Dinkes Kota Tasik Akan Mendalami Persoalan Pasien

Dokter Dilarang Upload Foto Sembarangan

69

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

TASIK – Kasus foto pasien anak yang diunggah dokter MH masih menggantung. Kedua belah pihak, hingga Senin (5/11) belum melakukan komunikasi untuk menemukan solusi dari persoalan tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya dr Cecep Z Kholis mengatakan secara etika kedokteran, tidak boleh mengunggah foto pasien sembarangan. Kecuali jika ditunjukkan dalam sebuah penyuluhan dan tidak merugikan pasien bersangkutan. “Seharusnya sih tidak boleh di-upload,” ujarnya kepada Radar, kemarin.

Jika mengacu kepada aturan kedokteran, kata dia, dalam sumpah profesi seorang dokter tidak boleh membocorkan rahasia pasien. Foto merupakan salah satu data yang harus menjadi rahasia dokter. “Foto itu kan termasuk data pasien,” terangnya.

Terkait persoalan yang menyangkut dokter MH, Cecep mengaku belum berani menyatakan sikap, pasalnya belum mengetahui secara detail kejadian tersebut. Pihaknya akan mencari tahu duduk permasalahan dari kejadian secara rinci. “Saya perlu cari tahu dulu,” ujarnya.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya Ato Rinanto mengatakan belum ada perkembangan dalam persoalan tersebut. Pasalnya kedua belah pihak belum melakukan pertemuan dan melakukan musyawarah. “Belum ada komunikasi antara kedua pihak,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Tasikmalaya dr Polar Silumi SpOg belum memberikan klarifikasi terkait persoalan dokter MH. Ketika dihubungi melalui sambungan telepon, dirinya belum memberikan respons.

Diketahui sebelumnya, warga Kampung Gombong RT/RW 04/ 01 Desa Gombong Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya Moch Desfian Risdianto (29), mempersoalkan tindakan salah seorang dokter di Kota Tasikmalaya.

Diketahui dokter tersebut, telah mengunggah foto anaknya di media sosial (medsos). Sehingga menuai komentar yang dianggap mendiskreditkan selaku orang tuanya.

Persoalan itu, kemudian diadukan ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya pada Jumat (2/11). Keluarga berencana melaporkan tindakan dokter berinisial MH ke aparat berwajib.

Kejadian bermula, ketika Selasa (23/10) Desfian membawa anaknya yang berusia 2 tahun ke dokter karena mengalami alergi. Anaknya itu menderita bentol-bentol di bagian kepala, mulut, telinga dan leher. “Oleh dokter pertama, anak saya dirujuk ke salah satu rumah sakit swasta di Kota Tasikmalaya,” ungkapnya saat ditemui Radar, Jumat (2/11).

Di rumah sakit tersebut, anaknya ditangani oleh dokter MH yang merupakan dokter spesialis kulit. Kemudian diperiksa dan diberi resep layaknya pemeriksaan kesehatan pada umumnya. Tanpa ada masalah apapun.

Persoalan muncul keesokan harinya, setelah dia mendapati foto anaknya dalam akun Instagram yang diunggah dokter MH. Desfian menilai dokter MH tidak berhak mengunggah foto anaknya di media sosial tanpa seizin dia selaku orang tua “Kalau pun minta izin, saya tidak akan mengizinkannya. Ini tiba-tiba ramai di medsos,” tegasnya.

Apalagi, foto anaknya yang diposting dokter MH mendapat komentar negatif. Termasuk tanggapan dokter MH pada salah satu komentar yang menyebutkan “Gue Pengen Nakol Ibunya”. “Itu mendiskreditkan saya, menurut saya itu kata-kata yang tidak pantas,” katanya.

Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya Ato Rinanto menjelaskan saat pengambilan foto anak, dokter MH memang meminta izin kepada orang tuanya. Namun tidak disangka foto tersebut diunggah di media sosial. “Karena kondisi anak alerginya cukup parah, dokter meminta izin untuk mengambil foto. Dan orang tua mengizinkan, karena menilai untuk dokumentasi medis. Tahu-tahu muncul di medsos,” terangnya.

Meski dalam postingan tersebut tidak disebutkan identitas anak dan cenderung berisi konten himbauan, kata Ato, hal itu sudah melanggar kode etik kedokteran. “Pada prinsipnya gambar yang sudah diambil bukan untuk dipublikasikan, terlebih di media sosial. Seharusnya foto tersebut menjadi rahasia seorang dokter,” paparnya.

Saat ini, pihaknya masih mengkaji kasus tersebut untuk mengambil langkah lebih lanjut. “Sejauh ini orang tua ingin menempuh jalur hukum dengan melaporkannya ke pihak berwajib. Tapi kami masih mendalami,” kata dia.

Ato mengaku tidak ingin bertindak gegabah tanpa ada pengkajian secara hukum terlebih dahulu. Meskipun dia menilai tulisan dokter MH dalam komentarnya sudah tergolong bullying. “Kami akan mendiskusikan dan membedah secara mendalam,” paparnya.

Saat dikonfirmasi, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Tasikmalaya dr Polar Silumi SpOg mengaku sudah mendengar informasi permasalahan tersebut. Namun pihaknya enggan menyimpulkan dan perlu klarifikasi dari dokter MH tentang tuduhan itu. “Saya baru tahu hari ini (4/10), saya mau minta konfirmasinya dulu (ke dokter MH, Red) kronologinya seperti apa,” katanya saat dihubungi melalui sambungan telepon Minggu (4/11). (obi/rga)

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.