Hanya untuk Warga Kabupaten Tasik
SIAPA BUPATI & WAKIL BUPATI PILIHAN ANDA?

3.1%

19.5%

7.3%

70.1%

Dihantam Covid-19, UMKM di Kota Tasik Merana

218
0
MENATA. Salah seorang kader BDC menata produk UMKM di sekretariatnya di Jalan Ir Djuanda Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya, Kamis (18/6). RANGGA JATNIKA / RADAR TASIKMALAYA

Tak bisa dipungkiri, jika pandemi Covid-19 telah berdampak pada ekonomi masyarakat, khususnya pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Saat ini sebagian dari mereka kehabisan modal dan harus memulai usaha dari titik nol lagi.

Rangga Jatnika, Tasikmalaya

Baca juga : PUPR Kota Tasik Cari Penanggungjawab Tiang Miring Provider di Simpang Cimulu

Ketua Business Development Center (BDC) Kota Tasikmalaya Beng Haryono mengatakan saat ini ekonomi pelaku UMKM tak hanya lesu, tapi juga terancam gulung tikar.

Akibat kehabisan modal usaha, apalagi saat PSBB diberlakukan.

“Kebanyakan konsumen kan dari luar kota, jadi tidak bisa suplai barang saat PSBB,” ungkapnya kepada Radar, Kamis (19/6).

Ketika situasi mulai melonggar, kata Beng, para perajin kembali bingung untuk melanjutkan usahanya.

Sebab sebagian dari mereka sudah kehabisan modal efek pandemi Covid-19. “Penjualan tidak ada, modal dipakai untuk kebutuhan sehari-hari ya jadi habis,” ujarnya.

Padahal, sambung Beng, momen bulan Ramadan merupakan masa panen bagi perajin khususnya di bidang makanan dan pakaian.

Namun karena mobilitas yang terbatas, mereka harus kehilangan omset yang tidak sedikit.

“Kami kan mendampingi 350 perajin, kalau ditotalkan omzet yang hilang selama pandemi ini bisa sampai 1 miliar,” tuturnya.

Terlebih penyelenggaraan ibadah haji tahun ini dibatalkan. Sehingga kerja sama pengadaan koper haji dengan beberapa travel statusnya menggantung.

“Mudah-mudahan tetap diambil kerjasamanya, karena sudah dipesan,” terangnya.

Disinggung adakah pemberdayaan pemerintah dalam kebutuhan logistik di PSBB, Beng menegaskan sangat nihil. Padahal, pihaknya berharap bisa menyuplai sebagian Alat Pelindung Diri (APD) baik itu masker ataupun baju hazmat.

“Tapi sayangnya UMKM dari kami tidak ada kebagian pengadaan,” keluhnya.

Adapun rencana BDC untuk kembali menyegarkan perajin UMKM, lanjut Beng, yakni dengan mencari pemodal.

Baik itu bantuan pemerintah, ataupun investor yang bisa diajak kerja sama. “Prioritas kami meminta bantuan pemerintah, kalau memang tidak ada baru kita cari investor swasta,” katanya.

Setiap tahunnya, kata dia, BDC mendapat kucuran dana baik dari Kementerian PUPR maupun Pemerintah Kota Tasikmalaya.

Akan tetapi, peruntukkan dananya hanya untuk operasional pelatihan saja. “Itu pun dananya dipangkas karena ada realokasi anggaran,” katanya.

SIAPKAN STIMULUS

Sebelumnya, imbas Covid-19 telah memukul sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Untuk menyelamatkan sektor ini, pemerintah siap meluncurkan paket stimulus fiskal bagi UMKM sebesar Rp150 triliun pada pekan depan.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal atau BKF Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Nathan Kacaribu mengatakan, stimulus tersebut digelontorkan demi menjaga eksistensi pelaku UMKM di tengah pandemi corona.

Penerima stimulus dipastikan akan tepat sasaran.

“Harapannya tidak lama lagi, ini adalah paket stimulus yang well calculated, well desain, tepat sasaran, tidak ada moral hazard dan semua yang mendapatkan adalah orang yang berhak,” kata dia dalam telekonference, Senin, (20/4).

Pihaknya menjamin dengan memiliki data yang cukup komprehensif dan lengkap mengenai keberadaan UMKM, maka akan sesuai target dan tepat sasaran.

Data tersebut diperoleh dari perbankan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), maupun institusi lainnya.

“Koordinasi kita dengan perbankan itu langsung mereka share datanya dengan kita. Dengan OJK juga sangat bagus kita dapat data yang sangat up to date distribusinya, kita siapkan mekanisme ini benar-benar untuk memastikan tidak terjadi moral hazard,” tutur dia.

Baca juga : Jalan Sodonghilir-Pamijahan Tasik Retak-retak, Warga Resah

Dia menjelaskan besaran stimulus Rp150 triliun bersumber dari Paket Stimulus III yang disiapkan pemerintah mencapai Rp405,1 triliun.

“Ini adalah untuk relaksasi dan stimulus untuk UMKM. Ini yang akan kita kejar karena KUR, UMI, PKH, BLT sudah menyasar 20 persen paling bawah sekarang kita mau lihat yang di atas 20 persen mendapat support,” ujar dia. (rga/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.