Dijual di Atas HET, Gas Disita

189
1
DIKI SETIAWAN / RADAR TASIKMALAYA DIAMANKAN. Ratusan gas elpiji tiga kilogram diamankan di Satreskrim Polres Tasikmalaya dari beberapa pangkalan kemarin (12/12).

MANGUNREJA – Ratusan gas elpiji tiga kilogram diamankan di Mapolres Tasikmalaya kemarin (12/12). Gas melon tersebut disita dari beberapa pangkalan gas di Kecamatan Singaparna yang dijual di atas harga eceran tertinggi (HET) dan yang tidak memiliki lookbook atau peta lokasi penyaluran pada Senin sore (11/12).
Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya AKP Pribadi Atma SPd MH menyebutkan temuan Satgas Pangan Polres Tasikmalaya itu berawal dari adanya kerumunan orang di salah satu pangkalan gas di Desa Cipakat, Singaparna, Senin sore.
Setelah dicek, terang dia, kerumunan orang tersebut ternyata sedang mengantre membeli gas. Namun tidak diperbolehkan membeli oleh pemilik pangkalan. “Kemudian kita cek dan periksa ke pangkalan, ternyata ada kejanggalan. Kita temukan ternyata harga gas di atas harga eceran tertinggi (HET),” terang Pribadi kepada wartawan di Mapolres Tasikmalaya kemarin.
Pangkalan tersebut, kata dia, menjual gas Rp 18 ribu per tabung. Sementara HET-nya menurut SK Bupati Nomor 674 Tahun 2014 tentang HET LPG 3 kilogram Rp 16 ribu.
Temuan kedua, jelas dia, ada ratusan gas elpiji tiga kilogram yang siap edar menggunakan satu kendaraan pick up tanpa dilengkapi lookbook. “Kita mengamankan 200 tabung gas elpiji tiga kilogram dalam satu kendaraan pick up yang diduga akan didistribusikan tidak sesuai lookbook,” jelasnya.
Tim satgas, kata dia, sudah memberikan pengarahan kepada pemilik pangkalan atau agen untuk menjual gas sesuai aturan. Termasuk harus memiliki peta lokasi penyaluran. Para penjual tidak boleh memanfaatkan situasi kelangkaan gas dengan melambungkan harga.
Sementara, pihaknya selain mengamankan barang bukti juga mendata konsumen yang tidak dilayani oleh penjual gas.
Kapolres Tasikmalaya AKBP Anton Sujarwo SIK menjelaskan operasi pemeriksaan ketersediaan gas elpiji itu untuk mengantisipasi penyalahgunaan elpiji tiga kilogram. Penjual elpiji tidak boleh melanggar hukum dengan menaikkan harga sepihak dan menimbun elpiji. “Monitoring gas ada efeknya, harga kembali normal,” ungkapnya.
Sementara, pemilik pangkalan di Desa Cipakat, Singaparna yang tidak bisa disebutkan identitasnya mengaku konsumen tidak dilayani karena tabung elpiji tiga kilogram bukan peruntukannya. Adapun, ratusan tabung gas yang dibawa dalam kendaraan bak terbuka itu untuk dipasok ke wilayah lain.
Pangkalan, terang dia, terpaksa menjual gas tiga kilogram di atas HET untuk menutupi biaya operasional. Selain sudah kesepakatan dengan konsumen pangkalan juga menaikkan harga untuk menghindari kerugian. “Menjual Rp 18 ribu harganya,” ujarnya.
Konsumen asal Desa Cipakat Rosmayanti (36) mengaku susah mendapatkan gas elpiji tiga kilogram. “Apalagi saya mau masak, saya jualan gorengan di sekolah. Punya langganan, kenapa gak dikasih gas. Padahal ada barangnya,” tuturnya. (dik)

Loading...
loading...

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.