Diduga Lakukan Politik Uang ,Tim Azies-Haris Dilaporkan ke Bawaslu Kabupaten Tasik

231
0
MELAPORKAN. Pelapor yang merupakan salah seorang warga Desa Karangmulya Kecamatan Jamanis melaporkan dugaan politik uang ke Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya , Jumat (4/12). DIKI SETIAWAN / RADAR TASIKMALAYA
MELAPORKAN. Pelapor yang merupakan salah seorang warga Desa Karangmulya Kecamatan Jamanis melaporkan dugaan politik uang ke Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya , Jumat (4/12). DIKI SETIAWAN / RADAR TASIKMALAYA
Loading...

TASIK – Lima hari menjelang masa pencoblosan di Pilkada Tasikmalaya 9 Desember 2020. Warga di Desa Karangmulya Kecamatan Jamanis melaporkan kasus dugaan politik uang yang diduga dilakukan oleh relawan pemenangan pasangan calon nomor urut 1 (H Azies Rismaya Mahpud-H Haris Sanjaya) ke Bawaslu, Jumat (4/12).

Laporan tersebut sudah diterima dan akan ditindaklanjuti Divisi Penanganan Pelanggaran Bawaslu untuk dilakukan penelusuran dan pendalaman mencari bukti yang memenuhi unsur syarat formil dan materil.

Dugaan politik uang yang dilaporkan warga tersebut terjadi Jumat (27/11), diduga dilakukan oleh tim relawan pemenangan pasangan calon nomor urut 1 di Kampung Kubangcai Desa Karangmulya Kecamatan Jamanis saat kegiatan kampanye calon.

Dugaan money politics itu diberikan kepada 40 orang lebih warga di Desa Karangmulya berupa uang cash senilai Rp 50 ribu per orang, dengan diselipkan adanya ajakan untuk memilih pasangan nomor urut 1 pada 9 Desember 2020.

Kuasa Hukum Pelapor, Ecep Sukmanagara menjelaskan dasar dari pelaporan dugaan kasus politik uang di Pilkada Tasik ini, atas nama moral dan komitmen menjunjung tinggi moralitas demokrasi di Kabupaten Tasikmalaya.

Loading...

“Saya sebagai kuasa hukum pelapor telah menyerahkan berkas pelaporan kepada Bawaslu, atas dugaan praktik politik uang yang diduga dilakukan oleh orang berinisial D di Desa Karangmulya Kecamatan Jamanis, Jumat (27/11),” ungkap Ecep kepada Radar di Kantor Bawaslu.

Dugaan politik uang yang dilakukan, ungkap dia, dengan memberikan uang pecahan Rp 50 ribu kepada setiap warga di Kampung Kubangcai Desa Karangmulya Kecamatan Jamanis. Dengan diselipkan ajakan untuk memilih pasangan calon nomor urut satu.

“Berkas laporan yang kami serahkan ke Bawaslu sudah lengkap dengan bukti uang pecahan Rp 50 ribu yang diberikan kepada masyarakat, termasuk membawa dua orang pelapor sekaligus saksi yang menerima uang untuk memberikan keterangan ke Bawaslu,” terang dia.

Dia menerangkan atas temuan tersebut, maka warga dan pelapor berinisiatif melaporkan dugaan kasus politik uang ke Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya.

“Kita pun siap menghadirkan saksi yang bisa dihadirkan lebih dari dua orang, jika Bawaslu meminta tambahan saksi pada tahapan klarifikasi selanjutnya. Karena banyak warga yang menerima uang, siap menjadi saksi dan menyampaikan,” tuturnya.

Di akhir pelaporan, Ecep meminta kepada Bawaslu terjun langsung ke lapangan menginvestigasi orang berinisial D. “Kita minta Bawaslu membuktikan dan menginvestigasi orang tersebut, apakah yang bersangkutan adalah tim sukses atau relawan pemenangan pasangan nomor urut satu atau bahkan hanya masyarakat biasa,” papar dia.

Koordinator Divisi (Kordiv) Penanganan Pelanggaran Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya, Khoerun Nasichin mengatakan laporan dari masyarakat di Kecamatan Jamanis sudah diterima dan akan ditindaklanjuti kurang lebih 2×24 jam atau dengan maksimal selama tiga hari.

“Untuk menentukan syarat formil dan materil yang sudah dipenuhi pelapor, tinggal menunggu proses register perkara sebelum masuk ke Sentra Gakkumdu tahap I berdasarkan hasil nanti rapat pleno pimpinan Bawaslu,” ungkap dia.

Terpisah, Juru Bicara H Azies Rismaya Mahpud, Ustaz Iri Syamsuri mengatakan pihaknya belum mendengar laporan terkait adanya pelaporan warga yang diduga adanya praktik money politics mengarah kepada paslon nomor urut 1. “Belum, saya belum dengar laporan itu,” kata Ustaz Iri.

Ada pun yang ia dengar, bahwasanya ada sejumlah karyawan yang mengumpulkan uang secara sukarelawan. Mereka berinisiatif ingin pimpinan di perusahaan, menjadi pimpinan juga di daerah melalui pencalonan bupati. Mulai dari karyawan yang bertugas di Terminal Tasikmalaya sampai Pelabuhan Merak, kata dia, rereongan mengumpulkan pundi rupiah.

“Ya kalau menuduh paslon satu, itu mah yang syirik saja. Tidak ada money politics, yang saya dengar ya karyawan patungan dengan sukarela itu pun tak tahu uangnya untuk apa,” papar Ustaz Iri. (dik)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.