Disdik Garut tak Berani Buka KBM Tatap Muka PAUD, SD dan SMP

179
0

TAROGONG KIDUL – Dinas Pendidikan Kabupaten Garut menyatakan belum bisa mengeluarkan kebijakan belajar tatap muka untuk tingkat PAUD, SD, hingga SMP. Hal itu karena tren temuan kasus konfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Garut cenderung naik.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut Totong menyebut prio­ritas utama pemerintah lebih mengutamakan kesehatan dan keselamatan peserta didik, orang tua dan para guru. Rencana belajar tatap muka pun belum ditentukan waktunya.

Baca juga : Peredaran Daging Beku Impor di Garut Bikin Resah Warga

“Dengan kondisi sekarang, kami tidak berani membuka sekolah. Anak-anak lebih baik belajar di rumah. Ketimbang sekolah dibuka karena bisa berbahaya,” ucap Totong kepada wartawan Jumat (28/8).

Menurut dia, rencana awal belajar tatap muka di Kabupaten Garut akan dimulai bulan September. Namun karena untuk tingkat SMA/SMK yang rencananya dimulai tanggal 18 Agustus urung dilakukan, maka belajar tatap muka bagi PAUD sampai SMP diundur.

Apalagi berdasarkan keputusan bersama empat menteri, bahwa tahapan masuk sekolah bisa dilakukan setelah SMA-SMK dimulai. “Baru diikuti ke jenjang di bawahnya. Seperti SMP, SD hingga PAUD. Prioritas utama pemerintah sebenarnya lebih mengutamakan kesehatan dan keselamatan,” terangnya.

Loading...

Menurut Totong, meski sarana dan prasarana sudah siap, pihaknya tetap memperhatikan situasi dan kondisi saat ini. Di beberapa wilayah cenderung belum berubah menjadi zona hijau seluruhnya.

Bila terindikasi dalam kondisi tidak aman, apalagi terdapat kasus terkonfirmasi positif Covid-19 dan masuk zona orange atau merah, satuan pendidikan wajib ditutup kembali.

“Meski secara keseluruhan di beberapa kecamatan risiko rendah, apalagi bila zona hijau mungkin saja dibuka belajar secara tatap muka. Namun bila diamati kelihatannya belum landai,” ujarnya.

Totong juga menilai jika tahapan masuk sekolah dibuka dan sekolah dinyatakan aman, belum tentu di tengah perjalanan dari rumah ke sekolah dijamin aman.

Totong mencontohkan, penularan bisa terjadi saat siswa naik angkutan umum atau saat berjalan kaki. Potensi tertular atau menularkan virus bisa terjadi karena adanya interaksi.

“Ketika semakin banyak kerumunan, maka semakin banyak pula yang harus diantisipasi. Ini berisiko terjadi klaster baru dan bahaya juga. Jadi, kaki mengikuti aturan pusat saja,” ucapnya.

Baca juga : 5 Anak Pencabut Bendera di Garut Diamankan Polisi & Dikembalikan ke Orang Tuanya

Untuk proses belajar, pihaknya telah berupaya memperkuat metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) serta kombinasi antara daring dan luring. Pihaknya juga bisa memanfaatkan media elektronik seperti radio, TV, modul, video pembelajaran dan kunjungan guru.

“Tidak harus selalu daring, bisa juga melalui kunjungan guru atau orang tua datang ke sekolah mengambil buku pelajaran. Kami ada sembilan radio komunitas untuk belajar jarak jauh termasuk TV. Kita akan buat TV Pendidikan di Kabupaten Garut,” paparnya. (yna)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.