Didukung BI Tasikmalaya, Kopi Cigalontang Go Internasional

1348
0

Bagi penikmat kopi mungkin sudah tidak asing dengan kopi khas Cigalontang. Cita rasa biji asli dataran tinggi di puncak Barat Tasikmalaya itu, mulai dikenal di berbagai daerah dan pecinta kopi.

Namun, petani di sana sebelumnya tidak bisa mengoptimalkan potensi itu. Hanya sebatas menjual gabah ketika panen kopi.

Itu dikatakan Ketua Kelompok Tani Pusparahayu Desa Puspamukti Kecamatan Cigalontang Kabupaten Tasikmalaya, Apong (58).

Pria itu memulai bisnis kopinya dengan menjual gabah. Sejak 2012, ketika dia mengawali menanam biji kopi dari bercocoktanam hortikultura.

“Dulu pasar masih susah. Beberapa petani yang ikut serta menanam kopi sering mengeluh karena sebatas menjual gabah dengan harga murah. Rp 23 ribu saja per kilogramnya,” ucap Apong kepada Radar.

Namun, dirinya tidak menyerah dan terus berupaya mendorong potensi kopi daerahnya semakin dikenal. Mengingat histori dirinya beralih cocok tanam dari hortikultura menjadi penanam kopi diawali cerita sukses rekannya di wilayah Bandung.

“Saya yakin, kopi di sini tidak kalah saing dengan daerah lain. Dataran tinggi yang mendukung untuk menanam kopi yang khas dan unik. Maka saya tidak menyerah,” tuturnya.

Kebun garapan Apong memanfaatkan lahan milik Perhutani. Tidaklah dekat dari rumahnya di Desa Puspamukti. Setengah jam apabila ditempuh dengan motor, itu pun jika perjalanan lancar, tidak hujan.

Jalan kaki, bisa sampai satu jam dari perkampungan ke tempat penanaman kopi. Tidak sebanding, ketika perjuangan dalam merawat hingga memanen tumbuhan tersebut hanya dijual seharga gabah saja.

Sampai akhirnya, pihak Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya mendatangi kelompok tani tersebut. Berupaya melakukan pembinaan dan pendampingan, supaya para petani kopi bisa lebih sejahtera.

“Alhamdulillah, sekitar Mei 2018 ada pihak Bank Indonesia datang ke kami. Untuk memberikan pelatihan dan pendampingan. Saya bilang dalam hati, ini mungkin berkah karena kita terus konsen menanam kopi,” terang Apong.

Waktu itu, BI memberikan pembinaan terhadap anggotanya yang berjumlah 80 petani kopi. Melalui pelatihan dengan mendatangkan langsung pakar pengolahan hingga peracikan kopi. Sebulan dua kali. Teknik budidaya beragam jenis kopi, melengkapi ragam biji kopi yang biasa Apong dan kelompoknya tanam.

Tak hanya pembinaan, mereka juga diberangkatkan mengikuti studi, berkaitan kopi. Sampai memfasilitasi kebutuhan peralatan, termasuk infrastruktur dalam mengolah minuman itu.

“Jadi tidak hanya menanam dan memelihara, kita bisa mengolah seperti mengeringkan sampai mengemas kopi siap seduh,” ceritanya.

Hasilnya, kini gabah kopi Apong sudah tak terbatas dijual, tetapi yang jauh menggembirakan adalah sekarang Apong dan kelompoknya sudah mampu dan fokus untuk menjual kopi siap seduh dengan harga Rp 40 ribu per 100 gram dalam kemasan. Untuk harga Green Bean kopi di kisaran Rp 120 ribu per kilogram.

“Sekarang kami tahu cara menyeduh dengan baik, sehingga cita rasa kopi ini benar-benar terasa. Karena dulu tidak ada peralatan yang benar,” sambungnya.

Sekretaris Kelompok Tani Pusparahayu, Dudu Mulyadi mengungkapkan, varian kopi yang ditanam kelompoknya saat ini mulai beragam.

Diantaranya sigararutang, lini es, kirau catura dan lain sebagainya. Termasuk kopi jenis preanger yang paling diminati peminum biji olahan tersebut.

Akhirnya, para petani lebih giat. Bersemangat menanam pohon kopi, yang semula di seputaran pegunungan itu hanya 50 hektare, kini berencana memperluas wilayah dengan menanam sekitar 200.000 batang pohon di tahun 2019 ini.

“Kami tidak hanya dibina, tetapi diikutsertakan di pameran Bank Indonesia. Alhamdulillah, saat itu respon penikmat kopi sangat baik. Katanya kopi Cigalontang nendang di lidah,” ungkap Dudu.

Bila 1 petani memiliki 1.000 pohon saja menghasilkan Rp. 15.000.000,- per tahunnya, maka coba dikalikan dengan tanaman existing yang ada sekarang sekitar 400.000 binaan BI sekarang ini, berapa jumlah rupiah yang mengendap Dan berputar di daerah tersebut.

Pemasaran produknya, sudah sampai ke berbagai daerah. Bandung, Jakarta, Yogyakarta. Bahkan sudah tidak asing ditemui di cafe atau kedai kopi wilayah Tasikmalaya dan sekitarnya. Apalagi, waktu dekat ini rencananya Bank Indonesia akan mempromosikan Kopi Cigalontang ke luar negeri.

“Rencananya akan dipasarkan ke Malaysia, Singapura, Brunei, Taiwan. Bahkan ke Belanda dan Jerman. Mudah-mudahan bisa terwujud,” harapnya.

Tidak hanya sebagai petani, saat ini di desa tersebut warganya menikmati kopi bak di café-café. Sebab, para anggota kelompok mulai mahir menjadi barista. Meracik kopi dan menikmati kualitas kopi produk daerah sendiri.

“Bermula 80 orang petani kami, kini sudah ikut bergabung 18 kelompok tani dari 3 kecamatan. Diperkirakan anggota Gapoktan kami tahun 2019 ini bisa mencapai 400 orang petani. Bersama-sama memajukan potensi kopi daerah,” jelasnya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya Heru Saptaji menjelaskan sebagai dedikasi terhadap negeri pihaknya mendorong potensi petani daerah dalam mengembangkan usahanya. Lewat program kluster Bank Indonesia, para petani difasilitasi mulai dari peralatan budidaya kopi, produksi dan pengolahan.

Termasuk infrastruktur untuk penjemuran kopi yang telah ditanam.

“Adanya rumah jemur, supaya kelompok tani lebih cepat dalam mengeringkan biji yang sudah dipetik. Udaranya stabil, sehingga tidak terpengaruh cuaca. Biasanya mereka menjemur di tanah lapang dan rentan kehujanan,” tuturnya.

Kita melakukan pendampingan dengan pendekatan end to end business .. harus tuntas dan berdimensi kemajuan yang fundamental dan menyeluruh bagi klaster petani.

Tahap ke-1 (tahun pertama) biasanya kami fokuskan pada aspek perbaikan budidaya dan produktivitas. Tahap ke-2 (Tahun kedua) kami tingkatkan kualitas kelembagaan kelompok dan aspek manajemen keuangan sederhana, Tahap ke-3 (tahun ketiga) adalah program hilirisasi, akses keuangan dan perluasan pasar.

Tahap ke-4 (tahun keempat) adalah periode kemandirian klaster, dimana kami menganggap bahwa klaster tersebut sudah baik dan kuat untuk berkembang secara mandiri dan menjadi contoh replikasi bagi kelompok-kelompok tani lainnya.

Di dalam implementasinya ke empat tahapan tersebut dilakukan secara fleksibel dan bisa saja dilakukan secara simultan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi di lapangan.

Menurutnya, sekitar Rp 180 juta digelontorkan untuk memfasilitasi Kelompok Tani Pusparahayu. Belum lagi pelatihan dan pembinaan serta memberangkatkan studi banding kelompok tersebut ke Pangalengan Bandung.

“Mereka diberikan pembinaan mulai sortasi kopi, sampai menjadi barista pun dibina di sana. Mereka belajar banyak dan terjun langsung mendalami budidaya, termasuk sejarah kopi itu sendiri,” jelas Heru.

Tidak hanya itu, potensi Kopi Cigalontang kerap dilibatkan ketika BI tengah menggelar event. Untuk memasarkan dan mengenalkan secara luas, kopi khas Tasikmalaya bisa bersaing dengan kopi dari daerah lain. “Pameran-pameran yang digelar BI sendiri kerap melibatkan klaster binaan kami. Termasuk dalam

Tasikmalaya Oktober Festival (TOF), Tepang Juragan 2018, Indonesia Syariah Expo Festival (ISEF 2018), pertemuan dengan pengusaha-pengusaha internasional, supaya lebih dikenal lagi oleh masyarakat luas bahkan dunia,” tandasnya.

Tak heran, daerah yang dulunya dianggap sebagai salah satu kantung kemiskinan itu kini menjelma menjadi pahlawan penghasil uang bagi masyarakat di sekitarnya.

“Insya Allah kami optimis bahwa hal ini akan terus berkembang dengan pesat, sehingga niatan kami untuk membawa wilayah Priangan Timur ini menjadi negeri baldatun toyibbatun warabbun ghofur dapat terwujud. Aamiin YRA. From East Preanger For Better Indonesia,” tutupnya. (firgiawan)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.