Disuplai Dana Desa, yang Nganggur Naik

54
0
Loading...

JAKARTA – Warga pedesaan turut menyumbang angka pengangguran di tanah air. Kenaikannya mencapai 0,03 persen berdasarkan data tingkat pengangguran terbuka (TPT).

Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri mengatakan pengangguran di desa dipengaruhi oleh sektor informal bidang pertanian. Di mana usai musim panen, para petani kembali menganggur.

“Tetapi kita berharap dan optimis dengan adanya program dari Kemendes PDTT terkait program Dana Desa yang di dalamnya ada Program Padat Karya membuka peluang kesempatan kerja di desa,” ujarnya di Gedung Bappenas kemarin (11/11)

Dia pun menilai situasi naiknya pengangguran di desa sifatnya tidak permanen. Sebab pada situasi tertentu seperti masa panen datang dan harga komoditas meningkat maka pengangguran juga otomatis akan turun.

“Adapun untuk segala sektor di tanah air, tren tingkat pengangguran terbuka (TPT) selalu menurun,” ungkapnya.

Loading...

Pada tahun 2015, kata dia, jumlah TPT sebesar 7,31 persen, namun mengalami penurunan pada tahun ini yang mencapai 6,45 persen. “Pertumbuhan sektor manufaktur, pariwisata, makanan dan minuman ini cukup berkontribusi menyerap tenaga kerja,” ungkapnya.

Dari total jumlah penyerapan angkatan kerja baru di era pemerintahan Jokowi dari 2015-2018 sekitar 9,6 juta orang, industri pengolahan menyerap 24,52 persen. Adapun retail besar, kecil dan reparasi motor 11,1 persen. Untuk administrasi pemerintahan atau jaminan sosial 10,9 persen, konstruksi 10,88 persen, dan kegiatan jasa 7 persen.

Sementara akomodasi, kuliner, dan rekreasi hanya menyerap empat persen lapangan kerja.

“Kalau bicara pengangguran kita harus katakan capaian yang ada belum sesuai yang kita harapkan. Namun kita harus jujur melihat trennya, pengangguran terus menurun,” jelas Menaker.

Hanif memaparkan sejak  2015, angka pengangguran terbuka tercatat 6,28 persen, lalu turun lagi 5,61 persen pada 2016.  Kemudian Kemenaker kembali mengklaim angka pengangguran terbuka semakin turun pada 2017 dengan angka 5,50 persen. Hingga sekarang (2018) trennya terus menurun menyentuh angka 5,34 persen. “Trennya terus menurun setiap tahun. Ini adalah tahun angka pengangguran paling rendah,” klaim Hanif.

Banyak Lulusan SMK

Pengangguran masih menjadi persoalan besar bangsa. Banyak yang berasal dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tak menampik hal tersebut. Makanya, sejumlah perbaikan dan penataan SMK di tanah air terus dilakukan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy mengklaim ada peningkatan angka partisipasi kerja lulusan SMK. Mencapai 13.682 pada Agustus 2018 dibanding periode sama pada 2015 dengan angka partispasi lulusan hanya 10.837.

“SMK cenderung menunjukkan persentase  angka pengangguran terbukanya turun tiap tahun,” ujarnya.

Angka pengangguran terbuka itu pun ditunjukkan Muhadjir dengan  penurunan mencapai di angka 8,92 persen pada tahun ini dibanding 2016, yang mencapai 9,84 persen.

Capaian tersebut, menurut Muhadjir, tidak terlepas dari kuatnya komitmen pemerintah untuk mengurangi pengangguran. Termasuk melalui Inpres Nomor 9 Tahun 2016 Tentang Revitalisasi SMK dalam Rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Manusia Indonesia.

Rencana besar pun telah disiapkan Kemendikbud. Kata Muhadjir, beberapa program pengembangan SMK saat ini telah dilakukan. Yakni membuat peta jalan pengembangan SMK serta pengembangan dan penyelarasan kurikulum.

“Di samping itu kita juga melakukan inovasi pemenuhan dan peningkatan profesionalitas guru dan tendik. Lalu menggelar kerja sama sekolah dengan dunia usaha, industri, serta perguruan tinggi,” jelasnya.

Perhatian utamanya juga meningkatkan akses sertifikasi lulusan dan akreditasi SMK serta membentuk Kelompok Kerja Pengembangan SMK.

Upaya Kemendikbud untuk meningkatkan kualitas lulusan SMK memang harus dilakukan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2018 pun menunjukkan lulusan SMK menjadi penyumbang terbesar angka pengangguran di tanah air.

Berdasarkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), lulusan SMK menyumbang 8,92 persen dari total 6,87 juta pengangguran di Indonesia. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan SMK harus segera berbenah. Banyak pengangguran yang lahir dari lulusan itu menunjukan kurikulum yang dibangun mesti dievaluasi.

“Angka ini memang menurun jika dibanding 2017, akan tingkat pengangguran terutama lulusan SMK masih tinggi,” pungkasnya.(rdi/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.