Siapa Calon bupati Tasikmalaya pilihan anda?
18%

82%

DKKT tak Dilibatkan di TOF 2019, Ini Kata Para Senior Pegiat Musik dan Budaya Kota Tasik

380
0
DISKUSI. Rumpun Musik DKKT diskusi dengan jurnalis radartasikmalaya.com, Rezza Rizaldi terkait TOF 2019, Senin Sore (7/10. rangga jatnika/radar tasikmalaya.

CIHIDEUNG – Pelaksanaan Tasikmalaya Oktober Festival (TOF) telah memasuki hitungan hari. Namun, menjelang hari H event  kalender tahunan untuk memeriahkan hari jadi Kota Tasik ini mulai banyak bermunculan masalah.

Sebelumnya, banyak pihak menilai, TOF sekadar kegiatan memeriahkan HUT Kota Tasik yang hanya dinikmati kalangan tertentu. Seperti ASN atau PNS Pemkot Tasik saja.

Penilaian pun ada benarnya. Buktinya, TOF tak merangkul atau merangkul pihak Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya (DKKT).

Itu seperti yang dirasakan para pegiat musik di Rumpun Musik DKKT. Rumpun Musik DKKT sendiri terkesan dilupakan dari TOF. Mereka tak dilibatkan dalam perhelatan terakbar tersebut.

Padahal secara kemasan event musik maupun kebudayaan yang masuk dalam agenda TOF, DKKT lebih mumpuni dan menguasai secara profesional.

“Awalnya TOF itu adalah TCF, Tasik Creative Festival. Saat TCF, saya dilibatkan. Mulai dari konsep awal TCF saat bekerjasama dengan BI. Nah selang beberapa tahun konsepnya mulai melenceng dari konsep awal, yaitu menampilkan tradisional asli Kota Tasik. Sekarang malah kesannya seperti Festival Samba, di Brazil,” ujar Anggota Rumpun Musik DKKT, Alfie Akhmad kepada radartasikmalaya.com, Senin Sore (7/10).

“Maka harusnya yang dieksplor di TOF ini jika dari sisi kebudayaan adalah budaya asli Kota Tasik. Itu yang harus ditonjolkan dan dipamerkan. Lalu dari sisi penampilan hiburan musik, jangan sampai ada kesan mencari untung saja tanpa mengutamakan kualitas dari ivent musiknya,” sambungnya.

Sebab, terang dia yang diamini rekan-rekannya Kordinator Rumpun Musik DKKT, Tedi Kameswara dan Pengurus Rumpun Musik DKKT, Andi Ibo,

TOF ini selain tak melibatkan pihaknya, juga seperti mengesampingkan eksistensi DKKT. “Tak pernah kami diajak bicara atau berdiskusi dalam TOF ini. Padahal kita khususnya untuk talent musik maupun tradisional saja sangat paham dan profesional,” terangnya.

Hal senada dibenarkan Andi Ibo. Dia sampai berani menilai kesan ketidakprofesional di TOF kali ini. Seperti salah seorang panitianya menghubungi dia untuk mengajak tampil selama 2 jam di panggung TOF melalui pesan singkat whatsapp.

“Tak ada penawaran kontrak, roundown event-nya, atau surat ajakan untuk berdiskusi. Ini sangat tak profesional dan kesan cari untung sangat kental,” tegasnya.

Kordinator Rumpun Musik DKKT, Tedi Kameswara menambahkan, pihak DKKT sudah sepantasnya dilibatkan dari awal yang mengkonsep TOF ini.

“Banyak hal yang menjadi evaluasi dari tahun ke tahun TOF bisa terulang di TOF kali ini. Contohnya tak ada yang mengatur durasi di panggung, alat band, sound panggung dan lain sebagainya,” tukasnya.

(rezza rizaldi/radartasikmalaya.com)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.