Terkait Kondisi Pelemahan Rupiah

Diprediksi Hingga Tahun Depan

4

JAKARTA – Meski pergerakan USD cenderung melemah di pekan kemarin, namun tampaknya tidak banyak berimbas pada pergerakan rupiah yang masih melanjutkan pergerakan negatifnya. Bahkan dengan dinaikannya tingkat suku bunga Bank Indonesia juga belum memberikan efek positif secara signifikan.

Adapun nilai tukar rupiah terdepresiasi 0,74 persen dari sebelumnya turun 0,11 persen. Di pekan kemarin, laju rupiah sempat melemah ke level 14.940 atau lebih rendah dari sebelumnya di level 14.934. Sementara level tertinggi yang dicapai di angka 14.816 atau di bawah sebelumnya di angka 14.800. Laju Rupiah di pekan kemarin sempat bergerak lebih rendah dari target support 14.855 dan resisten 14.790.

“Pergerakan rupiah kembali terkoreksi seiring adanya penilaian masih akan beratnya masalah ekonomi yang akan dihadapi Indonesia oleh salah satu pasangan capres dan cawapres,” ujar analis Reza Priyambada di Jakarta  Minggu (30/9).

Bahkan, lanjut Reza, tantangan rupiah bertambah berat dengan kian meningkatnya laju USD karena akan berimbas pada penurunan daya beli masyarakat seiring maraknya barang-barang impor yang beredar baik di industri maupun masyarakat. Di sisi lain, adanya komentar positif dari Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam hal penanganan utang tampaknya kurang kuat mengangkat rupiah

“Bahkan pergerakan USD yang kembali turun pun terlihat seolah-olah tidak direspon dengan kembali melemahnya rupiah,” katanya

Reza melanjutkan, imbas dari dinaikannya suku bunga The Fed yang membuat Bank Indonesia ikut menaikan 7D-RR nya sebanyak 25 bps tampaknya tidak serta merta membuat laju rupiah bertahan positif. Pelaku pasar lebih merespon dampak dari kenaikan suku bunga The Fed yang berpeluang memberikan sentimen positif bagi kenaikan USD.

Karena itu,  ia memprediksi pergerakan negatif masih terjadi pada rupiah yang belum juga merespon kenaikan 7D-RR sebanyak 25 bps. Di sisi lain, pergerakan USD menguat seiring dengan melemahnya laju EUR pasca adanya sentimen negatif dari Italia. Dikabarkan Italia meningkatkan perkiraan defisit anggarannya sehingga memberikan kekhawatiran akan kondisi anggaran negara tersebut.

Tidak hanya itu, kata Reza,  pelaku pasar melihat belum usainya perang pengenaan tarif impor dagang antara AS dan Tiongkok membuat permintaan akan mata uang safe haven masih meningkat sehingga memperkuat laju USD. Selain itu, penguatan USD juga didukung kenaikan sejumlah data-data ekonomi AS.

Ia memperkirakan, rupiah sepekan ke depan nampaknya juga masih belum mampu merespon adanya sejumlah sentimen positif sehingga masih memiliki peluang pelemahan. Apalagi kondisi dari zona Eropa sedang kurang baik sehingga membuat laju USD terlihat lebih positif dibandingkan EUR. “Pekan depan laju rupiah akan berada pada rentang support 14.895 dan resisten 14.919,” tukasnya

Sementara itu, ekonom Indef Bhima Yudhistira mengatakan,  pelemahan rupiah akan terus berlanjut sampai 2020. Bahkan, JP Morgan di tahun 2020 meramal akan terjadi krisis besar. “Sektor yang kena krisis bervariasi mulai dari jasa keuangan, manufaktur hingga retail. (mad/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.