Direkrut, 5 Warga Hilang Kontak

234
0
UJANG NANDAR / RADAR TASIKMALAYA FASILITASI. Ketua KPAI Kabupaten Tasikmalaya Ato Rinanto saat berbincang dengan keluarga yang diduga menjadi korban perdagangan manusia di Saung Rangon, Indihiang kemarin (11/12).

TASIK – Orang tua dan istri ke lima warga asal Kecamatan Cisayong dan Indihiang mengadu ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Kabupaten Tasikmalaya kemarin (11/12). Kelima warga itu hilang kontak setelah direkrut oleh Ade Radit untuk bekerja di Jakarta pada 13 September 2017. Mereka diduga menjadi korban perdagangan orang (trafficking).
Adapun nama-nama korban itu adalah Irfan Saeful Anwar (21), Dani Zaelani (18), dan Baban (29) asal Kampung Ciburuyhilir Desa Sukasukur Kecamatan Cisayong serta Gilang (16) dan Aep (26) asal Sukamajukidul Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya.
Meti (45), ibu kandung Gilang menceritakan semula Ade Radit asal Serang, Banten datang kepadanya untuk mencari calon pekerja pelayaran di Jakarta. Ade menjanjikan gaji Rp 3 juta per bulan.
Gilang pun, kata Meti, tergiur dengan upah tersebut. Akhirnya anaknya ikut bersama Ade untuk bekerja. “Kebetulan anak saya lagi nganggur. Tawaran itu langsung diambil,” ujarnya kepada Radar saat bersama KPAI di Saung Rangon, Indihiang kemarin (11/12).
Menurut Meti, saat akan bekerja anaknya tidak harus membuat lamaran pekerjaan. Namun diminta uang sebesar Rp 500 ribu untuk biaya pembuatan ATM. ATM ini akan dipegang oleh keluarga untuk menerima transfer uang. “Hingga kurang lebih dua bulan ini ATM yang dijanjikan belum juga ada uangnya. Sedangkan keluarga yang berangkat susah dihubungi,” tuturnya.
Sebenarnya, kata Meti, orang yang direkrut oleh Ade itu ada tujuh orang. Dua lagi itu warga asal Kecamatan Cibalong. Namun, dia tidak mengetahui identitas dua orang itu. Sampai saat ini, Gilang bersama warga lainnya yang ikut Ade belum juga bisa dihubungi.
Ketua KPAI Kabupaten Tasikmalaya Ato Rinanto menduga kelima warga itu adalah korban trafficking. Pasalnya, sejak direkrut Ade para korban susah dihubungi. “Saya menduga menjadi korban perdagangan manusia untuk dipekerjakan,” katanya.
Sebenarnya, laporan dari keluarga korban ke KPAI itu kurang tepat. Pasalnya, usai korban itu sudah tergolong dewasa. Bukan di bawah umur. Namun demikian, pihaknya akan membantu dan mengarahkan keluarga korban untuk melapor ke kepolisian.
Khusus untuk Gilang, terang Ato, bisa ditangani langsung oleh KPAI. Namun oleh KPAI Kota Tasikmalaya. Pihaknya akan mengoordinasikan hal tersebut. “Untuk dua orang warga Cibalong masih akan kita cek, sudah pulang atau belumnya dan masih kategori anak atau bukan,” jelas Ato. (ujg)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.