Siapa calon Bupati Tasikmalaya pilihan anda?

0.1%

0.9%

60%

2.4%

0.2%

4.5%

20.1%

11.7%

0%

0.1%

0%

Dianiaya Suami Lebih Pilih Diam

69
0
Vera Fillinda SH MH Sekretaris P2TP2A Kabupaten Ciamis

CIAMIS – Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Ciamis mengidentifikasi istri-istri yang dianiaya oleh suaminya jarang melapor ke kepolisian. Mereka lebih memilih diam, memaafkan atau langsung bercerai.

Sekretaris P2TP2A Kabupaten Ciamis Vera Fillinda SH MH menerangkan, para korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) memilih diam atau memaafkan lantaran mempertimbangkan keberadaan anaknya. Para istri itu juga tidak berdaya secara ekonomi sehingga sangat bergantung pada penghasilan suami. “Jadi sejauh ini secara data di Kabupaten Ciamis, minim pelaporan mengenai kekerasan terhadap perempuan. Jadi tahun 2018-2019 tidak ada laporan. Padahal kalau lapor bisa saja banyak,” tutur dia kepada Radar, Minggu (8/12).

Menurut Vera, negara hadir dalam melindungi perempuan di antaranya dengan adanya Undang-Undang Penghapusan KDRT. Akan tetapi banyak dari kaum perempuan sendiri yang masih enggan melapor ke jalur hukum ketika dirinya mengalami KDRT. Biasanya mereka cukup ingin didengar keluh kesahnya saja. Setelahnya korban memilih kembali ke dalam rumah tangga. “Untuk itu kami imbau kepada perempuan sudah harus berdaya secara ekonomi, karena denga begitu mereka tidak akan merasa ketakutan melanjutkan kehidupan tidak harus selalu bergantung pada suami,” kata dia.

Dia juga mengingatkan kepada para istri agar tidak takut melaporkan suaminya ke polisi bila melakukan penganiayaan yang berlebihan. Suami-suami yang doyan menyiksa itu harus diberi efek jera. “Jangan takut melapor ke penegak hukum, karena korban selalu akan dilindungi,” ujar dia.

Kasat Reskrim Polres Ciamis AKP Risqi Akbar SIK membenarkan, laporan KDRT di Ciamis sangat minim dari tahun ke tahun. Pihaknya mengimbau para perempuan agar tidak takut melapor ke polisi bila jadi korban penyiksaan suami. “Bila orang melakukan tindakan kekerasan bisa dikenakan pasal 44 UU No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Ancaman minimal lima tahun maksimal 15 tahun penjara,” tutur dia.

Sementara itu, sejak 25 November hingga 10 Desember, P2TP2A turut serta memperingati Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Kampanye ini rutin dilakukan di seluruh dunia sejak digagas oleh Women’s Global Leadership Institute tahun 1991 yang disponsori oleh Center for Women’s Global Leadership. (isr)

loading...
Halaman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.