Disdik Kota Tasik Dorong Pancasila Jadi Pelajaran Khusus

31
0
AKTIVITAS. Masyarakat melewati Taman Makam Pahlawan Kusumah Bangsa, Jumat (29/1). Praktisi pendidikan setuju memasukkan Pancasila ke dalam Peta Jalan Pendidikan (PJP) Indonesia agar siswa memahami ideologi Pancasila dan sejarah bangsa Indonesia.
AKTIVITAS. Masyarakat melewati Taman Makam Pahlawan Kusumah Bangsa, Jumat (29/1). Praktisi pendidikan setuju memasukkan Pancasila ke dalam Peta Jalan Pendidikan (PJP) Indonesia agar siswa memahami ideologi Pancasila dan sejarah bangsa Indonesia.
Loading...

TASIK – Lembaga pendidikan di Tasikmalaya mendukung Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) untuk bisa memasukkan Pancasila ke dalam Peta Jalan Pendidikan (PJP) Indonesia 2020-2035. Dengan begitu pembelajaran di sekolah nantinya direalisasikan dalam satu mata pelajaran khusus yakni Pendidikan Pancasila.

Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya Dr H Dadang Yudhistira SH MPd mengatakan, dalam mendidik generasi muda yang cerdas dan berkarakter perlu adanya Pendidikan Pancasila. Ini untuk membangun kesadaran bahwa kemerdekaan Indonesia karena terdapat perbedaan atau keberagaman yang menjadi satu kesatuan.

“Jangan sampai generasi sekarang lupa dengan sejarah Indonesia karena adanya keberagaman. Maka perlu pendidikan Pancasila agar bisa memelihara moderasi perbedaan, seperti suku, agama, ras dan antar golongan,” katanya kepada Radar, Jumat (29/1).

Oleh karenanya, lanjut Dadang, jangan sampai pemuda saat ini tercabut dari akarnya atau tidak memahami ideologi Pancasila dan sejarah bangsa Indonesia. Ia pun mengharapkan siswa bisa menjadi profil pelajar Pancasilais. “Artinya yang menjunjung tinggi dan bersikap sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila,” ujarnya.

Profil pelajar Pancasilais ini, kata Dadang, sesuai dengan Nawacita Presiden Jokowi. Yaitu melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional.

loading...

Tentunya dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan. Seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme, dan cinta tanah air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia.

“Maka kebijakan tersebut bisa menguatkan karakter melalui penanaman internalisasi pendidikan Pancasila,” katanya.

Ia pun menyebutkan ada enam karakter dan kemampuan yang harus dimiliki oleh Pelajar Pancasilais. Yaitu beriman serta bertakwa kepada Tu­han dan berakhlak mulia, ber­ke­bhinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif.

“Sehingga mereka memahami ajaran agama dan kepercayaannya serta menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Selanjutnya, saat siswa me­mi­liki jiwa Pancasila bisa mem­pertahankan budaya lu­hur, lokalitas dan identitasnya, dan tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan bu­daya lain.

Sehingga menum­buhkan rasa saling menghargai dan kemungkinan terbentuknya budaya baru yang positif dan tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa.

“Dengan mengenal dan menghargai budaya lain dapat merefleksikan dan bertanggung jawab terhadap pengalaman dirinya dalam kebhinekaan,” katanya.

Selain itu, dengan paham pendidikan Pancasila bisa memunculkan generasi muda yang bisa memiliki kemampuan gotong royong. Maka pentingnya terus mengkampanyekan kebersamaan dengan sukarela agar dapat membangun negara Indonesia lebih baik.

Ia pun mengumpamakan NKRI sebagai rumah. Ketika ingin dibangun lebih baik maka harus dibangun bersama-sama oleh berbagai pihak, terutama oleh generasi muda. “Otomotis timbulnya generasi penerus yang suka berkolaborasi, peduli dan berbagi,” ujarnya.

Selain itu, siswa mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat dan berdampak.

Kepala KCD Pendidikan Wilayah XII Tasikmalaya Dr Abur Mustikawanto MEd menjelaskan pendidikan Pancasila sangat penting bagi siswa di tingkat SD hingga SMP. Sementara untuk jenjang SMA dan Perguruan Tinggi harus mulai menggunakan pengajaran yang berorientasi aplikatif dan implementatif.

“Ini berguna untuk membiasakan tatanan bermasyarakat yang santun dan berbudaya secara paripurna,” katanya. (riz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.