Didik Anak TKI, Kemendikbud Kirim 100 Guru ke Malaysia

8

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

JAKARTA – Kepastian anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) untuk mendapatkan jaminan pendidikan di luar negeri kerap menuai hambatan. Selain karena status warga negara Indonesia (WNI) yang disandang, masalah biaya juga menjadi persoalan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akhirnya mengambil inisiatif untuk mengirim tenaga pengajar terbaiknya. Kali ini tujuannya ke Malaysia. Jumlahnya 100 orang guru.

95 guru akan ditempatkan di pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang tersebar di wilayah Sabah dan Sarawak. Sementara sisanya akan ditempatkan di Kunching, Malaysia, setelah perizinan rampung.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, mengaku yakin para tenaga pengajar mampu memenuhi kebutuhan pendidikan para peserta didik.

Ini karena guru yang disiapkan benar-benar memiliki kemampuan bagus. Bukan hanya soal pengetahuan namun juga bisa survive.

“Para guru, kita tuntut agar mampu menggali potensi anak-anak Indonesia di tempatnya bertugas, sehingga lebih banyak siswa sukses nantinya,” ujarnya di Kantor Kemendikbud, Minggu (4/11).

Muhadjir menilai kapasitas dan kualifikasi guru yang akan dikirim mampu memenuhi ekspektasinya. Baginya, inilah kesempatan para tenaga pengajar terpilih menunjukkan kemampuan. Tanggung jawab besar yang diemban, kata dia, para guru juga membawa nama besar Indonesia.

“Anda (sebagai guru) adalah wajah dari negara Indonesia yang akan berada di Malaysia,” ucapnya.

Muhadjir mengungkapkan, masih ada sekitar seratus ribu anak Indonesia yang belum terlayani pendidikannya. Kata dia, pemerintah baru sanggup melayani sekitar 28 ribu anak di Malaysia.

“Dan, sekarang mau dinaikkan sampai 50 ribu targetnya,” tutur mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu.

PKBM atau yang lebih dikenal dengan Community Learning Center (CLC) adalah lembaga pendidikan non formal yang diprakarsai dan dikelola masyarakat sebagai upaya memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak TKI di Malaysia.

Hingga saat ini terdapat 294 PKBM di Malaysia dengan rincian 155 jenjang sekolah dasar (SD) dan 139 jenjang sekolah menengah pertama (SMP).

Diungkapkan Muhadjir, para guru itu akan melayani pendidikan anak-anak TKI selama dua tahun. Hal ini merupakan bentuk kehadiran negara dalam mencerdaskan anak bangsa di manapun mereka berada.

“Mereka yang bertugas adalah guru profesional yang memiliki sertifikat pendidik yang sah dari pemerintah Indonesia dengan kompetensi meliputi pedagogi, kepribadian, sosial, dan profesinalisme,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar, Kemendikud, Praptono mengatakan kegiatan belajar mengajar di lokasi penempatan harus tetap berjalan meskipun pendukung delapan standar nasional pendidikan tidak tersedia sepenuhnya.

Sarana prasarana yang terbatas, kelebihan jam kerja, dan lainnya menjadi tantangan yang harus dipecahkan para guru.

“Semoga anak-anak Indonesia di Malaysia bisa terlayani pendidikannya dan meraih masa depan yang lebih baik sehingga melalui pendidikan akan memutus rantai kemiskinan dan kebodohan,” ucapnya.

Pengiriman guru ke Malaysia ini merupakan yang ke-9 kalinya sejak 2006 lalu. Hingga saat ini sebanyak 290 guru Indonesia mengajar di 294 PKBM di Malaysia yang tersebar di wilayah Sabah dan Sarawak.

Jumlah TKI di Malaysia saat ini mencapai 2,7 juta orang. Kata Praptono, banyaknya jumlah TKI juga telah disiasati pemerintah dengan mendirikan sekolah di Malaysia.

“Pemerintah telah membangun Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) dan Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) serta 294 pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang tersebar di berbagai wilayah negeri jiran itu,” terangnya.

Sekolah-sekolah tersebut melayani berbagai jenjang pendidikan mulai dari SD, SMP, sekolah menengah atas (SMA), dan sekolah menengah kejuruan (SMK).

Khusus jenjang SMK, kata Praptono, hanya ada di SIKK dengan program keahlian jasa boga dan perhotelan. Sementara PKBM hanya melayani jenjang SD dan SMP saja.

Adapun Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Kota Kinabalu Malaysia, Khrisna Djelani menjelaskan, hampir seluruh anak-anak Indonesia yang akan diajar guru-guru itu lahir dan tumbuh besar di Negeri Jiran.

Selain itu, perbedaan usia dalam satu rombongan belajar sangat beragam atau tidak sesuai dengan usia di jenjang pendidikan yang seharusnya sehingga perlu lebih sabar.

“Masyarakat setempat menganggap guru sebagai manusia super yang tahu segalanya. Jangan mudah putus asa, setidaknya bisa menjadi panutan,” katanya.

(rdi/FIN)

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.