Dikepung ODP Corona, Kota Tasik Bisa Jadi Pusat Penyebaran di Priangan Timur

20411
3
UMUMKAN. Jajaran Forkopimda Kota Tasikmalaya dipimpin Drs H Budi Budiman mengumumkan sikap pemerintah daerah dalam merespons kebijakan pusat dan provinsi terkait virus Corona di Bale Kota Tasikmalaya tadi malam. Firgiawan/ Radar Tasikmalaya
UMUMKAN. Jajaran Forkopimda Kota Tasikmalaya dipimpin Drs H Budi Budiman mengumumkan sikap pemerintah daerah dalam merespons kebijakan pusat dan provinsi terkait virus Corona di Bale Kota Tasikmalaya tadi malam. Firgiawan/ Radar Tasikmalaya

TASIK – Situasi Kota Tasikmalaya dikepung oleh Orang Dalam Pengawasan (ODP), bahkan sudah ada yang Pasein Dalam Pengawasan (PDP) virus Corona.

Untuk itu, Pemerintah Kota Tasikmalaya mengeluarkan beberapa warning atau peringatan bagi masyarakatnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya dr Uus Supangat mengatakan Kota Tasik sangat erat dengan yang mungkin jadi episentrum baru di Indonesia.

Karena dari hasil analisanya banyak warga Kota Tasikmalaya melakukan perjalanan ke Bogor, Jakarta, Sukabumi, Yogyakarta, Solo, Semarang dan Bali.

“Kita betul-betul di persimpangan, pusat-pusat dugaan potensi episentrum baru penularan Covid-19 di Pulau Jawa. Kota Tasikmalaya tinggi volume perjalanan ke Bekasi-Bogor hasil survei kami di lapangan,” ujar Uus di sela pembahasan penanganan virus Corona di Bale Kota Tasikmalaya tadi malam.

Menurutnya, potensi risiko tertular dan menularkan Covid-19 di Kota Tasikmalaya pertama mewaspadai pergerakan masa tinggi, penumpang bis, kereta, pesawat ke Jabodetabek, jamaah umrah yang pulang kurang dari 28 hari.

“Bagaimana kita antisipasi semua itu. Perhitungan hanya 3 otobis yang kami ambil sampel tapi sudah luar biasa, belum kita hitung bis kecil dan travel termasuk mobil pribadi,” paparnya.

Dari hasil sampel kepada tiga bis transportasi seperti Primajasa, Budiman dan Doa Ibu, lima jurusan ke Jakarta berpotensi adanya penyebaran positif virus corona.

Sebab, bis tersebut melintasi Kampung Rambutan, Lebak Bulus, Grogol, Tanjung Priuk dan Cililitan.

“Estimasi mobilisasi penumpang 7.800 orang per hari, sehingga harus dikendalikan,” ungkapnya.

Ditambah, penumpang Kereta Api mobilisasi 400 orang per hari, pesawat 140 orang hilir mudik keluar masuk Kota Tasikmalaya.

“Total 8.340 orang per hari mobilisasi penduduk keluar masuk Kota Tasikmalaya dari Jabodetabek,” tuturnya.

Baca Juga : Personel RSUD Kota Tasik Wajib Lakukan Ini Saat Tangani Pasien Corona

Sementara, kata Uus, sebanyak 200 jamaah umrah telah dicatat untuk mengurangi kontak dengan masyarakat. Agar membatasi diri, tapi tak masuk ODP karena semua tak terlihat gejala.

“Yang kita perlukan penguatan promotif dan preventif. Kemudian pembentukan gugus tugas percepatan covid, sebagai tindak lanjut Kepres baru amanatkan percepatan itu. Survei tata laksana kasus terduga, ODP, PDP dll. Siapkan layanan isolasi, rujukan, edaran risiko covid. Siapkan kajian untuk tetapkan status kebencanaan Kota Tasikmalaya. Semoga kita tak sampai itu, sebab KLB dinyatakan ketika sudah ada confirm positif,” terangnya.

Apalagi, kata Uus, Kota Tasikmalaya merupakan pusat Priangan Timur yang harus diperhitungkan daerah lain seperti Garut, Ciamis, Banjar, Pangandaran.

“Seandainya tumbuh covid, kita akan maksimum daya tampung, rujukan Jabar pasti akan penuh. Bogor bahkan sudah manfaatkan rumah sakit second line, kalau Kota Tasik butuh semua pasti akan manfaatkan RSUD dr Soekardjo. Perlu diketahui untuk layani pasien sampai sekarang berbenturan masalah yakni DBD yang sedang outbreak,” ujarnya.

Sebab beberapa rumah sakit pun, kata Uus, sudah over kapasitas seperti TMC, Jasa Kartini, Prasetya Bunda, Permata Bunda.

”Daya tampung sudah luar biasa penuh, dan kita masih membutuhkan ruang isolasi,m” ungkapnya.

Batasi Pertemuan Massa

Wali Kota Tasikmalaya Drs H Budi Budiman mengaku berat jika harus mengunci (lockdown) selama 14 hari, namun hal tersebut benar-benar efektif mencegah penularan virus Corona.

”Ini demi keselamatan semua, saya mohon dimengerti dan memahaminya,” terang dia.

Namun, Budi menginstruksikan sekolah dari jenjang TK sampai dengan SMP untuk melaksanakan kegiatan belajar di rumah masing-masing.

“Bagaimana pun ini meminimalkan penularan wabah global. Meski sampai hari ini ada 12 orang dalam pemantauan, 5 diantaranya sudah dinyatakan negatif dan 7 masih dipantau dan semua tidak ada yang naik status,” tuturnya.

Kebijakan tersebut, kata Budi, dituangkan dalam surat edaran yang akan efektif berlaku mulai Senin (16/3). Lebih dari 10 poin dalam surat tersebut, diharapkan bisa dipahami dan diikuti masyarakat.

“Pemkot melibatkan potensi yang ada di lintas instansi vertikal mulai kepolisian dan TNI, termasuk kader kesehatan hingga kelurahan, dituntut menyosialisasikan edaran tersebut sebagai edukasi terhadap masyarakat, “ ungkapnya.

Baca Juga : Di Kota Tasik Acara Pengajian Akbar Ditunda

“Harapan kami edaran berisi anjuran PHBS, belajar di rumah bagi siswa termasuk diniyah, tidak izinkan kegiatan bersifat pengumpulan masa, bisa sampai ke seluruh masyarakat,” harap Budi.

Termasuk, kegiatan Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Bappelit­bangda yang rencananya mengun­dang lebih dari 200 orang di Hotel Grand Metro hari ini, akan dibatasi bagi internal pemerintah saja tanpa melibatkan unsur masyarakat.

“Kerja tetap berjalan, pelayanan publik pun sama. Hanya posyandu saja dipending, lebih diarahkan kepada puskesmas-puskesmas terdekat bagi layanan bayi dan ibu hamil,” kata dia.

Termasuk, lanjut dia, diikuti juga oleh seluruh instansi di lingkungan Pemerintah Kota Tasikmalaya. Sebab, dalam edaran tersebut mengatur juga pembatasan kunjungan dinas baik dari mau pun luar kota.

“Apel-apel kantor kita tiadakan dulu. fasilitas milik Pemerintah juga kita tidak aktifkan dulu,” ujarnya.

“Selain itu, pertokoan, perbelanjaan, tempat hiburan harus menggunakan standar pencegahan maksimal. Menyediakan pembersih tangan misalnya,” sambung orang nomor satu di Kota Resik itu.

Selama 14 hari, kata Budi, pihaknya ber­upaya meminimalkan potensi penye­baran yakni melalui pertemuan antar masyarakat. Meski Rabu men­datang dijadwalkan peringatan Isra Miraj tingkat Kota Tasikmalaya di Masjid Agung pihaknya terpaksa menggeser.

“Sebab di sana umat biasa berkumpul dengan masal. Maka kita geser saja, toh tidak apa-apa. Justru masyarakat manfaatkan momen ini berzikir dan sedekah sebagai upaya menangkal bala,” ajak Budi.


(igi)

Loading...
loading...

3 KOMENTAR

  1. yang ziarah ke pamijahan juga masih banyak sekali.. bus pariwisata masih banyak.. ko mereka gak d cegah .. gimana ituu…

  2. Lebih pro aktif karena pencegahan lebih baik dari mengobati. Sosialisasi dan lebih turun ke masyarakat berupa himbauan dan penjelasan ttg corona dan penularannya lebih diperlukan utk meningkatkan kesadaran masyarakat. Krn sampai saat ini aktiftas masih terlihat normal meskipun ada peliburan anak sekolah, mahasiswa dll nya. Pencegahan tentu lebih baik agar tidak kecolongan

  3. Kalau bisa wisata ziarah pamijahan di tutup dulu soalnya yg ziarah itu dari brbagai daerah,bagiku pamijahan agak rentan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.