“Rian mengaku kabur dari rumah karena mendapat kekerasan dari Ibu tirinya. Di betis kakinya ada bekas-bekas luka pukulan menggunakan sapu. Namun demikian kondisinya bagus dan bisa komunikasi nyambung,” terangnya.

Dia menambahkan, kini Rian akan mendapatkan perawatan di KPAID Kabupaten Tasikmalaya.

Asep mengaku sudah berkoordinasi dengan Ketua KPAID Kabupaten Tasik, Ato Rinanto.

“Anak ini sementara akan dirawat dulu di KPAID Kabupaten Tasik. Dia cerdas, semua perjalanan dari rumah hingga hidup di jalanan ditulis di buku diary-nya. Sampai sempat menulis untuk DPR soal RUU Omnibus Law,” tambahnya.

“Rian juga sempat menulis dibuku hariannya itu soal Ibu Susi Pudjiastuti, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan. Kata dia, Bu Susi ramah dan tegas. Berani menenggelamkan kapal asing yang nyuri ikan di wilayah kita,” sambungnya.

Asep menandaskan, Rian akan dipulihkan mentalnya di KPAID Kabupaten Tasik karena disana lengkap ada psikolog, tempat bermain anak dan lainnya.

Rian secara umum bukan murni anak jalanan (Anjal). Hanya, dia kabur karena dapat kekerasan di rumah.

“Apalagi dia juga sempat menjadi korban kekerasan seksual saat hidup di Pasar Senen Jakarta. Makanya kami tak akan langsung menyerahkan kepada orang tuanya. Orang tuanya juga harus kita kasih pemahaman agar tak mengulangi perbuatannya,” jelasnya.

Sedangkan Rian mengaku adalah anak dari ayah Didi dan ibu Eni. Dia kabur dari rumahnya di Subang karena kerap mendapat kekerasan dari ibu tirinya. Makanya, dia kabur dari rumahnya dan hidup di jalanan.

“Dari awal kabur mau ke Jakarta. Tapi di sana keras hidup di jalanan. Sempat dipukul karena tak mau ngasih uang ke preman. Uang saya hanya ada Rp3 ribu. Itu buat makan,” tuturnya.

Jelas dia, kini dia tak mau kembali ke Jakarta karena di sana jadi zona merah Covid-19. Dia menyebut Jakarta saat ini adalah jadi tempat induknya Corona.

“Lokasi tujuan ke Jakarta mau cari kerjaan tapi sekarang takut, karena di sana tempat induknya Corona. Saya tak mau pulang ke Subang juga karena takut di sana galak (ibu tirinya, Red),” jelasnya.

(rezza rizaldi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.