Dites Rapid Lagi, 1 Wartawan & 6 ASN Garut Hasilnya Nonreaktif

298
0
RAPAT. Wakil Bupati Garut dr Helmi Budiman saat melakukan rapat dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Garut Rabu (13/5). yana taryana / rakyat garut

GARUT KOTA – Tujuh orang yang sebelumnya dinyatakan reaktif pada rapid test di lingkungan Setda Kabupaten Garut kembali menjalani rapid test Rabu (13/5). Rapid test dilaksanakan di Rumah Sakit Medina Kecamatan Wanaraja.

Hasilnya, enam ASN dan satu wartawan itu non reaktif atau negatif Covid-19.

Baca juga : PSBB di Garut Dinilai Mirip CFD

“Ia benar hasilnya nonreaktif untuk tujuh orang itu, setelah kami cek kembali di tempat isolasi,” ujar Wakil Bupati Garut dr Helmi Budiman kepada wartawan Rabu (13/5).

Meski hasil tes menyatakan nonreaktif, ketujuh orang ini tetap harus menjalani isolasi dan melakukan tes swab. Kata dia, tujuh orang itu sudah diizinkan pulang setelah satu malam menjalani isolasi di Rumah Sakit Medina.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut dr Maskut Farid mengatakan perubahan reaktif menjadi nonreaktif lantaran saat pemeriksaan awal, alat rapid test di Setda Garut menggunakan merek Viva Diag.

“Viva Diag ini banyak keluhan. Seperti di Kecamatan Selaawi, yang tadinya reaktif, setelah dicek dengan merek lain jadi nonreaktif,” katanya.

Namun, kata dia, bedanya hasil tes bukan berarti kesalahan alat Viva Diag-nya, sebab dalam pemeriksaan antibodi ada alat yang sangat sensitif terhadap virus-virus yang lain.

“Jadi kalau reaktif itu bisa saja karena pernah ada demam berdarahnya atau ada flunya. Jadi data yang ada kira-kira 50 persen lah tingkat akurasinya, jadi yang reaktif atau non reaktif, ini masih belum pasti, mana yang benar. Makanya kita tunggu hasil tes swabnya,” terangnya.

Maskut menerangkan membeli alat rapid test tersebut berdasarkan rekomendasi dari Gugus Tugas Nasional.

“Ada 20 merek rapid test yang direkomendasikan, termasuk Viva Diag ini. Jadi kami beli,” terangnya.

Hasil Rapid Test Resahkan Warga

Hasil rapid test yang tidak akurat membuat warga Garut semakin resah. Warga beranggapan langkah Pemerintah Kabupaten Garut melakukan rapid test hanya membuang-buang anggaran.

“Kalau hasilnya tidak akurat seperti ini, tolong hentikan saja rapid test ini. Mending langsung PCR sekalian, ini seperti buang-buang anggaran saja,” ujar mantan aktivis Garut Ade Farhan kepada wartawan Rabu (13/5).

Menurut dia, hasil rapid test seperti “prank”. “Hari ini dikatakan positif, besoknya sudah berubah lagi. Jadi semacam di-prank. Dinyatakan positif, eh tapi bohong,” kata dia.

Sementara itu, Ketua Lembaga Kajian Tim Nasional (LKTN) Garut Andri Ramdhani mengatakan alat rapid test yang digunakan Pemkab Garut dua-duanya didatangkan dari Cina.

Baca juga : Rawan Busuk, 4 Ton Telur Bansos Pemprov Jabar Jatah Garut Dialihkan ke Kota Lain

Menurutnya, proses pengadaan kedua alat itu pun tak jelas. “Bagaimana lelangnya saja tak jelas. Dinkes Garut hanya melakukan penunjukkan,” katanya.

Andri mengatakan Pemkab Garut harus lebih serius dalam penanggulanagan Covid-19. Pasalnya, menyangkut urusan nyawa manusia. “Ini urusan nyawa manusia. Jangan asal-asalan mengeluarkan pernyataan. Hari ini positif, besok jadi negatif,” ujarnya. (yna)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.