Terkait Perjalan Dinas Luar Negeri Pejabat

Dinilai Hamburkan Anggaran

5

TAROGONG KIDUL – Beberapa pejabat eselon dua Pemkab Garut setingkat kepala dinas dan kepala badan mengikuti perjalanan dinas luar negeri ke Laos bersama Bupati Garut H Rudy Gunawan beberapa waktu lalu.

Banyaknya pejabat yang ikut dalam perjalanan dinas itu mendapat sorotan Peneliti Masyarakat Peduli Anggaran Garut (Mapag) Haryono.

Dari pantauannya, ada sekitar 30 pejabat eselon dua dan tiga yang ikut dalam perjalanan ke luar negeri itu.

Padahal, terang dia, berdasarkan Permendagri Nomor 29 tahun 2016 pasal 4 ayat 1 dan 2 tentang Pedoman Perjalanan Dinas Luar Negeri, maksimal diikuti lima orang pejabat, termasuk pimpinan rombongan.

Jumlah tersebut, tambah dia, dikecualikan jika menyangkut masalah pendidikan, perundingan kerja sama dan delegasi kesenian dalam rangka promosi potensi daerah.

“Kalau memang kunjungan kerja ke luar negeri baik, kenapa tak sebutkan saja sebelum pergi. Toh sekarang juga kami bisa baca dari media dan medsos. Kita tak pernah tahu tujuan utama mereka (kunjungan luar negeri). Ke depan itu dibuka saja,” terangnya.

Dia mengingatkan agar bupati bisa lebih bijak dalam masalah anggaran dan perjalanan dinas. Apalagi banyak masalah di Garut beberapa minggu terakhir.

Mulai dari disegelnya ruang fisioterapi RSUD dr Slamet, belum dibayarnya tunjangan karyawan RSUD dr Slamet karena klaim BPJS Kesehatan yang telat. Serta tuntutan guru honorer yang kesejahteraanya tak diperhatikan.

“Anggaran di Garut ini lagi cekak. Ketika kurang anggaran malah pergi,” terangnya.

Terpisah, Bupati Garut H Rudy Gunawan mengatakan perjalanan dinas ke luar negeri tersebut untuk mengenalkan seluruh potensi di Kabupaten Garut.

Dirinya juga datang ke Laos itu diundang oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).

“Yang diundang itu ada tujuh kabupaten, termasuk Garut,” ujarnya usai apel pagi di Lapang Setda Kabupaten Garut Senin (24/9).

Menurut dia, keberangkatannya bersama beberapa pejabat itu selain untuk mengenalkan potensi, juga untuk study banding mengenai potensi wisata lokal.

Di sana para pejabat yang ikut diminta untuk membuat perencanaan potensi wisata agro vulkania, terutama sektor pertanian padi.

“Di sana itu potensi padinya luar biasa, katanya terbaik di dunia,” terangnya.

Selain itu, kata dia, pihaknya juga mengenalkan produk nasi liwet kemasan kepada para pejabat di sana.

“Mereka sangat tertarik dan sangat menyukai nasi liwet,” ujarnya.

Saat ditanya banyaknya pejabat yang ikut dalam perjalanan dinas tersebut, Rudy menampik hal tersebut.

Menurut dia, para pejabat yang ikut hanya sedikit dan mengeluarkan anggaran sendiri, bukan didanai negara.

“Kata siapa disponsori pemda? Sebutkan, justru pengusaha mengeluarkan biaya sendiri,” ungkapnya.

Rudy berharap kunjungan itu tidak terlalu didramatisir. Sebab pada akhirnya bermanfaat bagi masyarakat ke depan.

“Kenapa banyak pejabat sektor lain? Kan lintas kementerian, jadi biar banyak wawasan lah mereka,” terangnya. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.