Diprediksi Sepanjang 2019, Peternak Ayam Merugi

49
0
ANJLOK. Seorang anak tengah melihat ayam. Saat ini, harga ayam di tingkat peternak sangat murah. Sehingga membuat peternak terancam gulung tikar.
Loading...

JAKARTA – Anjloknya harga ayam di tingkat peternak hingga menyentuh Rp 6 ribu per kilogram (kg), membuat peternak ayam terancam gulung tikar. Akibatnya, diprediksi peternak akan merugi sepanjang tahun 2019.

Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Parjuni mengatakan meski saat ini harga ayam sudah mulai stabil ke arah harga pokok penjualan (HPP), namun dia memperkirakan peternak ayam masih terus merugi hingga akhir tahun 2019.

“Tetapi sampai dengan akhir tahun ini belum tentu bisa mengendalikan kerugian kita yang sudah enam bulan habis-habisan,” ujarnya kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (1/7).

GPPU mencatat, rata kerugian kemarin adalah 4 ribu hingga 4,5 ribu per ekor per bulan selama enam bulan. “Jadi tahun ini saya prediksi tetap merugi. Berat,” ucap dia.

Mengenai Kementerian Pertanian (Kementan) mengklaim mampu menstabilkan kembali harga ayam di tingkat peternak antara Rp 17 ribu hingga Rp 18 ribu, kata dia, memang sudah waktunya harga ayam naik. Jadi bukan karena kebijakan pemerintah, sebab baru dirasakan satu bulan ke depan.

“Pemerintah melakukan pemangkasan bibit baru Minggu ini. Jadi efeknya akan terasa satu bulan lagi. Jadi kenaikan harga saat ini bukan upaya pemerintah murni, tetapi peternak juga sudah jenuh harga hancur,” ungkap Parjuni.

Dia meminta untuk memahami kondisi yang dihadapi peternak. Selama ini, pemerintah hanya pandai teori namun kenyataannya di lapangan tidak demikian.

Loading...

“Inilah suatu hal dari pemerintah yang tidak dipahami, permasalahan bisnis atau usaha budidaya ini bukan teori saja, tapi semua aspek bisa mempengaruhi,” ucap dia.

Senada dengan Parjuni, Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan), Sugeng Wahyudi menegaskan naiknya harga ayam di tingkat peternak bukan karena kebijakan pemerintah yang baru berjalan kemarin.

“Betul harga hari ini sudah mulai naik tetapi belum sampai Rp 18 ribu. Kenapa bisa naik (harga ayam)? Karena baik perusahaan maupun peternak satu bulan yang lalu chin in doc atau masuk doc-nya (anak ayam usia di bawah 10 hari) terukur atau berkurang karena momen lebaran, sehingga panen saat ini relatif berkurang jika dibandingkan Minggu-Minggu lalu,” kata Sugeng, kemarin (1/7).

Saat ini, kata dia, harga ayam sudah berangsur narik yakni untuk ukuran 1.2 kilogram ke bawah seharga Rp17 ribu dan untuk ayam ukuran besar 2 kg lebih di kisaran Rp13 ribu sampai dengan Rp15 ribu.

“Dampak kebijakan pemerintah memangkas bibit ayam baru akan dirasakan satu bulan yang akan datang,” ujar Sugeng.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, I Ketut Diarmita mengklaim pihaknya telah berhasil menaikkan harga ayam mencapapai Rp 18 ribu per kg.

Kata dia, keberhasilan menaikkan harga ayam lantaran memangkas produksi bibit produksi bibit ayam potong. “Sudah naik, di tingkat peternak barusan di Jateng harga Rp 17-18 ribu per kg,” ujarnya.

“Kalau logika saya, jika kita potong telur atau kurangi hedging egg dampaknya mestinya bulan depan. Tapi, sekarang satu hari aja sudah naik, nah itu jawab aja,” tambah dia.

Selain itu, pihak Kementan akan mengatur soal tata kelola rantai jual ayam. Sebab Kementan melihat ada keanehan distribusi selama ini di tingkat peternak, pasar maupun brokernya. (din/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.