Siapa calon Bupati Tasikmalaya pilihan anda?

0.4%

4.8%

41.9%

14%

1.4%

26.6%

0%

10.8%

0%

DLH Diminta Tak Hapus Aset Program Biogas

16
0
TERBENGKALAI. Warga di lokasi pengolahan limbah tahu menjadi biogas di Desa Balokang Kamis (31/10). Bangunan itu sudah lama tak difungsikan. Cecep herdi / radar tasikmalaya

BANJAR – Ketua LSM Pemantau Kinerja Aparatur Negara (Penjara) Ryan Rosdiana Mustofa mendesak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjar konsisten dalam menangani dan menjalankan proyek biogas di seluruh wilayah di Kota Banjar. Termasuk di Desa Balokang. Ryan meminta dinas terkait menjalankan kembali program biogas.

“Jangan malah dihapuskan asetnya. Anggaran ratusan juta dibangun proyek, kemudian seenaknya dihapuskan asetnya tanpa terlebih dahulu memberikan azas manfaatnya kepada masyarakat. Ini jelas pemborosan anggaran kan. Saya meminta aparat penegak hukum (APH) turun untuk investigasi ini,” kata Ryan Minggu (17/11).

Ia menyesalkan sikap dinas ketika program tersebut tidak berjalan. “Meskipun ini anggarannya dari provinsi atau pun pusat, saya minta ini segera dievaluasi karena jelas ini tidak berjalan. Proyeknya gagal total. Kemudian jika pihak dinas mengklaim masih bisa memfungsikan kembali, kenapa harus dihapuskan asetnya,” ujarnya.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Program Biogas Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjar Ati mengatakan tidak berjalannya program biogas di Desa Balokang karena sapi ternak sudah tidak ada, sehingga bahan baku pengolahan biogas itu tidak ada.

Sebab selain limbah tahu, limbah kotoran sapi digunakan untuk produksi limbah menjadi gas yang dialirkan ke pelaku usaha produksi tahu.

“Dulu program itu kan dicampur dengan limbah kotoran sapi, di lokasi ada kandang sapi. Tapi karena sapinya sudah tidak ada maka produksinya terhambat,” katanya.

Ia mengklaim alat pengolahan biogas masih bisa difungsikan. Meski dibangun pada tahun 2014, peralatan pengolahan limbah bisa berfungsi dengan baik. Hanya saja kendalanya kotoran sapi yang digunakan sebagai pemancing produksi biogas tidak tersedia.

“Sebetulnya masih layak digunakan untuk produksi biogas, namun kembali lagi ke permasalahan dan perencanaan awalnya. Itu kan menggunakan limbah tahu dan sebagian lagi dari limbah kotoran sapi. Nah ini kandang sapinya juga sudah tidak ada di lokasi itu,” kata dia.

Ia menjelaskan program biogas di Desa Balokang sedang dalam penanganan. “Kami sedang dalam proses. Ada dua alternatif. Pertama kami bebaskan lahannya (dibeli) yang saat ini milik warga. Jika upaya itu gagal maka kita coba tempuh penghapusan aset. Karena jika dibiarkan terus seperti ini dikhawatirkan menimbulkan masalah yang berkepanjangan,” tuturnya. (cep)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.