Hanya untuk Warga Kabupaten Tasik
SIAPA BUPATI & WAKIL BUPATI PILIHAN ANDA?

4.3%

20.4%

8.3%

67%

Dijemput Paksa, Pasien Covid-19 Terkesan Seperti Penjahat

6518
7
ALOT. Salah seorang pasien Covid-19 (kanan) berdebat dengan tim petugas Gugus Tugas Kota Tasikmalaya, ketika hendak dijemput paksa dari rumahnya di Kecamatan Tawang, Jumat (15/5). Pasien tersebut menolak karena sudah memegang surat keterangan sehat dari Dinas Kesehatan.Rangga Jatnika / Radar Tasikmalaya

Perwakilan keluarga pasien Covid-19 yang menolak dijemput paksa, Kepler Sianturi menceritakan awal mula menjalani perawatan di RS TMC pada 23 Maret 2020, lantaran diduga suspect Covid-19.

Setelah menjalani perawatan selama 12 hari, pada 3 April 2020 pihaknya mendapat hasil swab test (PCR) yang pertama terkonfirmasi negatif.

Berita terkait : Positif, Warga Tawang Kota Tasik Ngamuk saat Dijemput Paksa Tim Covid-19
Berita terkait : Pasien Covid-19 di Kota Tasik tak Terima Dijemput Paksa

“Jadi saat itu dia diizinkan pulang ke rumah dengan kewajiban isolasi mandiri selama 14 hari sambil menunggu hasil swab test kedua,” tuturnya melalui keterangan tertulis kepada Radar.

Setelah hari ke 13 isolasi di rumah, lanjut dia, pasien menyuruh istri ke Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya untuk menanyakan hasil swab test kedua.

Kemudian, informasinya menggembirakan karena mendapat kabar bahwa hasil swab test kedua negatif.

“Ke esokan harinya setelah isolasi mandiri di rumah selama 14 hari, dia mendapat surat keterangan sehat yang ditanda tangani oleh Kepala Dinas Kesehatan.

Setelah, mendapat surat sehat tersebut, otomatis bisa kembali bekerja dan melakukan aktivitas di luar rumah, karena sudah dinyatakan sehat,” kata dia.

Namun, kata Kepler, tanggal 12 Mei 2020, tiba-tiba kedatangan petugas medis lengkap dengan APD sekitar pukul 22.30. Mereka meminta pasien itu ikut ke rumah sakit.

Sontak, pasien tersebut menolak. Sebab dari hasil medis yang diterimanya, sudah jelas dinyatakan sehat dan negatif Covid-19.

“Akhirnya mereka pulang, tetapi tidak begitu lama, mereka datang kembali ke rumah pasien, dengan jumlah personil lebih besar bersama TNI/Polri. Mereka bilang per 20April 2020 mendapatkan hasil swab test yang menyatakan positif positif,” ceritanya.

Kepler menjelaskan akhirnya pasien tersebut menegaskan akan datang ke dinas keesokan harinya.

Pada 13 Mei 2020, pasien mengaku menemui Kepala Dinas Kesehatan dr Uus Supangat dan menjelaskan kronologisnya.

Pengakuan pasien tersebut, lanjut Kepler, Uus mengizinkan untuk isolasi mandiri dan swab test kembali secara mandiri.

dengan catatan harus menbuat surat permohonan isolasi mandiri dan pernyataan melakukan swab test mandiri dengan biaya sendiri.

“Pasien tersebut kooperatif dengan pemerintah, maka 14 Mei 2020, pasien menitipkan surat permohonan isolasi mandiri dan pernyataan yang diminta ke Dinkes. Sore harinya, pasien melakukan swab test secara mandiri di Laboratorium Kimia Farma, dan setelah itu pasien tetap melakukan isolasi di rumah,” kata Kepler mendeskripsikan.

Kemudian, 15 Mei 2020 sekitar pukul 10.00, rumah pasien tersebut kembali didatangi petugas medis, wartawan, kepolisian dan lainnya. Memaksa pasien untuk kembali diisolasi ke rumah sakit.

“Karena terkejut, pasien berupaya mengusir mereka, tapi tidak bisa, karena jumlahnya banyak dan semakin lama semakin banyak,” keluhnya.

“Padahal, pasien apabila sudah positif di bulan April, kenapa baru dipaksa di bulan Mei, dan hasil laboratorium positif tidak pernah diberitahukan kepadanya. Wajar kan kalau pasien sudah mendapat surat sehat, bisa bekerja seperti biasanya?,” sambung Kepler.

Dia menjelaskan pasien mengaku menyayangkan karena dianggap seolah seperti penjahat. Tanpa adanya proses mediasi sama sekali.

Padahal, sejak awal, dia sangat kooperatif dengan anjuran dan aturan pemerintah.

“Baik itu waktu isolasi di rumah sakit, isolasi di rumah, sampai saya mendatangi sendiri ke Dinas Kesehatan. Harusnya ada mediasi dulu, jangan jemput paksa, pasien merasa seperti penjahat saja. Ini virus bukan aib, siapa aja bisa kena. Jangan kucilkan kami,” keluh Kepler menceritakan penjelasan saudaranya melalui telepon tersebut.

Baca juga : Lagi, Densus 88 Geledah Tempat Futsal di Kawalu Kota Tasik, Ini yang Ditemukan..

Dia menambahkan tentunya surat sehat dari Dinkes tidak akan terbit, apabila seorang pasien belum mengantongi hasil swab test.

dengan keterangan negatif selama dua kali berturut-turut. “Sementara pasien sudah mendapatkan surat sehat, berarti sudah keluar hasilnya dua kali berturut-turut negatif, tapi kenapa 20 April bisa keluar lagi hasil positif?,” tanya Kepler. (igi)

loading...

7 KOMENTAR

  1. Cara kerja tdk profesional, bnyak kejadian yg serupa dan tdk semua di publikasikan. Semoga tdk terulang hal yg sama, dan semoga kinerjanya para tenaga medis akan lbh baik lg dan tdk memperlakukan pasien ODP/PDP seperti menangkap penjahat kls kakap ….amin🙏

  2. Cara kerja tdk profesional, bnyak kejadian yg serupa dan tdk semua di publikasikan. Semoga tdk terulang hal yg sama, dan semoga kinerjanya para tenaga medis akan lbh baik lg dan tdk membuat pasien ODP/PDP menjadi setres krn proses penjemputan seperti menangkap penjahat sehingga imunitas pd tubuh pasien akan menurun dg cepat ….amin🙏

  3. Cara kerja tim medis di Tasikmalaya kurang sistematis(membingungkan)… Pasien kasihan jadi korban ketidak jelasan sistem yg diterapkan Pemerintah dan Tim Medis yg bertugas…. Semoga ada segera tindakan yang fair dari Pemerintah untuk saudara dan teman kami ini.

  4. Ini kayak lg nangkep teroris aja, padahal beliau adalah korban covid. Klo sudah keluar hasil positif 20 april kenapa di jemput nya 2minggu kemudian? Apakah hasil test tertukar dengan orang lain??

  5. Ini kayak lg nangkep penjahat aja, padahal beliau adalah korban covid. Klo sudah keluar hasil positif 20 april kenapa di jemput nya 2minggu kemudian? Apakah hasil test tertukar dengan orang lain??

  6. Ini kayak lg nangkep ter oris aja, padahal beliau adalah korban covid. Klo sudah keluar hasil positif 20 april kenapa di jemput nya 2minggu kemudian? Apakah hasil test tertukar dengan orang lain??

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.