Beranda Kota Tasik Dilarang Berjualan di Bahu Jalan, Trotoar Hak Pejalan Kaki !

Dilarang Berjualan di Bahu Jalan, Trotoar Hak Pejalan Kaki !

83
0
BERBAGI
Foto-foto : Radar Tasikmalaya DITERTIBKAN. Kawasan jalur dua HZ Mustofa ditertibkan dari PKL yang menempatkan lapak di trotoar. Kegiatan itu sebagai upaya pemenuhan hak pejalan kaki terutama penyandang disabilitas.

Tim Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima (PKL) Kota Tasikmalaya terus melakukan berbagai upaya agar para PKL tidak berjualan di bahu jalan. Plt Dinas Satpol PP dan Damkar Kota Tasikmalaya, Drs Asep Maman Permana MSi menuturkan bila upaya yang dilakukan tidak serta merta melakukan penertiban saja. Tapi dilakukan tahapan secara persuasif kepada seluruh pedagang yang berjualan di lokasi yang bukan peruntukannya.

“HimbauAn kami sampaikan terlebih dahulu, kenapa tidak boleh berjualan di bahu jalan atau di trotoar, kemudian aturannya kami sampaikan juga, supaya semua pedagang kaki lima tahu bahwa lokasi tempat mereka berjualan itu harus bersih, tidak boleh ada yang jualan,” tuturnya.
Seperti pada akhir bulan November lalu, sejumlah PKL di beberapa lokasi mulai ditertibkan oleh Satpol PP. Salah satunya di sepanjang Jalan HZ Mustofa mulai dari Simpang Nagarawangi hingga Padayungan, disisir oleh Satpol PP. Dari data yang ada di Satpol PP, PKL banyak berjualan di Jalan HZ Mustofa jumlahnya 258 pedagang, Jalan Pasar Wetan 116 pedagang, Jalan Otto Iskandardinatta 11 pedagang, Jalan RSU 61 pedagang, Jalan Yudanegara 24 pedagang, Jalan Alun-Alun 22 pedagang dan Jalan Pancasila 33 pedagang.
Penertiban PKL yang dilakukan pada akhir November lalu dilakukan oleh sekitar seratus lima puluh personel gabungan dari TNI, Polri, dinas terkait serta Satpol PP dan Linmas. Mereka menyisir jalan-jalan pusat kota. Hasilnya sekitar 10 lapak berupa kios dan bangku PKL yang menempati trotoar diangkut dan dibongkar.
“Mereka sudah melanggar aturan dengan berjualan di trotoar. Trotoar ini hak pejalan kaki. Maka kami terjun untuk memberi sosialisasi dan pengarahan,” ujar Kasi Tibum Dinas Satpol PP dan Damkar Kota Tasikmalaya Hendih Junaedi di sela penertiban, 22 November lalu.
Dia menjelaskan pasca perbaikan trotoar, pihaknya diberi tugas untuk fokus mengawasi jalur-jalur pusat Kota Tasikmalaya. Apalagi sekarang terdapat jalur bagi penyandang disabilitas berwarna kuning di tengah trotoar. Pihaknya akan terus memantau dan memploting anggota agar PKL tidak kembali menempati trotoar. “Kalau masih membandel menyimpan lapak di trotoar kita akan angkut. Sebab bila dibiarkan menambah kekumuhan kota. Jangan sampai disimpan dan menetap seolah permanen. Harus dibawa pulang,” terangnya.
Sementara itu PKL di depan Bank CIMB Niaga , Sansan (42) mengaku tidak menolak apabila upaya tersebut untuk kepentingan umum. Dia yang sudah berjualan sekitar satu tahun mengharapkan pemerintah bisa memberi solusi, jangan hanya menertibkan PKL. “Kalau bisa sih ada tempat relokasi yang strategis. Tetapi kita boleh berjualan di sini juga tidak apa-apa dengan mengikuti aturan. Tidak permanen dan tidak memakan lahan pejalan kaki,” tuturnya.
Pedagang di depan Plaza Asia, Jais Juhardi (55) mengaku pernah mendengar adanya larangan berjualan di trotoar. Namun, bertahun-tahun membuka lapak jasa duplikat kunci di kawasan tersebut baru kali ini diminta untuk pindah dan tertib. “Saya minta waktu saja untuk berbenah. Bukan tidak mau dibongkar, tetapi khawatir kaca-kaca lapaknya pecah,” ungkapnya.
Berbeda dengan Mimah (40), sejak mal tersebut berdiri belum pernah mendapat pemberitahuan larangan berjualan di trotoar. Dia kaget tetiba ada rombongan aparat hukum berseragam meminta untuk bongkar lapaknya. “Ya kita kaget, 10 tahunan di sini baru disuruh tertib. Kenapa tidak dari dulu,” pungkasnya. (tin/igi/red)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here