Dinobatkan Sebagai Pejuang HAM

198
0
CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 90

Raih Yap Thiam Hien Award ke-26
JAKARTA – Sikap KH Ahmad Mustofa Bisri yang moderat dan bijak mampu meneduhkan hati masyarakat. Gus Mus, begitu dia disapa merupakan sosok yang toleran dan membela kaum minoritas. Atas sepak terjangnya itu, dia pun dianugerahi Yap Thiam Hien Award 2017. Kiai yang juga budayawan itu dianggap sebagai pejuang hak asasi manusia (HAM).
Penghargaan bergengsi itu tidak sembarangan diberikan. Ada 34 tokoh yang menjadi kandidat penerima penghargaan itu. Dari nama itu mengerucut menjadi 4 orang. Gus Mus lah yang akhirnya dipilih sebagai penerima Yap Thiam Hien Award.  “Kami memilih Gus Mus, bukan karena yang lain tidak pantas. Mereka sama layaknya,” terang Ketua Yayasan Yap Thiam Hien Todung Mulya Lubis kepada Jawa pos, kemarin (23/12).
Ahli hukum itu enggan menyebutkan tiga nama yang menjadi pesaing berat Gus Mus. Menurut dia, ketiganya mempunyai dedikasi yang sama dengan Gus Mus. Kebetulan saja mereka belum terpilih. Mungkin saja mereka akan dicalonkan lagi dan dipilih. “Kami tidak tahu,” tutur dia.
Aktivis yang juga pengacara itu menerangkan, Gus Mus merupakan peraih penghargaan ke-26. Yap Thiam Hien sudah diberikan sejak 26 tahun lalu, sehingga ada 26 orang yang meraih penghargaan itu. Setelah diumumkan, penyerahaan penghargaan itu akan dilaksanakan pada 24 Januari 2018 mendatang.
Ia belum tahu apakah akan mengundang Presiden RI Joko Widodo atau Wakil Presiden Jusuf Kalla. Sebab, hal itu berkaitan dengan protokoler, sehingga tidak mudah mengundang keduanya. Yang pasti pihaknya akan mengundang pemerintah. Biasanya ada menteri yang datang dalam perayaan penghargaan itu.
Todung mengatakan proses penentuan peraih Yap Thiam Hiean sudah dimulai sejak Mei lalu dan baru diputuskan pada 11 Desember. Ada lima dewan juri yang memberikan penilaian. Selain dirinya, ada Makarim Wibisono, diplomat senior, Siti Musdah Mulia, ketua umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Yosep Stanley Adi Prasetyo, ketua Dewan Pers, dan Zumrotin K Susilo, aktivis perempuan dan anak.
Gus Mus dipilih menjadi peraih penghargaan itu, karena aktif memperjuangkan HAM. Todung mengatakan, pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin Rembang itu memang tidak pernah turun ke jalan dan tidak pernah dikenal sebagai aktivis HAM. Ia dikenal sebagai kiai dan budayawan. Namun, tutur dia, baginya Gus Mus merupakan pejuang HAM.
Dia adalah tokoh toleran yang menghargai setiap pemuluk agama. Ia berjasa memperkuat hak beribadah sesuai keyakinan setiap individu. Sang kiai juga menghargai dan membela kaum minoritas. Dalam setiap puisi dan ceramahnya, dia selalu menyerukan toleransi dan keberagaman.
Todung menerangkan, Gus Mus merupakan sosok ulama yang memiliki keteguhan dalam membangun moralitas kemanusian di tengah bangsa yang beragam. Agama harus diletakkan sebagai sumber moralitas, keadilan dan persaudaraan. Menurut Gus Mus, kata Todung, agama tidak oleh digunakan untuk kepentingan politik. “Tapi sebaliknya, politik harus menggunakan cara-cara orang beragama. Yaitu, menggunakan moralitas di atas segalanya,” ungkapnya.
Dia menambahkan, penghargaan itu diberikan kepada Gus Mus juga atas dasar beberapa catatan perkembangan politik di Indonesia pada tahun ini. Terutama pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang penuh gejolak. Sentimen agama dipakai untuk meraup simpati publik dan mendulang suara. Mereka mengerahkan kelompok antitoleran untuk menjatuhkan konstestan lainnya.
Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah PBNU Robikin Emhas mengatakan, Gus Mus sangat layak meraih penghargaan itu. “Bahkan, kalau ada penghargaan yang lebih tinggi dari itu, Gus Mus juga layak mendapatkannya,” terang dia. Sebab, tokoh NU itu sudah membuktikannya melalui pengabdiannya, baik di ranah agama maupun sosial.
Ketika menjabat sebagai Rais Aam PBNU, Gus Mus selalu memperjuangkan prinsip-prinsip demokrasi, egalitarian dan selalu berpegang teguh pada nilai humanistik. Menurut dia, bisa dibilang, mulai tidur dan bangun dari tidurnya, Gus Mus selalu memperjuangkan nilai-nilai itu. “HAM yang diperjuangkan Gus Mus adalah HAM yang ditegaskan dalam konstitusi kita,” tegasnya. (lum)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.