Dilema Kemerdekaan Catalunya

289
0

DEKLARASI kemerdekaan sepihak Catalunya pada minggu terakhir Oktober lalu menimbulkan riak yang kompleks. Sebab, jika kemerdekaan sebuah kawasan yang sebenarnya ”relatif baik-baik saja” itu mendapat pengakuan dunia, tentu akan menimbulkan preseden kemerdekaan di banyak kawasan lainnya.
Di semua benua, hampir semua negara punya masalah dengan kawasan yang hendak memisahkan diri. Di Eropa, Inggris, Italia, juga punya masalah yang sama. Di Asia, sejumlah negara juga menghadapi problem serupa. Termasuk di Indonesia. Maka, secara politis, bisa dipahami jika Uni Eropa, PBB dan sejumlah negara sudah menyatakan sikap tak mengakui deklarasi kemerdekaan tersebut.
Jika mengakui, sejumlah pemimpin kawasan bergolak itu bisa lantang menyatakan kemerdekaannya dan dengan mudah memisahkan diri. Akibatnya, tentu banyak negara yang ambyar dan bisa terjadi situasi chaos di mana-mana. Sebagai contoh, pecahnya Uni Sovyet masih membuat kawasan di sekitar perbatasan Rusia dan negara-negara bekas pecahan Sovyet bergejolak.
Di sisi lain, Indonesia dalam konstitusinya tegas menyatakan bahwa ”kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa”. Ini tentu saja berkebalikan dengan sikap resmi pemerintah Indonesia. Sebab, menurut teori indonesianis asal AS, Ben Anderson, negara adalah ”komunitas yang dibayangkan”.
Maka, dasar ketakutan akan separatisme yang timbul di negaranya sendiri seharusnya tak bisa menjadi penghalang pengakuan kemerdekaan sebuah bangsa. Ini pula yang membuat banyak suku bangsa tak bisa diakui kemerdekaannya. Palestina, misalnya. Atau suku Kurdi. Dan banyak contoh kasus lainnya, di mana penduduk sebuah kawasan yang terjajah sulit untuk merdeka.
Lalu, mana sikap yang harus diambil? Seharusnya, Indonesia bisa mengusulkan sebuah inisiatif kepada PBB untuk mengatasi dilema soal ini. Kisah tentang Catalan dan Palestina tentu berbeda dan penyikapan terhadapnya juga wajar jika berbeda. Untuk itu, diperlukan sebuah penetapan parameter-parameter yang diterima semua pihak soal apa saja yang memungkinkan sebuah kawasan bisa merdeka.
Parameter ini hendaknya bisa menguji syarat-syarat objektif kemerdekaan sebuah kawasan. Sehingga, kawasan yang benar-benar terjajah bisa terbantu dengan merdeka. Atau, pergolakan ini sekadar masalah separatisme. Atau, sekadar sikap avonturir segelintir orang yang menunggangi rasa ingin merdeka. (*)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.