Dibikin di Pabrik Sumpit Kawalu Kota Tasik, Narkoba Disebar ke Surabaya, Pelaku Terancam Hukuman Mati

188
0

KOTA TASIK – Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkap kasus peredaran narkoba jenis pil PCC yang diproduksi di pabrik sumpit di Kecamatan Kawalu, Kota Tasik, Rabu (27/11).

Terungkap, 9 orang tersangka diduga terlibat dalam kasus peredaran pil haram ini.

Deputi Pemberantasan BNN, Irjen Pol Arman Depari menjabarkan kasus ini.

Kata dia, pil PCC ini per hari diproduksi di Kawalu. “Jumlahnya per hari 120 ribu butir. Pil ini masuk narkotika golongan 1 jenis Carisoprodol,” ujarnya kepada radartasikmalaya.com.

Terang dia, di pabrik sumpit yang dijadikan lokasi pembuatan PCC ini pihaknya menangkap 3 pelaku.

Mereka adalah Jok (24), Had (39), dan Sug (38). Jok diketahui warga Cilacap, Jawa Tengah. Had adalah warga Banyumas, Jawa Tengah, dan Sug warga Mangkubumi, Kota Tasik.

“Dari pabrik ini kita amankan barangbukti selain pil PCC siap edar, juga ada mesin pencetak obat, mesin mixing, oven, alat press packing, kompresor dan plastik packing. Juga ada pil PCC merek Zenith dalam karung plastik dan beberapa dus PCC merek Canophen,” terangnya.

Dan di waktu yang sama, Selasa (26/11), pihaknya juga mengamankan 4 tersangka lainnya di sebuah rumah makan di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah.

Mereka adalah Ar (25), Er (24), Yoh (27), dan Ag (57). “Dari 4 pelaku ini kami amankan barang bukti 2 dus yang berisi 60.000 butir Carisorodol,” bebernya.

“Arab warga Cilacap, Jawa Tengah, Er warga Cilacap, Jawa Tengah, Yoh warga Cilacap, Jawa Tengah dan Ag warga Arcamanik, Bandung. Mereka masuk dalam kelompok ini juga,” sambungnya.

Lalu sore harinya, pihaknya juga menggerebek sebuah gudang di Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. “Di gudang ini kami amankan 2 orang. Dia adalah Setiono (62) warga Cilacap, Jawa Tengah dan Nurjamal (25), warga Demak, Jawa Tengah,” tambahnya.

Dari gudang ini, pihaknya mengamankan 43 dus yang berisi 1.290.000 butir pil PCC jenis Carisorodol.

“Jadi totalnya 2 juta butir dan semua dibuat di pabrik sumpit ini. Jadi jalurnya itu dari pabrik Kawalu dikirim ke gudang di Cilacap. Kemudian, dari Cilacap dibawa ke Surabaya dan di sebar ke kota lain di Jawa,” tandasnya.

Lalu, jelas dia, dari Surabaya juga pil terlarang tersebut disebar ke Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, hingga ke Sulawesi.

“Mereka masuk jaringan pengedar internasional. Karena salah satu bahan pembuatan pil ini hanya didapati di luar negeri. Jadi kami simpulkan memang mereka masuk jaringan internasional,” jelasnya.

Para pelaku ini melanggar pasal 114 ayat 2 Jo Pasal 132 ayat (1) 112 ayat 2 Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009, dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara atau hukuman pidana mati. “Minimal 4 tahun penjara,” tegas Arman.

(rezza rizaldi/ radartasikmalaya.com)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.