DN Cabuli Anak Selama Empat Tahun

111
EKSPOS. Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna menghadirkan pelaku pencabulan saat ekspos di Mapolres Garut Kamis (5/4). (Yana Taryana / radartasikmalaya.com)

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

KARANGPAWITAN – DN (45) warga Pangatikan tega mencabuli anak kandungnya yang masih di bawah umur. Aksi bejat tersebut dilakukan pekerja serabutan ini selama empat tahun.

Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna memaparkan pengungkapan kasus berawal dari laporan istri pelaku, yang curiga ketika anaknya menolak ditinggal bersama ayahnya sendiri.

“Saat korban disuruh ibunya tinggal di rumah, korban enggak mau dan milih tinggal bersama neneknya,” ujarnya kepada wartawan saat ekspos di Mapolres Garut Kamis (5/4).

Merasa ada yang janggal, lanjutnya, istri pelaku menanyai anaknya. Dari sana, baru diketahui bahwa sang anak takut kepada sang ayah karena kelakuan bejatnya.

Korban mengaku telah dinodai. Sang ibu kemudian melaporkan hal tersebut kepada polisi. Pelaku pun ditangkap di rumahnya di rumahnya pada Rabu (4/4).

“Selain mengamankan pelaku, kami juga menyita beberapa barang bukti seperti baju tidur, satu celana dan mini set (pakaian dalam, Red) milik korban yang diduga digunakan korban ketika dicabuli pelaku,” paparnya.

Dalam keterangan kepada penyidik, kata dia, pelaku mengaku perbuatannya telah dilakukan sejak tahun 2014. Pelaku melakukan hubungan layaknya suami istri dengan sang anak karena tak kuasa menahan birahi. Dia menciumi bibir korban, meraba dada, sampai kemaluan.

Untuk menutupi aksi bejatnya, pelaku selalu mengancam korban dan memberikan uang tutup mulut sebesar Rp 5.000.

“Pelaku selalu mengancam korban untuk tidak melaporkan kepada istrinya,” terangnya.

Untuk memudahkan proses hukum, kata dia, pihaknya akan segera menghadirkan psikolog guna memeriksa kondisi kejiwaan pelaku.

Ayah dua anak ini diancam Pasal 81 dan Pasal 76 E Jo Pasal 82 UU RI no 35 Tahun 2014 atas Perubahan Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman minimal lima tahun penjara dan maksimal 15 tahun.

P2TP2A Siap Dampingi Korban

Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut akan mendampingi SM (14). Termasuk diantaranya menyediakan psikolog untuk mengembalikan mental remaja tersebut.

“Selama proses hukum berlangsung, kami siap mendampingi korban. Termasuk mendatangkan psikolog buat korban. Ini kan permasalahannya menyangkut anak, harus ada tindakan hukum,” tandas Ketua P2TP2A Kabupaten Garut Diah Kurniasari Gunawan. (yna)

loading...