Siapa Calon bupati Tasikmalaya pilihan anda?
18%

82%

Digitalisasi Kurban untuk Pemerataan Ekonomi

18
0

JAKARTA – Digitalisasi kurban akan sangat membantu dalam pemerataan pembagian daging kurban ke seluruh pelosok. Tidak hanya itu, cara ini juga mampu meningkatkan potensi ekonomi senilai Rp 10 triliun.

Istilah digitalisasi kurban dilontarkan Ustaz Yusuf Mansur saat memberi khutbah bertema spirit berkurban untuk kesejahteraan umat kala menjadi khatib Salat Idul Adha di Masjid Istiqlal Jakarta Pusat Minggu (11/8).

”Sekarang, hari-harinya fintech, e-commerce, market place, sebutlah digitalisasi kurban. Kemudian A sampai Z didigitalisasi, di-marketplace-kan, di-ecommerce-kan, di-fintech-kan, maka kurban ini akan dinikmati oleh yang menyatukan,” kata Yusuf Mansur saat berceramah sebagai khatib di Masjid Istiqlal

Yusuf Mansur menekankan pentingnya umat Islam dalam melihat peluang ekonomi kurban. Dijelaskannya, kurban dapat meningkatkan perekonomian bangsa Indonesia. Dia pun mengajak umat Islam untuk bersatu mengembangkan potensi ekonomi kurban yang ada di Indonesia.

”Perintah kurban, secara potensi ekonomi dahsyat betul. Pelaporan resmi saja bisa tembus angka Rp 10 triliun. Dengan umat melaksanakan kurban, itu artinya melaksanakan eksplorasi dan mobilisasi kurban,” kata dia. Hanya saja, potensi mereka yang berkurban di desa lebih sedikit dibandingkan dengan di perkotaan. ”Angka mustahiknya sebenarnya hampir sama, hanya di desa yang berkurban (potensinya) lebih sedikit dibandingkan dengan perkotaan,” ujarnya.

Warga miskin yang menerima daging kurban (mustahik) akan tidak terdistribusi secara merata antara di desa dan di perkotaan jika masih memakai pola yang lama. Skema digitalisasi kurban mampu melakukan penyampaian daging kurban perkotaan bisa merambah ke perdesaan.

Untuk diketahui Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) pada 2019 mengeluarkan proyeksi daerah dengan potensi surplus kurban terbesar didominasi daerah perkotaan Jawa Barat (18 ribu ton), diikuti DKI Jakarta (16 ribu ton). Sedangkan daerah dengan potensi defisit kurban terbesar didominasi daerah perdesaan.

Ketimpangan antara jumlah kurban di desa dan kota menyebabkan mustahik di pedesaan tidak terdistribusi secara merata. Sementara itu, potensi mustahik terbesar secara umum ada di pedesaan, di mana kelas bawah Muslim berdaya beli rendah berjumlah 24,9 juta jiwa, sedangkan di perkotaan hanya 18,2 juta jiwa.

Kebutuhan mustahik di kota diperkirakan hanya sekitar 69 ribu ton, sedangkan di desa kebutuhannya mencapai 107 ribu ton. Hal itu artinya di kota potensi surplus 80 ribu ton daging, sedangkan di desa potensi defisit 75 ribu ton daging. Dari fakta potensi daerah surplus-minus kurban ini, maka program tebar hewan kurban keluar dari daerah asal yang banyak dilakukan Badan Amil Zakat saat ini tepat dan positif. (gw/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.