Polisi Usut Kasus Bantuan Dana Korban Longsor

Diduga Disunat, Bantuan Rp 15 Juta yang Keterima Hanya Rp 3,5 Juta

186
Kapolres Banjar AKBP Matrius (Kanan) dengan Walikota Banjar Ade Uu Sukaesih (kedua kanan) saat menyambut kedatangan Menteri Lingkungan Hidup di Kota Banjar, belum lama ini. Matrius sudah membentuk tim untuk menyelidiki dugaan sunat dana bantuan hibah untuk korban longsor di Desa Sukamukti.

BANJAR – Tim Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polres Kota Banjar mulai memeriksa para saksi atas dugaan kasus pemotongan dana bantuan korban longsor di Desa Sukamukti Kecamatan Pataruman, Kota Banjar.

Bantuan sebesar Rp15 juta untuk pembuatan tembok penahan tanah (TPT), diperuntukan bagi Sutarman warga Desa Sukamukti, sekaligus korban longsor.

Diduga, bantuan tersebut disunat oleh dua oknum aparat desa berinisial Yo dan Iy sebesar Rp10 juta. Ditambah pemotongan sebesar Rp1,5 juta lagi yang disinyalir disetorkan Iy kepada salah satu oknum di Dinas PUPRPKP Kota Banjar.

Sehingga, Sutarman hanya menerima Rp3,5 juta rupiah dari yang seharusnya sebesar Rp15 juta.

“Kami sudah membentuk tim untuk melakukan penyelidikan dugaan kasus tersebut,” ujar Kapolres Banjar, AKBP Matrius melalui pesan WhatsApp kepada radartasikmalaya, Sabtu (13/10).

Menurut Matrius, tim nya sudah mengantongi nama-nama penerima dan yang diduga ‘memotong’ bantuan tersebut. Namun pihaknya masih mengumpulkan bukti-bukti termasuk menyelidiki rekaman percakapan antara penerima bantuan dengan salah satu oknum aparat desa berinisial Iy.

Diduga, dalam percakapn itu membahas tentang proses pemotongan bantuan. “Kami masih memeriksa saksi-saksi, statusnya masih penyelidikan. Kami juga tengah menelusuri darimana sumber bantuan itu,” kata Kapolres.

Terpisah, Sutarman saat dikonfirmasi via telepon Sabtu pagi mengakui bahwa dirinya hanya menerima bantuan sebesar Rp3,5 juta dari total bantuan yang dijanjikan sebesar Rp15 juta.

“Dipotong Iy Rp5 juta dan dipotong lagi oleh Yo Rp5 juta. Kemudian kaya Iy dipotong lagi untuk ngasih ke orang dinas PU Rp1,5 juta. Jadi totalnya saya hanya menerima bantuan itu Rp3,5 juta,” ungkap Sutarman.

Ia menegaskan, dengan bantuan sebesar yang ia terima, rencana pembuatan TPT akhirnya tidak tercapai.

Bantuan bermula ketika tembok salah satu bagian rumahnya longsor, tahun 2017. “Itu bantuannya tahun 2017 awal. saya juga tidak tahu bantuannya dari siapa cuman diurus oleh pihak Desa Sukamukti. Pokoknya yang saya terima Rp3,5 juta dari sodara Iy,” ujarnya.

Sementara itu, Iy saat dikonfirmasi tidak menanggapi. Begitu juga dengan Yo.

Diketahui Iy merupakan salah satu pejabat di Desa Sukamukti yang memegang peranan di bidang ekonomi dan pembangunan. Sementara Yo merupakan mantan Kepala Desa. (cep)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.